Ratusan Keluarga Besar HTI Banjarbaru Shalat Iduladha Hari ini

Hari ini keluarga besar Hizbut Tahrir Indonesia Kota Banjarbaru menggelar shalat Iduladha 1435 H
BANJARBARU - Ratusan keluarga besar Hizbut Tahrir Indonesia Kota Banjarbaru hari ini melaksanakan shalat Iduladha 1435 H, Sabtu (4/10/2014).

Shalat hari raya qurban keluarga besar HTI dan warga Banjarba itu digelar di halaman Rumah Dinas BMKG Kalsel di Jl Karang Anyar 1 Loktabat Utara Kota Banjarbaru.


Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Kota Banjarbaru, Ust Muhammad Ubaidillah MPd dalam khutbah Iduladha 1435 H kemarin menyatakan, tanpa Khilafah umat Islam terpecah belah.
Padahal menurutnya, umat islam adalah ummah waahidah (umat yang satu). Umat yang memiliki akidah dan syariah yang sama. Umat yang satu dengan lainnya ditetapkan Allah SWT sebagai saudara. Umat Islam digambarkan Rasulullah saw laksana satu tubuh.


"Ukhuwah yang demikian kuat itu hanya dapat diwujudkan secara nyata ketika ada yang menyatukan umat dalam satu daulah," ujarnya.


Sebaliknya tegas Ubaidillah, tiadanya khilafah menyebabkan umat Islam tercerai berai dalam banyak negara. Masing-masing negara sibuk dengan urusannya sendiri tak peduli dengan nasib lainnya.


Sehingga katanya, sungguh amat menyedihkan jika ada yang mengaku sebagai muslim dan bagian umat Islam namun menolak, membenci, bahkan menentang khilafah.


"Padahal khilafah adalah ajaran islam. Esensi Khilafah adalah ukhuwah, syariah dan dakwah. Khilafah merupakan kewajiban syar'i. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai taaj al-furuudh (mahkota kewajiban,red)," ungkapnya.


Disisi lain, Ust Ubaidillah juga mengungkapkan pada hari raya ini biasanya  juga diingatkan tentang kisah keteladanan khalilulLâh Ibrahim as. dan putranya Ismail as. yang luar biasa. Keduanya menunjukkan ketundukan dan ketaatan total pada perintah Allah SWT.
Ketika Ibrahim as. diperintahkan untuk menyembelih putranya, mereka berdua tunduk dan patuh. Tak ada keberatan sedikit pun. Atas ketundukan dan ketaatan itu, mereka pun diberi balasan yang besar di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَـٰدَيْنَـٰهُ أَن يَـٰٓإِبْرَ‌ٰهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَ‌ٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَـٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَـٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍۢ ﴿١٠٧﴾

Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih kamu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis-(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Kami panggillah dia, “Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (TQS ash-Shaffat [37]: 102-107).

Teladan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. itu sungguh sangat berarti bagi kita sekarang dalam menjalankan perintah Allah untuk menerapkan syariah-Nya secara kaffah, termasuk kewajiban memutuskan perkara dengan hukum-Nya sebagaimana ditegaskan Allah SWT:

﴿وَأَنِ ٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَٱحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ﴾

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah turunkan kepada kamu (TQS al-Maidah [5]: 49).

Dalam ayat ini, Allah SWT memerintah Rasul saw. untuk memutuskan perkara dengan wahyu-Nya. Perintah tersebut juga berlaku bagi kita, umat beliau. Mafhum dari ayat ini, hendaknya umat Islam mewujudkan seorang hakim setelah Rasulullah saw. untuk memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya. Perintah ini tegas. Obyek seruannya adalah wajib. Hakim yang memutuskan perkara di tengah kaum Muslim setelah wafatnya Rasulullah saw. tidak lain adalah Khalifah. Sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah.


Tugas utama Khilafah adalah iqâmah ahkâm asy-syar’i al-islâmî (menegakkan hukum syariah Islam). Memang ada sebagian hukum syariah yang dapat dan harus dijalankan oleh individu. Namun, tidak sedikit hukum syariah yang hanya bisa dijalankan oleh Khilafah. Dengan demikian esensi Khilafah adalah penegakan syariah secarakaffah. Ketika itu terjadi, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ ﴿١٠٧﴾

Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah SWT itu akan terwujud melalui penerapan syariah di bawah sistem Khilafah. Khilafah hanya akan membawa kebaikan untuk negeri ini dan penduduknya, Muslim dan non-Muslim. Karena itu menganggap Khilafah membawa masalah bagi negeri ini hanyalah bentuk kebodohan dan kecerobohan yang tidak selayaknya keluar dari seorang Muslim.

