Inilah 10 Perusahaan Pengeruk Laba Dibalik Perang

Invasi Zionis Israel ke Gaza-Palestina hingga kini belum berakhir. Ribuan rakyat Gaza menjadi korban kebrutalan agresi negara zionis itu ke pemukiman penduduk muslim Palestina.

Dilansir republika online, Kementerian kesehatan Palestina mengungkapkan jumlah korban dalam serangan Israel meningkat menjadi 1.363 korban jiwa.

Xinhua yang dilansir Deccan Herald, Jumat (31/7) melaporkan korban baru termasuk 315 anak-anak dan 166 wanita. Sementara itu 7.600 warga Palestina juga terluka. Mereka di antaranya 2.307 anak-anak dan 1.529 perempuan. Lebih dari 240 ribu warga Palestina atau satu dari delapan warga Gaza juga mengungsi.

Kementerian menambahkan 15 anggota stafnya ikut meninggal dunia dan 16 lainnya luka-luka dalam serangan Israel. 13 rumah sakit, tujuh pusat perawatan dan sembilan ambulans juga rusak terkena hantaman Israel.

Dalam upayanya meluluhlantakkan Palestina, Israel sepertinya sudah kesurupan. Pasukan negara zionis ini telah menyiapkan 16 ribu pasukan cadangan tambahan untuk meningkatkan militernya sehingga jumlah tentara cadangan Israel menjadi 86 ribu orang.

Di balik kepiluan setiap peperangan, bisnis alat persenjataan dan jasa militer sangat menguntungkan. Dari 100 kontraktor terbesar di bidang perang, terhimpun penjualan mencapai US$410 miliar.

Dilansir Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), 10 perusahaan di antaranya berhasil meraup US$208 miliar dari menjual senjata, perlengkapan perang, dan jasa militer.

Sepuluh perusahaan ini telah mendapatkan keuntungan dari membengkaknya pengeluaran militer AS, sebagai negara dengan anggaran militer terbesar di dunia. Pada 2010, anggaran pertahanan AS mencapai US$312 miliar dan pada 2011 melonjak menjadi US$712 miliar.

Perdagangan senjata tumbuh tertinggi, yaitu 51 persen di antara 2002 dan 2011. Walaupun terjadi lonjakan, penjualan senjata pada 2011 turun 5 persen dibanding 2010. Berbagai negara di Eropa Barat dan Amerika Serikat telah melakukan penghematan anggaran sistem senjata mereka.

Pemotongan anggaran AS pada 2013 berdampak besar pada bisnis peralatan militer, ditambah pasukan AS telah menarik diri dari Irak dan Afghanistan sejak Desember 2011.

Kontraktor militer lalu mengalihkan pasarnya ke Amerika latin, Timur Tengah, dan Asia. Berikut 10 perusahaan militer yang meraup keuntungan terbesar dari perang seperti dilansir USAToday, diurut dari posisi buncit hingga pertama:

10. United Technologies

Total penjualan: US$58,2 miliar
Laba kotor: US$5,3 miliar
Penjualan senjata: US$11,6 miliar
Total pekerja: 199.900 orang

United Technologies memproduksi berbagai senjata dan helikopter, terutama militer. Salah satunya adalah helikopter Black Hawk untuk US Navy. Penjualan senjata menyumbang 20 persen pendapatan perusahaan. Selain senjata, perusahaan juga memproduksi lift, eskalator, penyejuk udara dan lemari es yang menyumbang 60 persen pendapatan perusahaan pada 2012.

9. L-3 Communication

Total penjualan: US$15,2 miliar
Laba kotor: US$956 juta
Penjualan senjata: 12,5 miliar
Total pekerja: 61.000 orang

83 persen penjualan perusahaan ditopang oleh senjata. Perusahaan memiliki empat segmen usaha, sistem elektronik, modernisasi dan perawatan pesawat, penyedia keamanan nasional. Memproduksi pesawat tanpa awak untuk komando, kontrol, komunikasi, intelejen, pengawasan dan pengintaian.

8. Finmeccanica

Total penjualan: US$24,1 miliar
Laba kotor: US$3,2 miliar
Penjualan senjata: US$14,6 miliar
Total pekerja: 70.470 orang

Perusahaan asal Italia ini memproduksi berbagai jenis senjata, termasuk pesawat, senjata artileri, kendaraan tempur hingga rudal. 60 persen penjualan perusahaan disumbang dari senjata. Perusahaan ini terkena kasus penyuapan kepada pemerintah India dalam pengadaan 12 helikopter militer pada 2010 lalu.

