Fakta-fakta Kesejahteraan Rakyat Semakin Memburuk

BANUA SYARIAH - Institute for Development of Economic dan Finance (Indef) menyatakan, tingkat kesejahteraan masyarakat semakin memburuk. Direktur Indef Enny Sri Hartati mengatakan, hal ini kontradiktif dari visi Nawacita yang digencarkan pemerintah.  Ia menambahkan, capaian kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi sampai semester I menunjukan perkembangan yang memburuk.   "Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2015 kembali melambat dan membawa sejumlah konsekuensi bagi target kesejahteraan sosial-ekonomi," ujarnya dalam Konferensi Pers di Kantor INDEF Jalan Batu Merah No 45 Pejaten Timur, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2015).  Berikut 10 indikasi memburuknya tingkat kesejahteraan masyarakat seperti dikutip dari laman republika.co.id :  1. Inflasi bahan makanan melambung Pemerintah mengklaim angka inflasi pada 2015 cukup rendah, bahkan diperkirakan akan di bawah target APBN-P 2015 sebesar lima persen. Selama Januari hingga Juli 2015 akumulasi inflasi bahan makananmonth to month memang baru mencapai 1,90 persen. Namun, inflasi bahan makanan menjadi sumber tekanan sangat tinggi. Inflasi harga barang bergejolak sejak Mei, Juni, dan Juli masing-masing sebesar 1,52 persen, 1,74 persen, dan 2,13 persen. Bahkan, secara tahunan pada Juli, inflasi bahan makanan telah mencapai 8,28 persen (yoy). Ironisnya, pascalebaran masyarakat masih dihadapkan gejolak kenaikan harga yang tidak rasional. 2. Nilai Tukar Petani (NTP) menurun Penurunan NTP terjadi di semua subsektor pertanian, baik di sektor tanaman pangan, holtikuktura, perkebunan rakyat, peternakan, maupun perikanan. Dibandingkan dengan posisi Oktober 2014 saat pemerintahan baru dilantik dengan posisi NTP Juni 2015. 3. Upah riil menurun Upah nominal buruh tani meningkat, namun upah riilnya menurun. Upah riil buruh tani Januari 2014 sebesar Rp 39.383 per hari, turun menjadi Rp 37.887 per hari pada Juli 2015. 4. Upah buruh industri juga mengalami penurunan secara riil sebesar 3,5 persen secara triwulan. Penurunan upah riil terutama terjadi pada industri yang padat karya seperti industri makanan, tekstil, percetakan, karet, plastik, dan industri lainnya.  5. Program bantuan sosial tidak efektif Kebijakan pemerintah dalam menaikan BBM, disertai mitigasi risiko terhadap dampaknya terhadap masyarakat miskin, dan rentan miskin. Beberapa skema program jaminan sosial justru mengalami penurunan, seperti program raskin dan dana kompensasi kenaikan harga BBM. Akibatnya, daya beli masyarakat miskin anjlok. 6. Daya beli menurun Tingginya inflasi pada bahan makanan, telah menggerus porsi pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan pokok. Dampaknya terjadi penurunan penjualan hampir di seluruh produk-produk industri maupun barang-barang sekunder, seperti produk tekstil, semen, barang elektronika, kendaraan bermotor. Akibatnya konsumsi rumah tangga terus mengalami penurunan, pada triwulan I 2015 hanya tumbuh sebesar 5,1 persen dan triwulan II 2015 menurun lagi menjadi 4,9 persen. 7. Pembiayaan terhadap sektor riil (UMKM) menurun Menurunnya daya beli masyarakat berdampak langsung pada penurunan produktivitas nasional, utamaya penurunan permintaan masyarakat terhadap produknya industri pengolahan. Dampaknya, pertumbuhan kinerja sektor manufaktur anjlok, hanya tumbuh 3,81 persen pada triwulan I 2015. Banyak industri terutama usaha kecil ran menengah mengalami kesulitan kelangsungan usaha. Akibatnya, tidak hanya penyaluran kredit yang menurunan, namun tingkat kredit macet atau NPL juga meningkat. 8. Pengangguran Meledak Pertumbuhan sektor riil atau sektor tradble justru semakin merosot. Sektor industri manufaktur justru semskin anjlok prrtumbuhannya, bahkan sektor penggalian dan pertambangan tumbuh minus. Akibatnya, terjadi ancaman PHK hampir di seluruh sub sektor industri.  Karenanya, angka pengangguran terbuka saat ini diperkirakan mencapai 7,5 persen. 9. Kemiskinan meingkat Dengan meningkatnya pengangguran terbuka, tentu berdampak langsung pada jumlah penduduk miskin. Karena sumber pendapatan hilang. Tingkat kemiskinan meningkat dari September 2014 sebesar 10,96 persen menjadi 11,50 persen pada Maret 2015. 10. Ketimpangan pendapatan semakin melebar. Tingginya suku bunga perbankan, di tenah perlambatan ekonomi, disamping menimbulkan kelesuan di sektor riil juga mendorong para pemilik modal semakin enggan berinvestasi.
KESEJAHTERAAN masyarakat semakin memburuk.  Sistem ekonomi kapitalis sekuler penyebabnya.
BANUA SYARIAH - Institute for Development of Economic dan Finance (Indef) menyatakan, tingkat kesejahteraan masyarakat semakin memburuk. Direktur Indef Enny Sri Hartati mengatakan, hal ini kontradiktif dari visi Nawacita yang digencarkan pemerintah.

