#RPASamarinda : Neoliberalisme... Hancurkan!, Neoimperialisme... Hancurkan!, Tegakkan Khilafah! Allahu Akbar!

“Neoliberalisme…. Hancurkan!, Neoimperialisme… Hancurkan! Bersama umat… Tegakkan Khilafah! Allahu akbar!!!” demikian yel-yel ribuan kaum muslimin dan muslimat di halaman utama Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda yang menghadiri acara Rapat & Pawai Akbar 1436 H dengan tema Bersama Umat Tegakkan Khilafah, Selamatkan Indonesia Dari Cengkeraman Neoliberalisme & Neoimperialisme.  Sejak pagi pukul 07.30 wita, ahad (10/5) ribuan kaum muslimin dan muslimat dari berbagai kota dan kabupaten se-provinsi Kalimantan timur seperti dari Balikpapan, Bontang, Sengata, Berau, Penajam Paser Utara, Tanggarong, dan Samarinda, bahkan ada peserta dari Kalimantan Utara. Dimana memang panitia menargetkan sekitar 10.000 peserta pada acara Rapat & Pawai Akbar tersebut.  Acara diawali dengan sambutan dari ketua DPD I HTI Kaltim ustadz Ir. Syaipul Abu Zahro, dilanjutkan dengan orasi pertama oleh Ustadz Muhammad Yusli, S.Pd dengan tema “Indonesia Terancam Neoliberalisme & Neoimperialisme”. Dalam orasinya ustadz Yusli menjelaskan fakta Indonesia yang walaupun sudah merdeka, namun secara politik, ekonomi, social, budaya, hukum serta pertahanan Negara Indonesia sejatinya masih di bawah penjajahan model baru itulah neoimperialisme serta neoliberalisme.  Orasi kedua oleh ustadz Rudi Harianto, ST dengan tema “Syariah & Khilafah Untuk Rahmatan lil’alamin”. Dalam orasinya, ustadz Rudi Harianto menjelaskan bahwa tegaknya khilafah merupakan kewajiban yang telah disepakati oleh para ‘ulama. Serta dengan tegaknya Khilafah, maka akan tercipta keadilan dan kesejahteraan yang tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, namun juga umat yang non Muslim, itulah maksud dari Islam rahmatan lil’alamin, sebagaimana ketika Khilafah dulu pernah tegak selama 1300 tahun lamanya.  Kemudian Rapat di tutup dengan pidato politik oleh ketua DPP HTI dari Jakarta Ustadz Dr. Muhammad Rahmat Kurnia, yang menyerukan kepada seluruh peserta yang hadir untuk berjuang bersama-sama dengan Hizbut Tahrir untuk memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam dengan menegakkan kembali Khilafah.  Acara selanjutnya dilanjutkan dengan Pawai Akbar seluruh peserta acara dengan berjalan kaki, yang dilakukan dari Masjid Islamic Center, Jl. Slamet Riyadi, Jl. P. Antasari, Jl. Cendana dan kembali lagi ke halaman utama Islamic Center. Kemudian di tutup dengan do’a oleh Ustadz Turut Abdurrahman.  Humas HTI Kaltim Ustadz, Adi Victoria menyampaikan bahwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya acara Rapat & Pawai Akbar ini adalah melihat kondisi dan nasib bangsa Indonesia.   “Kita semua tahu bahwa Negara ini mengalami berbagai macam masalah. Dan Hizbut Tahrir melihat, yang menjadi pangkal atau akar dari kompleksnya masalah tersebut adalah karena adanya ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme. Untuk itulah kenapa kemudian Hizbut Tahrir mengadakan acara RPA ini dengan tajuk ‘Bersama umat tegakkan khilafah, selamatkan Indonesia dari neoliberalisme & neo imperialisme’. Artinya hanya Khilafah dan syariah saja yang mampu menyelamatkan Indonesia dari segala macam ancaman, termasuk ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme. Kedua, kenapa dikatakan Bersama Umat? Karena perjuangan menegakkan khilafah bukanlah perjuangan Hizbut Tahrir saja, namun harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam, karena ini adalah kewajiban umat Islam seluruhnya” bebernya.  Pada malam 27 Rajab lebih dari 1400 tahun lalu, Allah SWT memperjalankan baginda Rasulullah Muhammad saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha.   Inilah peristiwa Isra’ Mi’raj yang sangat monumental, yang kelak sangat berpengaruh pada perjalanan hidup Rasulullah dan umatnya.Tapi harus diingat bahwa pada bulan Rajab pula, persisnya pada tahun1342 Hijirah – 94 tahun lalu – khilafah Utsmani yang berpusat di Turki diruntuhkan oleh tangan-tangan kafir penjajah. Peristiwa ini kemudian menjadi pangkal dari timbulnya berbagai malapetaka atau ummul jaraaim yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.  Oleh karena itu, di sepanjang bulan Mei 2015, bertepatan dengan bulan Rajab 1436 H, Hizbut Tahrir Indonesia menyelenggarakan Rapat dan Pawai Akbar (RPA) di 36 kota di seluruh Indonesia. Puncaknya pada 30 Mei di Stadion Gelora Bung Karno dilanjutkan dengan pawai di sepanjang Jalan Thamrin, Jakarta yang insha allah akan diikuti oleh sekitar 150 ribu peserta.   Dengan tajuk Bersama Umat Tegakkan Khilafah, RPA diselenggarakan sebagai medium untuk mengokohkan visi dan misi perjuangan umat untuk tegaknya kembali kehidupan Islam dalam Khilafah. Visi dan misi ini penting untuk terus ditegaskan dan dikokohkan terlebih di tengah arus besar yang tengah mengancam keselamatan negeri ini, yakni neoliberalisme dan neoimperialisme.  Hizbut Tahrir meyakini, bila runtuhnya khilafah dahulu menjadi pangkal hancurnya dunia Islam dan timbulnya berbagai malapetaka yang menimpa dunia Islam, maka bangkitnya kembali dunia Islam dari keterpurukannya pun hanya mungkin melalui tegaknya kembali Khilafah itu.   Khilafahlah yang akan menyatukan kaum muslimin di seluruh dunia, menerapkan syariah secara kaffah dan menghadapi segala bentuk ancaman, khususnya neoliberalisme dan neoimperialisme, sehingga negeri ini akan benar-benar akan menjadi baldah thayyibah wa rabbun ghafur. [*]
“Neoliberalisme…. Hancurkan!, Neoimperialisme… Hancurkan! Bersama umat… Tegakkan Khilafah! Allahu akbar!!!” demikian yel-yel ribuan kaum muslimin dan muslimat di halaman utama Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda yang menghadiri acara Rapat & Pawai Akbar 1436 H dengan tema Bersama Umat Tegakkan Khilafah, Selamatkan Indonesia Dari Cengkeraman Neoliberalisme & Neoimperialisme.

