Ismail Yusanto: Rapat dan Pawai Akbar Bukan untuk Unjuk Kekuatan, Bebaskan Indonesia dari Cengkraman Neoliberalisme dan Neoimperialisme

Tak kurang dari 150.000 peserta hadir dalam Rapat dan Pawai Akbar yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (30/5/2015).  Event pamungkas bertajuk "Bersama Umat Tegakkan Khilafah" ini juga dihadiri peserta dari manca negara.  Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ustadz Ismail Yusanto dalam orasinya dihadapan ratusan ribu umat Islam menegaskan Rapat dan Pawai Akbar (RPA) ini bukanlah bentuk unjuk kekuatan.  Sebab katanya karena tiada daya tiada upaya selain kekuatan Allah SWT.  Namun demikian, event ini juga mensiratkan bahwa perjuangan syariah dan khilafah bukannya tanpa pendukung. Dukungan umat semakin nyata, terbukti dari digelarnya RPA di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Gelora Bung Karno.  "Dan untuk keberhasilan perjuangan syariah dan khilafah, marilah kita tingkatkan kesungguhan, keikhlasan dan kesabaran. Yakinlah dilorong gelap peradaban ini ada secercah cahaya. Itulah cahaya Islam," ungkapnya.
Tak kurang dari 150.000 peserta hadir dalam Rapat dan Pawai Akbar yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (30/5/2015).  Event pamungkas bertajuk "Bersama Umat Tegakkan Khilafah" ini juga dihadiri peserta dari manca negara.


Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ustadz Ismail Yusanto dalam orasinya dihadapan ratusan ribu umat Islam menegaskan Rapat dan Pawai Akbar (RPA) ini bukanlah bentuk unjuk kekuatan.  Sebab katanya karena tiada daya tiada upaya selain kekuatan Allah SWT.

Namun demikian, event ini juga mensiratkan bahwa perjuangan syariah dan khilafah bukannya tanpa pendukung. Dukungan umat semakin nyata, terbukti dari digelarnya RPA di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Gelora Bung Karno.

"Dan untuk keberhasilan perjuangan syariah dan khilafah, marilah kita tingkatkan kesungguhan, keikhlasan dan kesabaran. Yakinlah dilorong gelap peradaban ini ada secercah cahaya. Itulah cahaya Islam," ungkapnya.

Sementara itu, Ustadz Farid Wajdi dalam orasi bertajuk “Indonesia Terancam Neoliberalisme dan Noeimperialisme” memulai orasi dengan pertanyaan.  "Benarkan Indonesia ini negeri yang kaya ?,"  “Benar...!!!” timpal ribuan kaum muslimin.

"Jika Indonesia ini adalah negeri yang kaya, apakah kekayaan Indonesia telah dinikmati oleh rakyat Indonesia?..."   “Tidak..” jawab hadirin. Lalu siapa yang menikmati kekayaan negeri ini? “Asing…” seru peserta RPA.

Farid Wajdi mengungkapkan, menurut survei geologi AS, Indonesia menduduki negara dengan kekayaan alam terbesar dunia. Peringkat ketiga ekspor batubara, peringkat ke-enam untuk produksi emas. Belum lagi hasil hutan, hasil laut.

"Namun sayang kekayaan yang melimpah ini tidak dinikmati rakyat banyak, namun hanya dinikmati segelintir orang saja. Bahkan kekayaan negeri ini dibawa lari asing lewat tangan-tangan imperialis," ujarnya.

Menurutnya, tidak sedikit rakyat ini hidup di tempat sempit, pengap. Bahkan ada yang hidup di kolong jembatan dengan bau busuk.  Belum lagi pendidikan yang mahal tidak berkualitas. Menikmati kesehatan dibayang-bayangi kematian.

"Apa pangkal penderitaan ini ? karena Indonesia saat ini dicengkram oleh neoliberalisme dan neoimperialisme," tegasnya.

Neo liberalisme adalah pandangan yang menghendaki kebebasan individu, korporat, swasta dengan mengesampingkan peran negara. Negara hanya sebagai regulator kepentingan kapitalis. Inilah yang melahirkan kebijakan privatisasi, pencabutan subsisidi, utang luar negeri yang ujung-ujungnya menambah penderitaan rakyat.

Sektor-sektor strategis yang berhubungan dengan hajat orang banyak, seperti sumber daya alam, pendidikan, kesehatan justru diserahkan kepada asing. Padahal dalam islam sektor-sektor strategis milik umum itu harus dikelola negara dan dikembalikan kepada umat.  [*]


Penulis : Abah Ismail
Editor : Abu Rafif



Ismail Yusanto: Rapat dan Pawai Akbar Bukan untuk Unjuk Kekuatan, Bebaskan Indonesia dari Cengkraman Neoliberalisme dan Neoimperialisme Ismail Yusanto: Rapat dan Pawai Akbar Bukan untuk Unjuk Kekuatan, Bebaskan Indonesia dari Cengkraman Neoliberalisme dan Neoimperialisme Reviewed by Banua Syariah on 10:46:00 AM Rating: 5