Ia menambahkan, capaian kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi sampai semester I menunjukan perkembangan yang memburuk.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2015 kembali melambat dan membawa sejumlah konsekuensi bagi target kesejahteraan sosial-ekonomi," ujarnya dalam Konferensi Pers di Kantor INDEF Jalan Batu Merah No 45 Pejaten Timur, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2015).

Berikut 10 indikasi memburuknya tingkat kesejahteraan masyarakat seperti dikutip dari laman republika.co.id :

1. Inflasi bahan makanan melambung


  • Pemerintah mengklaim angka inflasi pada 2015 cukup rendah, bahkan diperkirakan akan di bawah target APBN-P 2015 sebesar lima persen.
  • Selama Januari hingga Juli 2015 akumulasi inflasi bahan makananmonth to month memang baru mencapai 1,90 persen. Namun, inflasi bahan makanan menjadi sumber tekanan sangat tinggi. Inflasi harga barang bergejolak sejak Mei, Juni, dan Juli masing-masing sebesar 1,52 persen, 1,74 persen, dan 2,13 persen. Bahkan, secara tahunan pada Juli, inflasi bahan makanan telah mencapai 8,28 persen (yoy).
  • Ironisnya, pascalebaran masyarakat masih dihadapkan gejolak kenaikan harga yang tidak rasional.
2. Nilai Tukar Petani (NTP) menurun

  • Penurunan NTP terjadi di semua subsektor pertanian, baik di sektor tanaman pangan, holtikuktura, perkebunan rakyat, peternakan, maupun perikanan.
  • Dibandingkan dengan posisi Oktober 2014 saat pemerintahan baru dilantik dengan posisi NTP Juni 2015.
3. Upah riil menurun

  • Upah nominal buruh tani meningkat, namun upah riilnya menurun. Upah riil buruh tani Januari 2014 sebesar Rp 39.383 per hari, turun menjadi Rp 37.887 per hari pada Juli 2015.
4. Upah buruh industri juga mengalami penurunan secara riil sebesar 3,5 persen secara triwulan. Penurunan upah riil terutama terjadi pada industri yang padat karya seperti industri makanan, tekstil, percetakan, karet, plastik, dan industri lainnya.

5. Program bantuan sosial tidak efektif

  • Kebijakan pemerintah dalam menaikan BBM, disertai mitigasi risiko terhadap dampaknya terhadap masyarakat miskin, dan rentan miskin.
  • Beberapa skema program jaminan sosial justru mengalami penurunan, seperti program raskin dan dana kompensasi kenaikan harga BBM. Akibatnya, daya beli masyarakat miskin anjlok.
6. Daya beli menurun

  • Tingginya inflasi pada bahan makanan, telah menggerus porsi pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan pokok.
  • Dampaknya terjadi penurunan penjualan hampir di seluruh produk-produk industri maupun barang-barang sekunder, seperti produk tekstil, semen, barang elektronika, kendaraan bermotor.
  • Akibatnya konsumsi rumah tangga terus mengalami penurunan, pada triwulan I 2015 hanya tumbuh sebesar 5,1 persen dan triwulan II 2015 menurun lagi menjadi 4,9 persen.
7. Pembiayaan terhadap sektor riil (UMKM) menurun

  • Menurunnya daya beli masyarakat berdampak langsung pada penurunan produktivitas nasional, utamaya penurunan permintaan masyarakat terhadap produknya industri pengolahan.
  • Dampaknya, pertumbuhan kinerja sektor manufaktur anjlok, hanya tumbuh 3,81 persen pada triwulan I 2015. Banyak industri terutama usaha kecil ran menengah mengalami kesulitan kelangsungan usaha.
  • Akibatnya, tidak hanya penyaluran kredit yang menurunan, namun tingkat kredit macet atau NPL juga meningkat.
8. Pengangguran Meledak

  • Pertumbuhan sektor riil atau sektor tradble justru semakin merosot. Sektor industri manufaktur justru semskin anjlok prrtumbuhannya, bahkan sektor penggalian dan pertambangan tumbuh minus. Akibatnya, terjadi ancaman PHK hampir di seluruh sub sektor industri. 
  • Karenanya, angka pengangguran terbuka saat ini diperkirakan mencapai 7,5 persen.
9. Kemiskinan meingkat

  • Dengan meningkatnya pengangguran terbuka, tentu berdampak langsung pada jumlah penduduk miskin. Karena sumber pendapatan hilang.
  • Tingkat kemiskinan meningkat dari September 2014 sebesar 10,96 persen menjadi 11,50 persen pada Maret 2015.
10. Ketimpangan pendapatan semakin melebar.

  • Tingginya suku bunga perbankan, di tenah perlambatan ekonomi, disamping menimbulkan kelesuan di sektor riil juga mendorong para pemilik modal semakin enggan berinvestasi.
Fakta-fakta Kesejahteraan Rakyat Semakin Memburuk Fakta-fakta Kesejahteraan Rakyat Semakin Memburuk Reviewed by Banua Syariah on 8:22:00 PM Rating: 5