Sejak pagi pukul 07.30 wita, ahad (10/5) ribuan kaum muslimin dan muslimat dari berbagai kota dan kabupaten se-provinsi Kalimantan timur seperti dari Balikpapan, Bontang, Sengata, Berau, Penajam Paser Utara, Tanggarong, dan Samarinda, bahkan ada peserta dari Kalimantan Utara. Dimana memang panitia menargetkan sekitar 10.000 peserta pada acara Rapat & Pawai Akbar tersebut.

Acara diawali dengan sambutan dari ketua DPD I HTI Kaltim ustadz Ir. Syaipul Abu Zahro, dilanjutkan dengan orasi pertama oleh Ustadz Muhammad Yusli, S.Pd dengan tema “Indonesia Terancam Neoliberalisme & Neoimperialisme”. Dalam orasinya ustadz Yusli menjelaskan fakta Indonesia yang walaupun sudah merdeka, namun secara politik, ekonomi, social, budaya, hukum serta pertahanan Negara Indonesia sejatinya masih di bawah penjajahan model baru itulah neoimperialisme serta neoliberalisme.

Orasi kedua oleh ustadz Rudi Harianto, ST dengan tema “Syariah & Khilafah Untuk Rahmatan lil’alamin”. Dalam orasinya, ustadz Rudi Harianto menjelaskan bahwa tegaknya khilafah merupakan kewajiban yang telah disepakati oleh para ‘ulama. Serta dengan tegaknya Khilafah, maka akan tercipta keadilan dan kesejahteraan yang tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, namun juga umat yang non Muslim, itulah maksud dari Islam rahmatan lil’alamin, sebagaimana ketika Khilafah dulu pernah tegak selama 1300 tahun lamanya.

