PLN, Mana Janjimu? Pemadaman Listrik Menurunkan Omset 40 Persen

Banuasyariah.com - Satu bulan terakhir ini kesabaran pelanggan PLN Kalselteng diuji. Pemadaman bergilir terus terjadi dalam jeda waktu yang semakin sering. Alasan PLN bermacam-macam, mulai dari permasalahan teknis hingga gangguan alam. Hingga awal Desember pun pemadaman makin menjadi. Padahal sebelumnya, PLN Kalselteng sudah berjanji tak byarpet lagi.   Seperti Selasa (1/12) kemarin di kawasan Guntung Manggis Trikora, Sungai Ulin dan sekitarnya yang kembali terjadi pemadaman. Sehari bahkan dua kali. Dini hari dan siang hari.   Tokoh warga Sungai Ulin, Kamsun, mengaku geram dengan kondisi ini. PLN Kalselteng dikatakannya abai terhadap janji. Maklum, November kemarin PLN berjanji bahwa Desember 2015 ini kondisi listrik dipastikan aman.   “Mana buktinya tetap saja terjadi pemadaman listrik,” ucap Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Banjarbaru itu.  Pemadaman listrik bergilir ini ibarat santapan yang tersaji di warung kopi pagi, demikian Kamsun menggambarkan. Sudah seperti sarapan bagi warga Kalimantan Selatan. Betapa tidak, hampir setiap hari terjadi pemadaman bergilir di sejumlah kawasan. “Bingung juga kita,” ucapnya.   Ironisnya lagi tarif listrik pelanggan 1.300 VA naik 11 persen pada 1 Desember ini. Hal ini terkait tarif penyesuaian (adjustment) listrik Desember 2015. Sesuai Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 31/2014 sebagaimana telah diubah dengan Permen ESDM No 09/2015, tarif penyesuian diberlakukan setiap bulan, menyesuaikan perubahan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap mata uang rupiah, harga minyak, dan inflasi bulanan. “Pelayanannya kurang, tapi tarif listrik dinaikan,” tegasnya.   Tarifnya bervariasi. Seperti dilansir dari website PLN, Selasa (1/12) kemarin, mulai Desember 2015 pelanggan PLN golongan tarif rumah tangga daya 1.300 VA dan 2.200 VA diberlakukan mekanisme tarif penyesuaian. Kedua golongan itu naik 11 persen Rp 1.352 per kilowatt hour (kWh) menjadi Rp 1.509,38 per kilowatt hour (kWh, atau naik Rp157,38 per kWH-nya. Hal itu menyusul penerapan tarif penyesuaian kepada 10 golongan tarif lainnya yang sudah berlaku sejak 1 Januari 2015.   Dengan mekanisme tarif penyesuaian, tarif listrik setiap bulan memang dimungkinkan untuk turun, tetap, atau naik berdasarkan ketiga indikator tersebut. Tarif penyesuaian berlaku bagi golongan pelanggan yang sudah tidak disubsidi, yaitu rumah tangga daya 1.300 VA ke atas, bisnis sedang daya 6.600 VA ke atas, industri besar daya 200 ribu VA ke atas, kantor pemerintah daya 6.600 VA ke atas, lampu penerangan jalan umum (PJU) dan layanan khusus.  Ketika dikonfirmasi, General Manager PLN Kalselteng Purnomo tak menampik tarif penyesuaian listrik per Desember 2015. Namun menurutnya tarif tidak selalu mengalami kenaikan. “Bisa naik, bisa turun. Berdasarkan naik turunnya kurs, inflasi dan harga minyak,” ucapnya.   Dijelaskan Purnomo, daya 1300 dan 2200 VA sudah sesuai Permen ESDM termasuk yang seharusnya sudah diberlakukan sejak 1 Januari 2015. Namun kedua golongan tarif ini ditunda sampai 1 Desember 2015 ini.   Kemudian terkait masih padamnya listrik hari pertama bulan Desember ini, Purnomo meminta maaf kepada pelanggannya. Pihaknya meminta waktu dua hari karena material spare part China tidak langsung dipasang di PLTU Asam-asam karena saat ini tengah dilakukan pemeliharaan.   “Nggak bisa langsung plug and play. Insya Allah dalam dua hari ini bisa masuk,” ucapnya.
Sumber : Koran Radar Banjarmasin
Banuasyariah.com - Satu bulan terakhir ini kesabaran pelanggan PLN Kalselteng diuji. Pemadaman bergilir terus terjadi dalam jeda waktu yang semakin sering. Alasan PLN bermacam-macam, mulai dari permasalahan teknis hingga gangguan alam. Hingga awal Desember pun pemadaman makin menjadi. Padahal sebelumnya, PLN Kalselteng sudah berjanji tak byarpet lagi.