7. The European Aeronautic Defense and Space Company (EADS)

Total penjualan: US$68,3 miliar
Penjualan senjata: US$16,4 miliar
Laba kotor: US$1,4 miliar
Total pekerja: 133.120 orang

EADS berbasis di belanda dengan penjualan yang stabil. Perusahaan memproduksi pesawat, elektronik, dan rudal. 24 persen pendapatan disumbang dari senjata. Sempat mau merger dengan BAE Systems untuk membuat perusahaan dirgantara terbesar di dunia senilai US$45 miliar namun gagal.

6. Northrop Grumman


Total penjualan: US$26,4 miliar
Laba bersih: US$2,1 miliar
Penjualan senjata: US$21,4 miliar
Total pekerja: 72.500 orang

Sebanyak 81 persen pendapatan perusahaan dari jualan senjata. Saat ini perusahaan tengah mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya proyek-proyek pertahanan AS.

5. Raytheon


Total penjualan: US$24,9 miliar.
Laba kotor: US$1,9 miliar.
Penjualan senjata: US$22,5 miliar.
Total pekerja: 71.000 orang.

Raytheon adalah salah satu perusahaan pertahanan dan militer terbesar di Amerika Serikat. Salah satu produk militer yang terkenal adalah rudal penjelajah Tomahawk yang telah terbukti keampuhannya di berbagai medan perang.

Penjualan senjata menguasai 90 persen pendapatan perusahaan. Raytheon juga merupakan salah satu perusahaan yang terkena dampak pemotongan anggaran pertahanan AS. Total penjualan turun 1,5 persen pada 2012 dan diproyeksikan turun 3 persen pada 2013. Perusahaan mengharapkan terjadi kenaikan 5 persen dari penjualan senjata internasional pada 2013.

4. General Dynamics


Total penjualan: US$32,7 miliar.
Laba kotor: US$2,5 miliar.
Penjualan senjata: US$23,8 miliar.
Total pekerja: 95.100 orang.

Berhasil meraup 18 ribu transaksi pada 2011, General Dynamics adalah kontraktor terbesar ketiga bagi pemerintah AS. Perusahaan meraup US$12,9 miliar dari kontrak dengan Angkatan Laut AS dan US$4,6 miliar dari Angkatan Darat AS.

Perusahaan ini membuat berbagai produk militer, dari kapal listrik, mobil militer, dan tank tempur. Namun, saat ini, perusahaan akan memutus hubungan kerja dengan sejumlah karyawan akibat dampak pemotongan anggaran.

3. BAE Systems


Total penjualan: US$30,7 miliar.
Laba kotor: US$2,3 miliar.
Penjualan senjata: US$29,2 miliar.
Total tenaga kerja: 93.500 orang.

BAE System adalah perusahaan non-AS terbesar berdasarkan penjualan senjata. Sekitar 95 persen pendapatan perusahaan disumbang dari penjualan senjata. Produknya antara lain pesawat jet latih Hawk, dan Indonesia tercatat salah satu penggunanya sejak 1980.

2. Boeing

Total penjualan: US$68,7 miliar.
Laba kotor: US$4 miliar.
Penjualan senjata: US$31,8 miliar.
Total pekerja: 171.700 orang.

Terkenal dengan berbagai produk pesawat komersial, Boeing juga membuat berbagai produk militer. Boeing merupakan kontraktor terbesar kedua bagi pemerintah AS, dengan memproduksi berbagai senjata termasuk rudal berpanduan laser dan optik.

Kontribusi penjualan senjata bagi pendapatan Boeing sebesar 46 persen. Selain terkait peralatan militer dan pesawat komersial, Boeing juga dikenal dengan teknologi luar angkasa.

1. Lockheed Martin.

Total penjualan: US$46,5 miliar.
Laba kotor: US$2,7 miliar.
Penjualan senjataL US$36,3 miliar.
Total pekerja: 123.000 orang.

Nama Lockheed Martin di industri militer sudah mendunia dengan berbagai macam produk dari pesawat tempur, pesawat tanpa awak, kapal perang, rudal hingga sistem radar. Beberapa produknya yang legendaris dalam dunia militer adalah C-130 Hercules dan F-16 yang juga digunakan militer Indonesia.

Perusahaan dan para karyawan saat ini tengah khawatir dengan efek pemotongan anggaran pertahanan AS yang signifikan, karena 78 persen pendapatan perusahaan disokong dari penjualan senjata. [www.banuasyariah.com]

Sumber : viva news 




Foto-foto Korban Penduduk Gaza-Palestina akibat invasi Zionis Israel











Inilah 10 Perusahaan Pengeruk Laba Dibalik Perang Inilah 10 Perusahaan Pengeruk Laba Dibalik Perang Reviewed by Beri Mardiansyah on 3:53:00 AM Rating: 5