Kemudian Rapat di tutup dengan pidato politik oleh ketua DPP HTI dari Jakarta Ustadz Dr. Muhammad Rahmat Kurnia, yang menyerukan kepada seluruh peserta yang hadir untuk berjuang bersama-sama dengan Hizbut Tahrir untuk memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam dengan menegakkan kembali Khilafah.

Acara selanjutnya dilanjutkan dengan Pawai Akbar seluruh peserta acara dengan berjalan kaki, yang dilakukan dari Masjid Islamic Center, Jl. Slamet Riyadi, Jl. P. Antasari, Jl. Cendana dan kembali lagi ke halaman utama Islamic Center. Kemudian di tutup dengan do’a oleh Ustadz Turut Abdurrahman.

Humas HTI Kaltim Ustadz, Adi Victoria menyampaikan bahwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya acara Rapat & Pawai Akbar ini adalah melihat kondisi dan nasib bangsa Indonesia. 


“Kita semua tahu bahwa Negara ini mengalami berbagai macam masalah. Dan Hizbut Tahrir melihat, yang menjadi pangkal atau akar dari kompleksnya masalah tersebut adalah karena adanya ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme. Untuk itulah kenapa kemudian Hizbut Tahrir mengadakan acara RPA ini dengan tajuk ‘Bersama umat tegakkan khilafah, selamatkan Indonesia dari neoliberalisme & neo imperialisme’. Artinya hanya Khilafah dan syariah saja yang mampu menyelamatkan Indonesia dari segala macam ancaman, termasuk ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme. Kedua, kenapa dikatakan Bersama Umat? Karena perjuangan menegakkan khilafah bukanlah perjuangan Hizbut Tahrir saja, namun harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam, karena ini adalah kewajiban umat Islam seluruhnya” bebernya.

Pada malam 27 Rajab lebih dari 1400 tahun lalu, Allah SWT memperjalankan baginda Rasulullah Muhammad saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. 

Inilah peristiwa Isra’ Mi’raj yang sangat monumental, yang kelak sangat berpengaruh pada perjalanan hidup Rasulullah dan umatnya.Tapi harus diingat bahwa pada bulan Rajab pula, persisnya pada tahun1342 Hijirah – 94 tahun lalu – khilafah Utsmani yang berpusat di Turki diruntuhkan oleh tangan-tangan kafir penjajah. Peristiwa ini kemudian menjadi pangkal dari timbulnya berbagai malapetaka atau ummul jaraaim yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.

Oleh karena itu, di sepanjang bulan Mei 2015, bertepatan dengan bulan Rajab 1436 H, Hizbut Tahrir Indonesia menyelenggarakan Rapat dan Pawai Akbar (RPA) di 36 kota di seluruh Indonesia. Puncaknya pada 30 Mei di Stadion Gelora Bung Karno dilanjutkan dengan pawai di sepanjang Jalan Thamrin, Jakarta yang insha allah akan diikuti oleh sekitar 150 ribu peserta. 

Dengan tajuk Bersama Umat Tegakkan Khilafah, RPA diselenggarakan sebagai medium untuk mengokohkan visi dan misi perjuangan umat untuk tegaknya kembali kehidupan Islam dalam Khilafah. Visi dan misi ini penting untuk terus ditegaskan dan dikokohkan terlebih di tengah arus besar yang tengah mengancam keselamatan negeri ini, yakni neoliberalisme dan neoimperialisme.

Hizbut Tahrir meyakini, bila runtuhnya khilafah dahulu menjadi pangkal hancurnya dunia Islam dan timbulnya berbagai malapetaka yang menimpa dunia Islam, maka bangkitnya kembali dunia Islam dari keterpurukannya pun hanya mungkin melalui tegaknya kembali Khilafah itu. 

Khilafahlah yang akan menyatukan kaum muslimin di seluruh dunia, menerapkan syariah secara kaffah dan menghadapi segala bentuk ancaman, khususnya neoliberalisme dan neoimperialisme, sehingga negeri ini akan benar-benar akan menjadi baldah thayyibah wa rabbun ghafur. [*]


Penulis :  Maktab I’lamiy HTI Kaltim
#RPASamarinda : Neoliberalisme... Hancurkan!, Neoimperialisme... Hancurkan!, Tegakkan Khilafah! Allahu Akbar! #RPASamarinda : Neoliberalisme... Hancurkan!, Neoimperialisme... Hancurkan!, Tegakkan Khilafah! Allahu Akbar! Reviewed by Banua Syariah on 10:59:00 PM Rating: 5