Sungguh menyesatkan jika ada yang mengatakan bahwa Khilafah berbahaya bagi negeri ini. Mereka yang mengatakan demikian telah memutarbalikkan fakta. Fakta sesungguhnya, sistem sekular-kapitalis-liberallah yang telah mendatangkan bahaya dan bencana bagi negeri ini. Bukankah sistem sekular-kapitalis-liberal itulah yang telah membuat negeri ini terjajah secara politik, ekonomi, budaya dan pemikiran? Bukankah sistem dari Barat itu yang membuat kekayaan alam negeri ini dikuras habis oleh negara-negara kafir penjajah? Bukankah sistem yang diimpor dari Barat itu yang menyebabkan negeri ini dilanda berbagai persoalan tak berkesudahan dalam semua aspek kehidupan?

Tugas Khilafah lainnya adalah hamlu ad-da`wah al-islâmiyyah ilâ al-‘âlam (mendakwahkan Islam ke seluruh dunia). Dengan Khilafah, Islam dapat tersebar luas di berbagai penjuru dunia dengan cepat. Sejarah telah membuktikan realitas tersebut.

Selama 13 tahun Rasulullah saw. berdakwah di Makkah, hanya sedikit penduduknya yang masuk Islam. Namun, setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, seluruh Jazirah Arab bisa dikuasai dan penduduknya berbondong-bondong masuk Islam. Padahal di Madinah Rasulullah saw. hanya 10 tahun. Mengapa demikian? Karena di Madinah telah tegak Daulah Islamiyah (Negara Islam)! Dengan dawlah (negara), Islam tak hanya diemban dan disebarkan ke seluruh dunia dengan dakwah, namun juga dengan jihad fî sabîlil-Lâh.

Tugas mengemban dakwah Islam ini terus dilanjutkan oleh para khalifah sesudah Rasullah saw. Berkat dakwah mereka, Islam bisa tersebar luas di dunia, termasuk sampai ke negeri ini. Sebagian dari para ulama yang disebut Walisongoadalah utusan Khalifah yang dikirim untuk berdakwah ke negeri ini. Kekuasaan Samudera Pasai adalah bukti nyata, bahwa dakwah Islam melalui Khilafah mempengaruhi perkembangan sosial politik di kawasan Sumatera bagian Utara. Bukan hanya di wilayah Aceh, kekuasaan politik Islam juga berdiri di berbagai tempat di Jawa (Kesultanan Cirebon, Demak, Mataram, Gresik dan lainnya), juga di kawasan Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Penduduk mayoritas negeri ini adalah Muslim. Kemusliman itu amat berpengaruh dalam dinamika kehidupan bangsa dan negeri ini, termasuk dalam tahap-tahap awal perjuangan kemerdekaan. Semua tidak bisa lepas dari jasa para khalifah dulu yang tak henti mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke negeri ini.
Ketiga esensi Khilafah itu—ukhuwah, syariah dan dakwah—hanya bisa diwujudkan dengan tegaknya Khilafah Rasyidah‘alâ minhâj al-nubuwwah. Itulah sistem pemerintahan yang diwajibkan Allah SWT kepada kita.

Terhadap kewajiban tersebut, tidak ada kata lain bagi kita kecuali tunduk sami’nâ wa atha’nâ. Itulah ciri seorang Mukmin yang sejati. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٥١﴾

Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, jika mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS an-Nur [24]: 51).

Spirit sami’nâ wa atha’nâ sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. jelas membutuhkan pengorbanan. Dalam konteks ini, kita patut bertanya kepada diri kita sendiri: sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, melaksanakan kewajiban penerapan syariah Islam dan memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan?

Jika kini kita bersegera dan dengan ringan memenuhi perintah berkurban, padahal itu menurut jumhur fukaha hukumnya sunnah, maka semestinya kita lebih bersegera dan dengan lebih ringan menerapkan syariah Islam dan memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan. Sebab, menerapkan syariah Islam hukumnya wajib. Hal itu hanya sempurna di dalam sistem Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

Sekaranglah saatnya kita menorehkan kemuliaan dengan berjuang sungguh-sungguh dan berkurban untuk menegakkan Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah akan menerapkan seluruh hukum syariah yang akan mendatangkan kerahmatan untuk umat manusia dan alam semesta.

Semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslim dengan tegaknya Khilafah ar-Rasyidah‘alâ minhâj al-nubuwwah dalam waktu dekat. Semoga pula kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, berjuang penuh kesungguhan dan berkurban penuh keikhlasan dalam rangka mewujudkan penerapan syariah dan tegaknya Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
   
[banuasyariah.com]






Ratusan Keluarga Besar HTI Banjarbaru Shalat Iduladha Hari ini Ratusan Keluarga Besar HTI Banjarbaru Shalat Iduladha Hari ini Reviewed by Banua Syariah on 4:03:00 PM Rating: 5