Nestapa Puluhan Pelajar Menantang Maut Setiap Hari, Was-was Kapan Saja Diterkam Buaya

Banuasyariah - Negeri kaya, rakyatnya dirundung nestapa. Begitulah kira-kira kondisi rakyat di negeri ini. Tak berlebihan memang ungkapan itu. Apalagi jika melihat kenyataan tragis harus melihat puluhan pelajar tiap hari menantang maut. Seperti yang terjadi di Lebak, Banten.  Pulang pergi ke sekolah naik rakit berjarak 250 meter. Rasa was-was kerap menyelimuti, lantaran konon di Sungai Cikoncang terdapat buaya yang kapan saja bisa memakan tubuh mereka yang kecil.   Beberapa waktu lalu, publik di Lebak dikejutkan dengan rencana pemkab setempat membeli mobil dinas bupati yang harganya miliaran. Mahasiswa demo menolak rencana itu, karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi daerah, dimana persoalan pendidikan dan kesehatan masih jauh dari harapan.  Kini, publik semakin dikejutkan dengan semangat juang para murid Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar di Kampung Cilimus, Desa Katapang Kecamatan Wanasalam.   Bisa dibayangkan untuk pergi dan pulang sekolah, mereka harus rela naik rakit saban hari. Itu ditempuh karena jika melalui jalan darat jaraknya lumayan jauh, yakni 7 kilomter jalan kaki serta melewati hutan.  Selama menuntut ilmu, puluhan pelajar dari tiga desa harus melintasi Sungai Cikoncang untuk sampai ke sekolah. Begitupun kekita pulang. Mereka kembali harus mengayuh, entepan bamboo tersebut.   Dikutip dari laman jawapos.com seperti dilansir BANPOS, Jumat 27 November 2015, rakit-rakit yang biasa mereka gunakan memang sudah menunggu setiap pagi.   Wajah-wajah lugu anak bangsa tetap terlihat semangat. Perlengkapan belajar pun sudah lengkap mereka bawa. Namun, mereka harus membuka alas kaki agar tidak basah, ketika melintasi sungai.  Satu rakit biasa mengangkut empat sampai enam murid. Sedikitnya ada enam rakit yang tersedia untuk transportasi pulang pergi ke sekolah. BANPOS mendapat informasi bahwa para murid di ibtidaiyah tersebut adalah warga dari tiga desa di dua kabupaten yakni Desa Katapang (Lebak), Curugciung dan Cikadongdong (Pandeglang). MI Mathlaul Anwar itu adalah satu-satunya sarana pendidikan yang bisa dijangkau disana.  Demi terlepas dari kebodohan, anak-anak dari tiga desa harus melintasi Sungai Cikoncang untuk sampai ke sekolah. Begitupun ketika pulang. Mereka kembali harus mengayuh rakit yang hanya terbuat dari bambu.  Bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar di Kampung Cilimus, Desa Katapang Kecamatan Wanasalam bukan hanya untuk menuntut ilmu untuk masa depan. Tapi nyawa pun menjadi jaminan.  Tapi untuk mengapai cita-cita hanya dengan cara itulah yang harus dilakukan puluhan pelajar itu.   Nurboni, salah seorang murid mengatakan penyeberangan di Sungai Cikoncang untuk menuntut ilmu adalah pilihan satu-satunya. "Habis mau jalan kemana lagi Pak. Kami mau sekolah, ya lewat sungai ini yang lebih dekat, kalau ke jalan raya kejauhan, nanti kesiangan sekolahnya," katanya.   Dia bercita-cita bisa meraih mimpinya setelah besar nanti. "Walaupun saya ada di pedalaman, saya ingin pintar dan jadi orang sukses Pak, bagaimanapun saya harus bisa sekolah seperti orang kota," kata Nurboni polos.  Sementara itu Kepala MI Mathlaul Anwar Cilimus, Suherni didampingi guru kelas, Syahrosi membenarkan bahwa walaupun sekolahnya masuk wilayah Desa Katapang, Kecamatan Wanasalam, Lebak, namun muridnya banyak dari desa tetangga yang masuk wilayah Pandeglang.  "MI Cilimus ini sarana pendidikan satu-satunya yang terdekat, yang ada di dekat perkampungan bantaran sungai. Kami sebagai guru tidak bisa berbuat banyak karena kondisi yang ada. Sebenarnya ada jalan darat namun jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh, harus berputar hingga 7 kilometer. Itu pun dengan kondisi jalan setapak dan melewati hutan. Sehingga pilihannya menggunakan rakit karena lebih dekat dan lebih cepat," kata Suherni.  Dia mengakui, bahwa setiap hari was-was. Bukan hanya memikirkan proses belajar mengajar tetapi keselamatan para muridnya.  "Karena sungai ini bentangannya cukup luas, khawatir terjadi sesuatu dengan anak-anak," kata dia.  Masih kata Suherni, siswanya itu harus melepaskan sepatu yang dikenakan manakala menyeberang sungai. Makanya, ketika mereka sudah datang di bibir sungai yang tepat berada di depan sekolah, mereka pun merapihkan seragam sekolahnya dan segera memakai sepatu.  Dia menambahkan, yang ada dalam benak para muridnya hanya bagaimana sampai di sekolah, mereka tidak berpikir risiko.   "Saya belum bisa tenang kalau anak-anak belum ada informasi tiba di rumah, sehingga kami tetap mengawasi dan menunggu mereka sampai selamat di rumahnya masing-masing. Kami juga tidak bisa berbuat banyak karena memang ini adalah pilihan mereka sendiri," katanya.  Suherni berharap pemerintah baik kabupaten maupun provinsi serta dinas pendidikan dalam hal ini di bawah Kementrian Pendidikan Agama, bisa membantu dan mencarikan solusi yang terbaik untuk peserta didik. [*]
DEMI CITA-CITA : Murid MI di Desa Katapang, Kecamatan Wanasalam setiap hari pulang pergi naik getek atau rakit, tak peduli dengan besarnya resiko yang dihadapi.          |  Foto : Jawapos.co.id
Banuasyariah - Negeri kaya, rakyatnya dirundung nestapa. Begitulah kira-kira kondisi rakyat di negeri ini. Tak berlebihan memang ungkapan itu. Apalagi jika melihat kenyataan tragis harus melihat puluhan pelajar tiap hari menantang maut. Seperti yang terjadi di Lebak, Banten.