Seperti Selasa (1/12) kemarin di kawasan Guntung Manggis Trikora, Sungai Ulin dan sekitarnya yang kembali terjadi pemadaman. Sehari bahkan dua kali. Dini hari dan siang hari.

Tokoh warga Sungai Ulin, Kamsun, mengaku geram dengan kondisi ini. PLN Kalselteng dikatakannya abai terhadap janji. Maklum, November kemarin PLN berjanji bahwa Desember 2015 ini kondisi listrik dipastikan aman.

“Mana buktinya tetap saja terjadi pemadaman listrik,” ucap Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Banjarbaru itu seperti dilansir Radar Banjarmasin.

Pemadaman listrik bergilir ini ibarat santapan yang tersaji di warung kopi pagi, demikian Kamsun menggambarkan. Sudah seperti sarapan bagi warga Kalimantan Selatan. Betapa tidak, hampir setiap hari terjadi pemadaman bergilir di sejumlah kawasan. “Bingung juga kita,” ucapnya.

Ironisnya lagi tarif listrik pelanggan 1.300 VA naik 11 persen pada 1 Desember ini. Hal ini terkait tarif penyesuaian (adjustment) listrik Desember 2015. Sesuai Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 31/2014 sebagaimana telah diubah dengan Permen ESDM No 09/2015, tarif penyesuian diberlakukan setiap bulan, menyesuaikan perubahan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap mata uang rupiah, harga minyak, dan inflasi bulanan. “Pelayanannya kurang, tapi tarif listrik dinaikan,” tegasnya.

Tarifnya bervariasi. Seperti dilansir dari website PLN, Selasa (1/12) kemarin, mulai Desember 2015 pelanggan PLN golongan tarif rumah tangga daya 1.300 VA dan 2.200 VA diberlakukan mekanisme tarif penyesuaian. Kedua golongan itu naik 11 persen Rp 1.352 per kilowatt hour (kWh) menjadi Rp 1.509,38 per kilowatt hour (kWh, atau naik Rp157,38 per kWH-nya. Hal itu menyusul penerapan tarif penyesuaian kepada 10 golongan tarif lainnya yang sudah berlaku sejak 1 Januari 2015.

Dengan mekanisme tarif penyesuaian, tarif listrik setiap bulan memang dimungkinkan untuk turun, tetap, atau naik berdasarkan ketiga indikator tersebut. Tarif penyesuaian berlaku bagi golongan pelanggan yang sudah tidak disubsidi, yaitu rumah tangga daya 1.300 VA ke atas, bisnis sedang daya 6.600 VA ke atas, industri besar daya 200 ribu VA ke atas, kantor pemerintah daya 6.600 VA ke atas, lampu penerangan jalan umum (PJU) dan layanan khusus.

Ketika dikonfirmasi, General Manager PLN Kalselteng Purnomo tak menampik tarif penyesuaian listrik per Desember 2015. Namun menurutnya tarif tidak selalu mengalami kenaikan. “Bisa naik, bisa turun. Berdasarkan naik turunnya kurs, inflasi dan harga minyak,” ucapnya.

Dijelaskan Purnomo, daya 1300 dan 2200 VA sudah sesuai Permen ESDM termasuk yang seharusnya sudah diberlakukan sejak 1 Januari 2015. Namun kedua golongan tarif ini ditunda sampai 1 Desember 2015 ini.

Kemudian terkait masih padamnya listrik hari pertama bulan Desember ini, Purnomo meminta maaf kepada pelanggannya. Pihaknya meminta waktu dua hari karena material spare part China tidak langsung dipasang di PLTU Asam-asam karena saat ini tengah dilakukan pemeliharaan.

“Nggak bisa langsung plug and play. Insya Allah dalam dua hari ini bisa masuk,” ucapnya.


