Belasan Ribu Sarjana Tak Punya Pekerjaan, Jumlahnya Dua Kali Lipat Lulusan SLTA

Dia menyebut, pada 2013, jumlah pencari kerja SD hanya 24 orang, SMP 52 orang, dan SMA mencapai 5.789 orang. Tapi, jumlah lulusan S-1 dan S-2 yang menganggur mencapai 11.612 orang. Itu berarti dua kali lebih banyak daripada total pengangguran lulusan SD, SMP, maupun SMA sederajat.
SURABAYA - Problem pengangguran sepertinya masih akan menjadi persoalan pelik.  Betapa tidak, dari hari ke hari, jumlah pengangguran semakin meningkat.  Ironisnya, angka pengangguran tahun ini didominasi mereka yang notabene memiliki latar pendidikan sarjana.

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Surabaya menyebut para sarjana yang jobless sebagai pengangguran terdidik. Pada 2013, ada 11.612 lulusan S-1 dan S-2 yang tidak bekerja. Hingga Juni atau pertengahan 2014 ini saja, diperkirakan ada 11.568 orang. Mereka berusia antara 20 hingga 29 tahun. Disnaker memperkirakan jumlahnya bakal membengkak pada akhir tahun.

"Pengangguran terdidik memang paling banyak," ujar
Kabid Penempatan, Pembinaan, dan Pengembangan Tenaga Kerja Disnaker Surabaya Irna Pawanti seperti dikutip laman JPNN, Jumat (24/10/2014).


Dia menyebut, pada 2013, jumlah pencari kerja SD hanya 24 orang, SMP 52 orang, dan SMA mencapai 5.789 orang. Tapi, jumlah lulusan S-1 dan S-2 yang menganggur mencapai 11.612 orang. Itu berarti dua kali lebih banyak daripada total pengangguran lulusan SD, SMP, maupun SMA sederajat.

Irna menyebut, paradigma tentang pengangguran semakin berubah. Dulu pengangguran identik dengan warga berpendidikan rendah. Sekarang sebaliknya. Sarjana yang menganggur justru lebih banyak. "Sarjana bisa menganggur setahun sampai dua tahun. Bejo-bejoan tiga tahun," katanya.

Hanya, ingat Irna, peningkatan jumlah sarjana menganggur bukan karena sedikitnya lowongan pekerjaan. Yang paling mencolok ialah hasil pendidikan yang tidak optimal. Meski sarjana, mereka tidak siap masuk dunia kerja, terutama industri. "Dunia pendidikan dan industri beda. Mereka tidak siap," tegasnya.

Irna mencontohkan ketidakmampuan para sarjana dalam membuat lamaran pekerjaan yang "menjual" dirinya. Karena itulah, dia mengusulkan materi kurikulum lain ke lembaga pendidikan. Yaitu, pelatihan kompetensi, soft skill, maupun attitude.

"Kami usulkan materi itu ke dispendik. Pilot project-nya di tingkat pertama dulu. Soft skill harus di-treatment sejak siswa awal masuk. Bukan setelah lulus," ungkapnya.

Disnaker berupaya mengentaskan pengangguran terdidik. Kini ada Tim Penyelarasan Dunia Pendidikan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Laras Dikdudi) Surabaya. Anggotanya adalah disnaker, ITS, sekolah kejuruan, dan bappeko.

Tim itu dibentuk untuk memfasilitasi agar alumni pendidikan bisa memenuhi standar dunia industri. Lalu, sarjana bisa mengetahui kebutuhan kompetensi dunia kerja. "Kepribadian dibentuk empat tahun kuliah. Kalau bisa, sejak awal, soft skill kerja sudah diajarkan," kata Irna.

Namun, tim itu masih menggodok sistem. Meski begitu, Irna optimistis Tim Laras Dikdudi bisa menelurkan masukan ke dinas pendidikan. Dia berharap sistem itu mampu mengubah kondisi. Banyak mahasiswa yang dipinang perusahaan sebelum lulus. Mereka siap menghadapi dunia industri.

Cara lain adalah mengadakan bursa kerja dan pelatihan kerja gratis. Menurut Irna, sebenarnya setiap SMK dan kampus berkewajiban menyalurkan siswa ke dunia industri. Persoalannya, selama ini siswa SMK hanya mendapat pembekalan saat kelas XII. Padahal, seharusnya minimal mulai kelas X.

Setiap perguruan tinggi memiliki pusat pencarian kerja (PPK). Idealnya, alumni bisa disalurkan lewat PPK. Namun, buktinya justru semakin banyak bursa kerja yang diselenggarakan pihak luar. "Kalau banyak pengangguran, berarti alumninya tidak menjual. Enggak laku," ujarnya.