Pulang pergi ke sekolah naik rakit berjarak 250 meter. Rasa was-was kerap menyelimuti, lantaran konon di Sungai Cikoncang terdapat buaya yang kapan saja bisa memakan tubuh mereka yang kecil.

Beberapa waktu lalu, publik di Lebak dikejutkan dengan rencana pemkab setempat membeli mobil dinas bupati yang harganya miliaran. Mahasiswa demo menolak rencana itu, karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi daerah, dimana persoalan pendidikan dan kesehatan masih jauh dari harapan.

Kini, publik semakin dikejutkan dengan semangat juang para murid Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar di Kampung Cilimus, Desa Katapang Kecamatan Wanasalam.

Bisa dibayangkan untuk pergi dan pulang sekolah, mereka harus rela naik rakit saban hari. Itu ditempuh karena jika melalui jalan darat jaraknya lumayan jauh, yakni 7 kilomter jalan kaki serta melewati hutan.

Selama menuntut ilmu, puluhan pelajar dari tiga desa harus melintasi Sungai Cikoncang untuk sampai ke sekolah. Begitupun kekita pulang. Mereka kembali harus mengayuh, entepan bamboo tersebut.

Dikutip dari laman jawapos.com seperti dilansir BANPOS, Jumat 27 November 2015, rakit-rakit yang biasa mereka gunakan memang sudah menunggu setiap pagi.

Wajah-wajah lugu anak bangsa tetap terlihat semangat. Perlengkapan belajar pun sudah lengkap mereka bawa. Namun, mereka harus membuka alas kaki agar tidak basah, ketika melintasi sungai.

