HTI Kalsel: Indonesia Dibawah Cengkraman VOC Gaya Baru

BANJARBARU - DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalimantan Selatan (Kalsel), Ustadz Pujo Nugroho menegaskan Neo Imperialisme yang mengancam Indonesia sejatinya lahir dari cara pandang pemerintah yang liberal. Karenanya tak heran, penjajahan negara-negara asing atas Indonesia pun kini terlihat lebih samar seperti VOC gaya baru.  Presiden RI ke-3 Prof BJ Habibi dalam pidato kebangsaan di Senayan Jakarta kata Pujo, pernah menyatakan saat ini Indonesia tengah dijajah dengan penjajahan VOC gaya baru. Pengalihan kekayaan alam Indonesia ke pihak asing yang saat ini tengah terjadi merupakan bentuk VOC gaya baru.  VOS (Verenigte Oostindische Companie) merupakan sebuah organisasi kamar dagang Belanda yang mengeruk kekayaan tanah Air saat zaman penjajahan.  "Salah satu manifestasinya dalam bidang ekonomi, adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke negara asal. Sehingga rakyat harus membeli dari bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita VOC dengan baju baru," ujarnya mengutip pernyataan BJ Habibi dalam naskah pidatonya di hadapan peserta Halqah Islam dan Peradaban (HIP) bertajuk #IndonesiaKitaTerancam Neo Liberalisme dan Neo Imperialisme di Masjid Al Islah, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Ahad (26/4/2015).
BANJARBARU - DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalimantan Selatan (Kalsel), Ustadz Pujo Nugroho menegaskan Neo Imperialisme yang mengancam Indonesia sejatinya lahir dari cara pandang pemerintah yang liberal. Karenanya tak heran, penjajahan negara-negara asing atas Indonesia pun kini terlihat lebih samar seperti VOC gaya baru.

Presiden RI ke-3 Prof BJ Habibi dalam pidato kebangsaan di Senayan Jakarta kata Pujo, pernah menyatakan saat ini Indonesia tengah dijajah dengan penjajahan VOC gaya baru. Pengalihan kekayaan alam Indonesia ke pihak asing yang saat ini tengah terjadi merupakan bentuk VOC gaya baru.

VOS (Verenigte Oostindische Companie) merupakan sebuah organisasi kamar dagang Belanda yang mengeruk kekayaan tanah Air saat zaman penjajahan.

"Salah satu manifestasinya dalam bidang ekonomi, adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke negara asal. Sehingga rakyat harus membeli dari bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita VOC dengan baju baru," ujarnya mengutip pernyataan BJ Habibi dalam naskah pidatonya di hadapan peserta Halqah Islam dan Peradaban (HIP) bertajuk #IndonesiaKitaTerancam Neo Liberalisme dan Neo Imperialisme di Masjid Al Islah, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Ahad (26/4/2015).

Menurutnya, kondisi ini bisa dilihat dari fakta bahwa hampir seluruh aset negara kita dikuasai asing. Disektor telekomunikasi misalnya, saat ini untuk jasa telah mencapai 65 persen, sementara pengelolaan infrastruktur 100 persen dikuasai asing.

Dominasi asing juga semakin kuat pada sektor-sektor strategis, seperti keuangan, energi dan sumber daya mineral, serta perkebunan. Dikutip laman Kompas.com, per Maret 2011 pihak asing telah menguasai 50,6 persen aset perbankan nasional atau sekitar Rp 1.551 triliun dari total aset perbankan Rp 3.065 triliun dikuasai asing.

Tak hanya perbankan, asuransi juga didominasi asing. Dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi di Indonesia, tak sampai setengahnya yang murni milik Indonesia. Pasar modal juga demikian. Total kepemilikan investor asing 60-70 persen dari semua saham perusahaan yang dicatatkan dan diperdagangkan di bursa efek.

Pada badan usaha milik negara (BUMN) pun begitu. Dari semua BUMN yang telah diprivatisasi, kepemilikan asing sudah mencapai 60 persen. Lebih tragis lagi di sektor minyak dan gas. Porsi operator migas nasional hanya sekitar 25 persen, selebihnya 75 persen dikuasai pihak asing.

Belum lagi sektor pertambangan yang lebih dari 80 persen sudah dikuasai asing. di Sektor perkebunan, penguasaan asing sudah mencapai 50 persen.

"Inilah ciri-ciri negara ini Neo Liberalisme. Neoliberalisme adalah ideologi yang saat ini dijadikan sebagai dasar kebijakan-kebijakan negara oleh penguasa negeri ini, dicirikan dengan adanya pergeseran peran negara hanya sebagai regulator atau pengatur kebijakan dan pemungut pajak," ujarnya.  [banuasyariah.com]

HTI Kalsel: Indonesia Dibawah Cengkraman VOC Gaya Baru HTI Kalsel: Indonesia Dibawah Cengkraman VOC Gaya Baru Reviewed by Banua Syariah on 3:10:00 PM Rating: 5