Omzet Pengusaha Turun 40 Persen

Sementara itu, dua bulan terakhir ini para pengusaha di Kalimantan Selatan resah. Omzet mereka turun lantaran pemadaman bergilir yang dilakukan PLN. Ironisnya penurunan omzet terjadi hampir 50 persen.

Seperti diungkapkan Emi Lasari, Pengusaha Fotokopi di Jalan Hercules Kelurahan Landasan Ulin Timur Banjarbaru. Bulan Oktober dan November ini omzetnya turun 40 persen lebih. “Iya jelas. Turun omzet gara-gara lampu mati,” ucapnya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (1/12) kemarin.

Selain omzet turun, mesin juga sering rusak. Hal ini mengakibatkan ongkos operasional perawatan membengkak. Dicontohkannya, ketika mesin fotokopi dan laminating sedang berjalan, tiba-tiba mendadak listrik padam. Praktis proses cetak dan laminating menjadi terhambat.

“Kertasnya masih di dalam. Ya pasti kejepit dari mesin fotokopi dan harus diambil paksa. Itu yang bikin mesin cepat rusak,” ucap wanita yang juga anggota DPRD Banjarbaru.

Menurut Emi, dampak globalnya bisa mengganggu roda perekonomian Kalimantan Selatan, termasuk juga minat investor untuk masuk ke Kalsel. “Yang ironinya, daerah lumbung energi yang kaya SDA kita mengalami krisis listrik,” tegasnya.

Diungkapkan Emi, permasalahan listrik ini bukan permasalahan baru. Sudah beberapa tahun dialami masyarakat Kalsel. Bahkan sampai kemarin Presiden RI Joko Widodo datang dan audiensi dengan Perhimpunan Nasional Aktivis (Pena) 98 juga sudah disampaikan persoalan krisis listrik di Kalsel.

“Sampai hari ini kita melihat belum ada langkah konkrit untuk mengatasi persoalan listrik di banua ini,” ucapnya.

Parahnya lagi tarif listrik dinaikan mencapai 11 persen lebih. Jika sebelumnya setiap bulan Emi harus membayar tagihan listrik sekitar Rp500 ribu. Bisa dipastikan tagihan listrik Desember 2015 yang dibayarkan bulan Januari nanti sekitar Rp550 ribu. “Sudah naik, matinya tanpa spasi,” keluhnya.

Pengusaha lainnya, pemilik warung makan Jalan Trikora, Mas Gundul mengungkapkan terpaksa membeli sebuah genset agar mesin pendingin dan kulkasnya tetap berfungsi. Tentu saja, anggaran warung makannya bertambah karena menggunakan bahan bakar solar.

“Baru saja kami buka di sini dengan bantuan pinjaman perbankan dan rekanan. Semoga saja listrik kembali normal dan bisa balik modal,” ucapnya.

Intensitas pemadaman yang semakin sering terjadi tentu sangat merugikan masyarakat, baik pelaku UMKM, pengusaha, instansi pemerintahan dan lembaga pendidikan. “Walau dengan memberikan informasi melalui media massa, tetap saja pemadaman tidak sesuai jadwal,” ucap Ketua Bidang UKM, Koperasi, Ketenagakerjaan dan Olahraga BPD Hipmi Kalsel Sudirwo.

Menurutunya banyak pihak yang dirugikan, dengan kondisi ekonomi yang masih labil saat ini, pelaku UMKM dan pengusaha banyak yang menahan produksi hingga terjadi penurunan omzet yang sangat besar.

“Bagi instansi pemerintahan, layanan publik menjadi lambat dan mempersulit kepentingan masyarakat dan usaha,” ucapnya.

Ia pun berharap pemadaman ini hanya sementara. Pemerintah harus segera mencari solusi terkait krisis listrik ini. “Wilayah Kalsel justru ladangannya batu bara dan air yang melimpah. Hanya kurangnya optimalisasi manajemen PLN sendiri,” ucapnya.

Menurut Sudirwo, aneh jika setiap kali alasan PLN adalah perawatan dan kondisi defisit daya listrik. Karena ada penambahan mesin baru, pasokan bahan bakar hingga tunggakan pelanggan yang sudah sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
PLN, Mana Janjimu? Pemadaman Listrik Menurunkan Omset 40 Persen PLN, Mana Janjimu? Pemadaman Listrik Menurunkan Omset 40 Persen Reviewed by Banua Syariah on 6:06:00 PM Rating: 5