HTI Kalsel Gelar Bedah Buku "Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning"


Sebagian kaum muslim masih belum memahami sistem Khilafah Islamiyah. Mereka sering salah, bahkan dalam penyebutan. Contohnya Khilafah disebut Khilafiyah, padahal dari sisi arti sangat jauh berbeda. Ditambah adanya propaganda dan isu menyesatkan seputar Khilafah Islamiyah yang dihembuskan oleh kaum kafir - melalui antek-anteknya - seperti tidak wajibnya Khilafah Islamiyah, Rasulullah saw belum menetapkan sistem dan struktur pemerintahan baku kepada umat Islam, larangan mendirikan kembali Khilafah Islamiyah, sistem demokrasi harga mati, yang semakin mengaburkan pemahaman kaum muslim saat ini.


Untuk meluruskan hal tersebut, HTI Kalsel menggelar bedah buku "Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning" di Mesjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin, Minggu (27/4). Acara ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Fathiy Syamsudin Ramadhan An Nawy(penulis buku), Wahyudi Al Maroky (Direktur Pamong Institute, Jakarta) dan H. Asfiani Nurhasani, Lc (Ulama Kalsel).

Penulis buku, Syamsudin Ramadhan mengungkapkan buku ini untuk menggugah kaum muslim agar memahami Khilafah Islamiyah sebagai kewajiban paling penting dari sekian banyak kewajiban penting lainnya di dalam Islam. Lantaran, Khilafah Islamiyah merupakan satu-satunya metode syar'i untuk menerapkan Islam secara sempurna dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Ia berharap dengan hadirnya buku ini, fitnah dan propaganda murahan para kaum kafir melalui antek-anteknya dapat terjungkal di bawah hujjah yang benar dan kuat.

"Semoga dengan hadirnya buku ini, juga dapat memberikan semangat kepada para ulama dan umat Islam untuk segera berjuang menegakkan kembali Khilafah Islamiyah," harapnya.

Pembedah buku pertama, Wahyudi Al Maroky menjelaskan perbandingan antara sistem demokrasi dan sistem Khilafah Islamiyah. Menurutnya, demokrasi itu anak kandung Kapitalisme yang lahir dari akidah Sekuler di negeri Barat. Sistem ini menuai kritik, salah satunya, pernyataan mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill bahwa "Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan".



"Jika tokoh Barat saja mengkritik Demokrasi, Bagaimana kita? Sangat aneh jika para ulama dan pemimpin umat yang seharusnya menyampaikan Islam, namun malah ikut menyebarkan demokrasi," katanya.


Sedangkan, Khilafah Islamiyah itu adalah warisan Nabi SAW. Umat Islam seharusnya mengambil warisan Nabi dan mengembalikan Demokrasi kepada pemiliknya yakni Barat.

Pembedah buku kedua, H. Asfihani Nurhasani, Lc menyampaikan kehadiran buku ini sangat mencerahkan pemikiran para ulama, khususnya dan kaum muslim pada umumnya. Ia menyarankan perlunya dibentuk kajian-kajian khusus untuk mempelajari sistem Khilafah Islamiyah berdasarkan dalil dan fakta sejarah. Selain itu, umat Islam diminta agar menjaga para ulama agar tidak terlibat dalam sistem Demokrasi.

Setelah penyampaian ketiga pembicara, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Acara ini dihadiri beberapa tokoh, antara lain KH. Husin Nafarin, Ketua MUI Kota Banjarmasin KH. Murjani Sani, Perwakilan Kementerian Agama Kota Banjarmasin, para ulama, para mubaligh dan mubalighoh, serta ribuan umat Islam. [] (Dini/Kontributor Muslimah Media Center)



Ingin Mengkaji Islam bersama Hizbut Tahrir Indonesia ? Silahkan Isi Formulir Disini (click)
HTI Kalsel Gelar Bedah Buku "Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning" HTI Kalsel Gelar Bedah Buku "Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyah Menurut Kitab Kuning" Reviewed by Banua Syariah on 9:43:00 PM Rating: 5