Waspadai Liberalisasi di Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Liberalisme pemikiran islam semakin mendapat ruang besar untuk berkreasi. Aneka ragam dalil dipelintir demi penyesuaian sesuai maslahat dan penistaan. Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang dan damai diarahkan untuk bersifat moderat (kompromis, selalu mencari jalan tengah bukan mencari jalan yang benar).   Dirjen pendidikan islam, kamaruddin amin mengatakan penting membekali para siswa yang akan menjadi pemimpin bangsa dengan pemahaman keagamaan yang damai, toleran dan menghargai keragaman. Dengan menggunakan mantel islam rahmatan lil ‘alamin, saat ini kemenag telah membangun paradigma para guru agama islam disekolah agar membangun toleransi terhadap perbedaan agama, suku, budaya pada peserta didik. Paradigma yang sekilas tak ada yang salah dan tak ada yang patut dicurigai.  Islam memang agama yang diturunkan Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rahmat akan dirasakan semua makhluk saat aturan Allah diterapkan secara murni dan sempurna tanpa pencampuran dengan aturan lain diluar islam. Kita dapat melihat fakta sejarah saat islam diterapkan secara murni dan utuh dalam kehidupan kaum muslimin dalam bingkai negara khilafah islam, yang terjadi adalah damai dan toleransi yang luar biasa tak tertandingi.   Muslim dan non muslim hidup berdampingan tanpa konflik dan merasakan sejahtera bersama. Mengapa? Karena semua diatur dengan aturan yang sama yaitu syariah islam. Jika aturan islam diutak atik untuk kemudian dicocokkan dengan agama lain, suku-suku serta adat budaya yang terjadi justru adalah penistaan terhadap agama islam itu sendiri. toleransi yang terwujud adalah sinkretisme dan pemalsuan identitas/jati diri islam.   Jika hal ini diprogramkan dalam kurikulum agama islam dalam pendidikan kita, maka sebenarnya generasi muda umat islam semakin disiapkan untuk dijauhkan dari jati dirinya sebagai muslim. Anak-anak didik akan diajarkan untuk mengkrompomikan kebenaran aturan islam dengan kesalahan-kesalahan lain yang berasal dari luar islam atas nama toleransi dan cinta damai. Astaghfirullahal’adzhim. Aqidah umat sungguh terancam.   Tabiat negara demokratis memang tidak akan melindungi agama dan umat islam. Demokrasi mengatasnamakan hak asasi manusia untuk membiarkan segala penyimpangan aqidah terjadi ditengah kita. Hanya khilafah yang menerapkan syariat islam secara total dalam kehidupan yang mampu adil, tidak hanya melindungi islam tetapi seluruh agama tanpa perlu ada pemaduan aturan lintas agama serta lintas adat. Dengan syariat islam, islam terjaga agama dan umat lain juga tetap dihormati keberadaannya. Wallahua’alam [*]
Waspadai Liberalisasi di Kurikulum Pendidikan Agama Islam
BANUA SYARIAH - Liberalisme pemikiran islam semakin mendapat ruang besar untuk berkreasi. Aneka ragam dalil dipelintir demi penyesuaian sesuai maslahat dan penistaan. Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang dan damai diarahkan untuk bersifat moderat (kompromis, selalu mencari jalan tengah bukan mencari jalan yang benar).


Dirjen pendidikan islam, kamaruddin amin mengatakan penting membekali para siswa yang akan menjadi pemimpin bangsa dengan pemahaman keagamaan yang damai, toleran dan menghargai keragaman. Dengan menggunakan mantel islam rahmatan lil ‘alamin, saat ini kemenag telah membangun paradigma para guru agama islam disekolah agar membangun toleransi terhadap perbedaan agama, suku, budaya pada peserta didik. Paradigma yang sekilas tak ada yang salah dan tak ada yang patut dicurigai.

Islam memang agama yang diturunkan Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rahmat akan dirasakan semua makhluk saat aturan Allah diterapkan secara murni dan sempurna tanpa pencampuran dengan aturan lain diluar islam. Kita dapat melihat fakta sejarah saat islam diterapkan secara murni dan utuh dalam kehidupan kaum muslimin dalam bingkai negara khilafah islam, yang terjadi adalah damai dan toleransi yang luar biasa tak tertandingi. 


Muslim dan non muslim hidup berdampingan tanpa konflik dan merasakan sejahtera bersama. Mengapa? Karena semua diatur dengan aturan yang sama yaitu syariah islam. Jika aturan islam diutak atik untuk kemudian dicocokkan dengan agama lain, suku-suku serta adat budaya yang terjadi justru adalah penistaan terhadap agama islam itu sendiri. toleransi yang terwujud adalah sinkretisme dan pemalsuan identitas/jati diri islam. 

Jika hal ini diprogramkan dalam kurikulum agama islam dalam pendidikan kita, maka sebenarnya generasi muda umat islam semakin disiapkan untuk dijauhkan dari jati dirinya sebagai muslim. Anak-anak didik akan diajarkan untuk mengkrompomikan kebenaran aturan islam dengan kesalahan-kesalahan lain yang berasal dari luar islam atas nama toleransi dan cinta damai. Astaghfirullahal’adzhim. Aqidah umat sungguh terancam.

Tabiat negara demokratis memang tidak akan melindungi agama dan umat islam. Demokrasi mengatasnamakan hak asasi manusia untuk membiarkan segala penyimpangan aqidah terjadi ditengah kita. Hanya khilafah yang menerapkan syariat islam secara total dalam kehidupan yang mampu adil, tidak hanya melindungi islam tetapi seluruh agama tanpa perlu ada pemaduan aturan lintas agama serta lintas adat. Dengan syariat islam, islam terjaga agama dan umat lain juga tetap dihormati keberadaannya. Wallahua’alam [*]


Penulis : Kaysa Muthmainnah | Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Banjarbaru.
Waspadai Liberalisasi di Kurikulum Pendidikan Agama Islam Waspadai Liberalisasi di Kurikulum Pendidikan Agama Islam Reviewed by Banua Syariah on 7:22:00 PM Rating: 5