Fakta Dibalik Insiden Tolikara: Aroma Busuk Korupsi, Umat Islam Jadi Korban

BANUA SYARIAH - Penjelasan Tim Pencari Fakta Insiden Tolikara dari Kementrian Agama, KH Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan benar-benar mencengangkan. Betapa tidak, penyerangan umat Islam saat shalat Idulfitri Tolikara ternyata untuk menutupi kasus Korupsi ratusan miliar rupiah Bupati Tolikara. Ironisnya, untuk menutupi kasus korupsi ini umat Islam lah yang justru menjadi kambing hitam dan dikorbankan.  Dalam video bertajuk Fokus Grup Discussion, #Tolikara: Agenda Dibalik Berita yang diunggah akun HTI Chanel ke youtube pada 18 Agustus 2015 terungkap fakta-fakta tak hanya kasus korupsi, namun juga ancaman bagi NKRI atas dominasi simbol-simbol zionis Israel.  "Ketika datang, kami melihat bendera-bendera Israel, dan tak ada yang memiliki bendera merah putih. Tidak memiliki kantor Kemenag, tidak ada. Karyawannya ada, tapi kantornya tidak ada. Karena semua tanah di Kabupaten Tolikara diklaim milik GIDI. Di Papua, GIDI 100 persen menguasai empat Kabupaten, yaitu Tolikara, Lanijaya, Duga dan Yalima," ungkapnya.
KH Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan | Tim pencari fakta Tolikara
BANUA SYARIAH - Penjelasan Tim Pencari Fakta Insiden Tolikara dari Kementrian Agama, KH Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan benar-benar mencengangkan. Betapa tidak, penyerangan umat Islam saat shalat Idulfitri 1436 H  di Tolikara ternyata untuk menutupi kasus Korupsi ratusan miliar rupiah sang Bupati. Ironisnya, untuk menutupi kasus korupsi tersebut umat Islam lah yang justru menjadi kambing hitam dan dikorbankan.


Dalam video bertajuk Fokus Grup Discussion, #Tolikara: Agenda Dibalik Berita yang diunggah akun HTI Chanel ke youtube pada 18 Agustus 2015 terungkap fakta-fakta tak hanya kasus korupsi, namun juga ancaman bagi NKRI atas dominasi simbol-simbol zionis Israel.

"Ketika datang, kami melihat bendera-bendera Israel, dan tak ada yang memiliki bendera merah putih. Tidak memiliki kantor Kemenag, tidak ada. Karyawannya ada, tapi kantornya tidak ada. Karena semua tanah di Kabupaten Tolikara diklaim milik GIDI. Di Papua, GIDI 100 persen menguasai empat Kabupaten, yaitu Tolikara, Lanijaya, Duga dan Yalima," ungkapnya.

Penduduk umat Islam di Tolikara yang diberitakan media mainstream selama ini pun katanya keliru. "Umat Islam di Tolikara itu, di berbagai media ditulis 200 orang. Kami langsung cek di lapangan ternyata 1.200 orang," cetusnya.

Fakta terkait insiden Tolikara terkait adanya seminar internasional KKR GIDI itu sebenarnya terang Syekh, bukan tanggal 17 Juli, tapi tanggal 22 Juli. Seminar itu menelan dana Rp6 Miliar, sebesar Rp3 miliar diantaranya sumbangan Bupati yang belakangan diketahui hasil korupsi dana APBD dan APBN tahun 2012-2014 sebesar Rp635,7 miliar.

Sebelum tanggal 17 Juli bebernya, setiap hari ada demonstrasi anti korupsi. Pada 9 juli 2015 ada kerusuhan untuk menutupi kasus korupsi, tapi isu ini tidak menjadi nasional. Kemudian tanggal 15 Juli ditutupi lagi dengan kasus pembakaran rumah tradisional. Namun upaya menutupi kasus korupsi dengan pembakaran rumah itupun tak berhasil.

“Ketika tanggal 17 Juli (hari raya Iduladha,red) baru bisa dijual. Jadi motif pembakaran masjid di Tolikara ini sebenarnya adalah korupsi Rp635,7 miliar oleh Bupati Tolikara,” ujarnya.

Lalu siapakah Bupati ini ? Dia adalah orang yang paling penting dijajaran GIDI (Zionis). GIDI mulai muncul di Tolikara pada 1963, sementara Islam di Tolikara sudah ada sejak 1850. [*]

Simak video lengkapnya dibawah ini :


Fakta Dibalik Insiden Tolikara: Aroma Busuk Korupsi, Umat Islam Jadi Korban Fakta Dibalik Insiden Tolikara: Aroma Busuk Korupsi, Umat Islam Jadi Korban Reviewed by Banua Syariah on 7:14:00 PM Rating: 5