Satu rakit biasa mengangkut empat sampai enam murid. Sedikitnya ada enam rakit yang tersedia untuk transportasi pulang pergi ke sekolah. BANPOS mendapat informasi bahwa para murid di ibtidaiyah tersebut adalah warga dari tiga desa di dua kabupaten yakni Desa Katapang (Lebak), Curugciung dan Cikadongdong (Pandeglang). MI Mathlaul Anwar itu adalah satu-satunya sarana pendidikan yang bisa dijangkau disana.

Demi terlepas dari kebodohan, anak-anak dari tiga desa harus melintasi Sungai Cikoncang untuk sampai ke sekolah. Begitupun ketika pulang. Mereka kembali harus mengayuh rakit yang hanya terbuat dari bambu.

Bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar di Kampung Cilimus, Desa Katapang Kecamatan Wanasalam bukan hanya untuk menuntut ilmu untuk masa depan. Tapi nyawa pun menjadi jaminan.

Tapi untuk mengapai cita-cita hanya dengan cara itulah yang harus dilakukan puluhan pelajar itu.

Nurboni, salah seorang murid mengatakan penyeberangan di Sungai Cikoncang untuk menuntut ilmu adalah pilihan satu-satunya. "Habis mau jalan kemana lagi Pak. Kami mau sekolah, ya lewat sungai ini yang lebih dekat, kalau ke jalan raya kejauhan, nanti kesiangan sekolahnya," katanya.

Dia bercita-cita bisa meraih mimpinya setelah besar nanti. "Walaupun saya ada di pedalaman, saya ingin pintar dan jadi orang sukses Pak, bagaimanapun saya harus bisa sekolah seperti orang kota," kata Nurboni polos.

Sementara itu Kepala MI Mathlaul Anwar Cilimus, Suherni didampingi guru kelas, Syahrosi membenarkan bahwa walaupun sekolahnya masuk wilayah Desa Katapang, Kecamatan Wanasalam, Lebak, namun muridnya banyak dari desa tetangga yang masuk wilayah Pandeglang.

"MI Cilimus ini sarana pendidikan satu-satunya yang terdekat, yang ada di dekat perkampungan bantaran sungai. Kami sebagai guru tidak bisa berbuat banyak karena kondisi yang ada. Sebenarnya ada jalan darat namun jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh, harus berputar hingga 7 kilometer. Itu pun dengan kondisi jalan setapak dan melewati hutan. Sehingga pilihannya menggunakan rakit karena lebih dekat dan lebih cepat," kata Suherni.

Dia mengakui, bahwa setiap hari was-was. Bukan hanya memikirkan proses belajar mengajar tetapi keselamatan para muridnya.

"Karena sungai ini bentangannya cukup luas, khawatir terjadi sesuatu dengan anak-anak," kata dia.

Masih kata Suherni, siswanya itu harus melepaskan sepatu yang dikenakan manakala menyeberang sungai. Makanya, ketika mereka sudah datang di bibir sungai yang tepat berada di depan sekolah, mereka pun merapihkan seragam sekolahnya dan segera memakai sepatu.

Dia menambahkan, yang ada dalam benak para muridnya hanya bagaimana sampai di sekolah, mereka tidak berpikir risiko.

"Saya belum bisa tenang kalau anak-anak belum ada informasi tiba di rumah, sehingga kami tetap mengawasi dan menunggu mereka sampai selamat di rumahnya masing-masing. Kami juga tidak bisa berbuat banyak karena memang ini adalah pilihan mereka sendiri," katanya.

Suherni berharap pemerintah baik kabupaten maupun provinsi serta dinas pendidikan dalam hal ini di bawah Kementrian Pendidikan Agama, bisa membantu dan mencarikan solusi yang terbaik untuk peserta didik. [*]
Nestapa Puluhan Pelajar Menantang Maut Setiap Hari, Was-was Kapan Saja Diterkam Buaya Nestapa Puluhan Pelajar Menantang Maut Setiap Hari, Was-was Kapan Saja Diterkam Buaya Reviewed by Banua Syariah on 4:40:00 PM Rating: 5