17 Karaoke Kepung Kota Banjarbaru

Julukan kota pendidikan yang sempat disematkan kepada Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan seperti sudah usang. Setelah Walikota mengubah visinya menjadi Kota Pelayanan, nyaris semua aktifitas di Kota ini benar-benar dilayani. Termasuk melayani tempat maksiat seperti karaoke dan tempat hiburan lainnya.   Menurut data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olaharaga Kota Banjarbaru, tercatat sedikitnya ada 17 karaoke beroperasi di wilayah yang luasanya tak lebih dari 37.130 ha ini (lihat wikipedia).
BANJARBARU – Julukan kota pendidikan yang sempat disematkan kepada Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan seperti sudah usang. Setelah Walikota mengubah visinya menjadi Kota Pelayanan, nyaris semua aktifitas di Kota ini benar-benar dilayani. Termasuk melayani tempat maksiat seperti karaoke dan tempat hiburan lainnya.

Menurut data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olaharaga Kota Banjarbaru, tercatat sedikitnya ada 17 karaoke beroperasi di wilayah yang luasanya tak lebih dari 37.130 ha ini (lihat wikipedia).

Pengamat Pendidikan dan Tata Ruang Tri Hayat Ariwibowo seperti dilansir harian Radar Banjarmasin, (3/3/2015) mengungkapkan, geliat Kota Banjarbaru sebagai ibu kota Pemerintahan Provinsi Kalsel menujukkan perkembangan yang luar biasa setiap tahunnya.

Menurutnya, kini Banjarbaru berkembang sebagai kota yang hampir tidak pernah tidur dari kegiatan warganya. Secara lahiriah dapat dilihat pertambahan jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Lapangan Murjani dan sekitarnya sebagai sentral kegiatan sosial, ekonomi, politk dan budaya hampir tidak pernah sepi.

Berbagai event sering dilaksanakan dan selalu dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan orang. Tidak ketinggalan pusat perbelanjaan, minimarket, ruko dan warung-warung turut penuh sesak dengan warga yang berbelanja ataupun hanya sekedar cuci mata. “Begitu juga dengan dunia hiburan yang kini semakin menjamur,” ucapnya yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala SMAN 3 Banjarbaru dan Ketua Karang Taruna Banjarbaru itu.

Khusus tempat hiburan berbentuk karaoke dan billiar. Kehadiran tempat-tempat hiburan ini dipandang sebagai kebutuhan dan sebagai ekses dari kemajuan suatu kota. Namun yang patut disayangkan tegas Tri Hayat adalah penataan atau tata letak tempat-tempat hiburan tersebut yang seakan mengesampingkan keindahan kota ataupun tata ruang.

Misalnya saja untuk tempat hiburan karaoke setidaknya terdapat 17 tempat di Kota Banjarbaru. Kehadiran tempat karaoke tersebut semakin membuat “ribut” kota Banjarbaru.

“Tidak berlebihan jika beberapa waktu lalu MUI bersama ormas Islam secara tegas menolak kehadiran tempat-tempat hiburan dan meminta Pemko Banjarbaru untuk meninjau ulang ijin dan tempat,” ucapnya.

Sayangnya kata Tri Hayat, peringatan itu nampaknya hanya angin lalu dan tidak ada tindakan nyata dari Pemkot Banjarbaru. Terbukti sampai sekarang tempat-tempat hiburan tersebut masih “nyaman” beroperasi.

Padahal secara jelas menurutnya, dalam pengelolaan tata ruang dan lingkungan berdasarkan pada UU nomor 25 tahun 2004 dan UU nomor 26 Tahun 2007. UU 25 tentang sistem perencanaan pembangunan merupakan payung hukum bagi pelaksanaan perencanaan pembangunan dalam rangka menjamin tercapainya tujuan negara, yang digunakan sebagai arahan di dalam sistem perencanaan pembangunan secara nasional. Menurut undang-undang tersebut, rencana pembangunan terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

“Nah ini termasuk sebagai dasar dalam pembuatan Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kota Banjarbaru,” pungkasnya.

Itu dari segi tata ruang. Dari segi moralitas-agama sendiri, menjamurnya karaoke di Kota Idaman ini menurut Pimpian Pondok Pesantren Darul Ilmu KH Himron Mahmud sangat merusak moralitas warga.

“Itu banyak mudaratnya, dari pada manfaatnya. Jelas sangat merusak moral, apalagi jika yang datang ke sana adalah pelajar dan mahasiswa,” pungkasnya.

Di Liang Anggang sendiri ungkapnya pernah akan dibangun karaoke. Namun dengan tegas tokoh agama di Liang Anggang, baik itu dari Al Falah, Darul Ilmu dan lainnya menolak dengan tegas pembangunan karaoke di zona Barat Kota Banjarbaru. “Dulu sempat mau dibangun, langsung ditolak,” tegasnya.

Ditegaskan pengurus MUI Banjarbaru itu, keberadaan karaoke di Kota Banjarbaru bisa mengarah menjadi sebuah tempat maksiat anak muda. Keberadaannya sangat mengganggu dan mengancam moralitas anak bangsa, karena tempat-tempat hiburan tersebut identik dengan prostitusi dan minuman keras.“Bisa mengarah ke sana, makanya ini harus segera dievaluasi,” pungkasnya.  [*]


Editor : Abu Rafif
17 Karaoke Kepung Kota Banjarbaru 17 Karaoke Kepung Kota Banjarbaru Reviewed by Banua Syariah on 9:04:00 PM Rating: 5