Irna berharap kampus segera sadar dengan kondisi itu. Jika tidak, pengangguran terdidik semakin meningkat. Apalagi Surabaya akan menghadapi AFTA. Persaingan semakin ketat. Karena itu, dia meminta PPK bergerak aktif. Misalnya, menjalin kerja sama dengan perusahaan.

Disnaker juga memiliki tim khusus untuk penuntasan pengangguran. Yakni, Tim Pengantar Kerja. Irna mengatakan, begitu seorang pencari kerja mendatangi kantor disnaker, dia langsung menerima treatment tertentu. Mereka akan menerima surat terdaftar sebagai pencari kerja (AK 1). Lalu, diwawancarai minat dan bakatnya (AK 2). Kemudian, diberi informasi loker sesuai bidang pendidikan yang tersedia (AK3). "Supaya masuk 'kamar' yang benar. Realitasnya, kalau mendaftar beda latar belakang pendidikan, berkasnya dibuang," tuturnya.

Kemudian, mereka akan dipanggil jika ada perusahaan yang sesuai (AK4). Akhirnya, pencari kerja akan menerima AK5 yang berisi surat pengantar dan rekomendasi ke perusahaan.

Kepala Disnaker Surabaya Dwi Purnono menambahkan, Disnaker Surabaya juga sudah berkoordinasi dengan Disnaker Jatim untuk menuntaskan masalah pengangguran. Yakni, membuat job fair hingga lima kali dalam setahun. Dia juga mengaku sudah menyiapkan anggaran khusus dari APBD.


Menteri Tenagakerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar jelang akhir tahun 2013 lalu pernah mengungkapkan, sebanyak 610 ribu dari total 7,17 juta pengangguran terbuka di Indonesia, adalah "pengangguran intelektual" atau dari kalangan lulusan universitas.

"Dalam pendataan BPS, ada 610 ribu 'pengangguran intelektual' di Indonesia. Ini bisa dikategorikan darurat SDM (sumber daya manusia), karena mereka seharusnya bisa berkarya untuk negeri," kata Muhaimin Iskandar, seperti dikutip laman Tribunes.

Rincinya, kata Muhaimin, 190 ribu dari 610 ribu pengangguran intelektual itu adalah lulusan pendidikan diploma I/II/III. Sementara lulusan strata I universitas yang menganggur mencapai 420 ribu orang.



Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2014 lalu tercatat sebesar 5,70 persen, turun dibanding periode Agustus 2013 yang mencapai 6,13 persen, maupun periode Februari 2013 yang sebesar 5,82 persen.


Meski demikian, data Survei Ketenagakerjaan BPS periode Februari 2014 menunjukkan, jumlah penduduk angkatan kerja di Indonesia mencapai 125,32 juta, naik dibanding periode Agustus 2013 yang sebanyak 120,17 juta. Jumlah penduduk yang masuk kategori bekerja juga naik, yakni mencapai 118,17 juta (periode Agustus 2013 sebanyak 112,76 juta). Adapun jumlah pengangguran yang kini tercatat turun ke posisi 7,15 juta orang (periode Agustus 2013 sebanyak 7,41 juta orang).

”Data ini dihitung berdasar penduduk usia 15 tahun ke atas,” katanya seperti dikutip dari laman Jawa Pos, kemarin.


Meski tingkat pengangguran terbuka menunjukkan penurunan, kata Suryamin, pemerintah harus bekerja lebih keras untuk mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Sebab, masih ada 36,97 juta penduduk yang masuk kategori pekerja tidak penuh, yang terdiri dari 10,57 juta orang setengah penganggur dan 26,40 juta lainnya pekerja paruh waktu. 

”Kondisi mereka ini rentan. Jika ada guncangan ekonomi, bisa terdorong ke kategori pengangguran terbuka,” ucapnya. 

Dari sisi sektoral, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja tertinggi di Indonesia dengan daya serap hingga 40,83 juta orang. Kemudian disusul sektor perdagangan yang menyerap 25,81 juta orang, lalu sektor jasa kemasyarakatan sebanyak 18,48 juta orang. Kemudian sektor industri sebanyak 15,39 juta orang. Berikutnya, sektor konstruksi 7,21 juta orang, sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi 5,33 juta orang, sektor keuangan 3,19 juta orang, dan sektor lainnya 1,93 juta orang.  [*]


Belasan Ribu Sarjana Tak Punya Pekerjaan, Jumlahnya Dua Kali Lipat Lulusan SLTA Belasan Ribu Sarjana Tak Punya Pekerjaan, Jumlahnya Dua Kali Lipat Lulusan SLTA Reviewed by Banua Syariah on 2:46:00 PM Rating: 5