Islam Tanpa Teror, Jalan Penegakan Khilafah

BANUASYARIAH.COM - Akhir-akhir ini tengah marak upaya menebar keresahan dan ketakutan massal melalui teror bom, baik yang sekedar isu gelap dan gertak sambal maupun yang benar-benar nekad merealisasikan ancamannya.  Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama dan tidak hanya terjadi di kota-kota besar namun juga di daerah-daerah.  Yang paling mutakhir adalah peristiwa bom Thamrin pada 14 Januari 2016 yang lalu.

Ironisnya, peristiwa-peristiwa ini senantiasa dituduhkan kepada kaum muslimin sebagai pelakunya.  Stempel teroris memang sudah sangat lekat dengan perjuangan Islam.  Sederet fakta jadul seperti Komando Jihad, Woyla, peledakan Borobudur, BCA, Istiqlal, dan masih banyak lagi yang lainnya menunjukkan betapa eratnya pelekatan stempel kekerasan dengan Islam.

Terlepas dari benar atau salahnya tuduhan di atas, nampaknya kaum muslimin – apalagi yang berkeinginan mewujudkan Khilafah – perlu mengkaji ulang hukum-hukum syara’ yang berkenaan dengan upaya tersebut.

Mencontoh Pola Rasul

Rasulullah SAW pertama kali memulai da’wahnya di Makkah dalam suasana kejahiliyahan masyarakat yang jauh dari aturan agama.  Pada fase awal da’wah (sirriyah) dan ketika da’wah tengah memasuki masyarakat secara terang-terangan (zhahriyah), Rasulullah SAW berbenturan dengan sistem kehidupan saat itu yang bertentangan secara diametral dengan sistem Islam yang beliau bawa. Saat itu, penerapan syari’at Islam hanya dapat dilakukan di kalangan pengikut beliau saja. Demikian pula, keamanannya pun berada di tangan orang-orang kafir Quraisy. Kondisi Rasulullah SAW saat itu serupa dengan kondisi kita sekarang. Sebagaimana Rasulullah SAW ketika itu “tidak dapat berbuat banyak” untuk mengatur masyarakat dengan Islam, begitu juga kita saat ini.  Sebagaimana Rasulullah SAW ketika itu “tidak dapat menjaga kemanan” kaum muslimin, begitu juga kita saat ini. Karena kondisi yang serupa ini, maka wajib bagi kita untuk mengkaji dan meneladani jejak Rasulullah SAW dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam ketika beliau berada di Makkah.

Menghadapi dan mengubah realita masyarakat yang tidak Islami di Makkah tidak dilakukan Rasulullah SAW dengan jalan mengangkat senjata (cara-cara fisik/kekerasan).  Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW di Makkah ketika Daulah Islamiyah belum berdiri.  Tidak ada satu peristiwa pun selama Rasulullah SAW berda’wah di Makkah yang dapat dijadikan petunjuk untuk membolehkan penggunaan metode fisik/kekerasan dalam membangun Daulah Islamiyah.

Hal ini dapat difahami dengan sangat jelas ketika terjadi bai’at Aqobah II dimana beliau telah mendapatkan dukungan kekuatan yang memadai dari para jawara suku Aus dan Khazraj yang pemberani dan tukang perang bahkan dengan tawaran untuk melakukan peperangan.  Namun, semua itu beliau tolak dengan tegas, kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Kembalilah kalian ke (hewan-hewan) tunggangan kalian.”  Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata : “Demi Yang mengutusmu dengan benar, jika engkau kehendaki untuk memerangi penduduk Mina besok pagi dengan pedang-pedang kami (maka akan kami lakukan).”  Rasulullah SAW menjawab : “Kami belum diperintahkan untuk melakukan (aktivitas) itu, maka kembalilah ke hewan-hewan tunggangan kalian.” Dikatakan : “Maka kami pun kembali ke peraduan kami lalu tidur hingga tiba waktu subuh.”

Kata-kata “Kami belum diperintahkan (lam nu’mar di dzalika) menunjukkan bahwa hingga saat peristiwa bai’at Aqobah II itu, Rasulullah SAW belum diperintahkan Allah SWT untuk melakukan perubahan atau perlawanan secara fisik (perang). Hanya karena belum diperintahkan, bukan karena belum ada kemampuan.

Dalil lain yang menunjukkan tidak adanya penggunaan aktivitas fisik/kekerasan dalam aktivitas da’wah di Makkah adalah firman Allah SWT yang artinya :

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.” (QS. Al Hajj : 39).

Turunnya ayat ini menunjukkan kebolehan penggunaan aktivitas fisik/kekerasan.  QS. Al Hajj : 39 ini termasuk ayat-ayat Madaniyah (ayat yang turun di Madinah). Artinya, penggunaan aktivitas fisik/kekerasan baru dibolehkan oleh Allah SWT ketika Rasulullah SAW telah berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah, tidak berhubungan dengan aktivitas da’wah sewaktu di Makkah.  Terlebih lagi, jika difahami berdasarkan mafhum mukhalafah (pemahaman terhadap makna ayat yang diambil dari kebalikan manthuq/tekstualnya) maka ayat ini juga mengandung makna bahwa sebelum turunnya QS. Al Hajj : 39 ini belum dibolehkan penggunaan aktivitas fisik/kekerasan.

Adapun berkenaan dengan hadits-hadits yang dijadikan dalil untuk melegitimasi penggunaan aktivitas fisik/kekerasan seperti sabda Rasulullah SAW dari Auf bin Malik Al Asyja’iy yang memberitakan kondisi-kondisi para pemimpin sampai pada lafadz :

“...Para sahabat bertanya : ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka ?’ Rasulullah menjawab : ‘Jangan ! Selama mereka masih menegakkan sholat.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Riwayat dari Ubadah bin Ash Shamit yang artinya :

“...agar kami tidak merebut kekuasaan dari seorang pemimpin kecuali kalau kalian melihat kekufuran yang nampak secara terang-terangan yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Fakta (tahqiqul manath) yang ditunjukkan oleh hadits-hadits tersebut adalah keadaan di dalam Darul Islam.  Artinya, apabila terdapat seorang penguasa yang mengubah negerinya dari Darul Islam menjadi Darul Kufur, maka wajib atas kaum muslimin mencegahnya dan mengembalikannya ke jalan yang benar.  Jika tetap mbandel dan keras kepala, maka perubahan wajib dilakukan dengan menggunakan aktivitas fisik/kekerasan.  Karena yang diberitakan Rasulullah SAW dalam kedua hadits tersebut adalah pemimpin di dalam Darul Islam.  Ditambah lagi makna “Jangan ! Selama mereka masih menegakkan sholat.” merupakan makna kinayah (dengan penyebutan sebagian untuk menunjuk keseluruhan) bagi penerapan seluruh hukum-hukum Islam.  Penunjukan dari hadits-hadits tersebut (penggunaan aktivitas fisik/kekerasan) lebih tepat diterapkan ketika Musthafa Kemal Attaturk mengganti sistem kekhilafahan menjadi sistem republik.  Bukan pada saat ini ketika wilayah-wilayah yang ada sekarang telah berstatus Darul Kufur.

Lantas, apa yang dilakukan Rasulullah SAW untuk mengubah realita masyarakat di Darul Kufur?  Sangat jelas terlihat, pada fase Makkah beliau dan para sahabat yang telah dibina beliau di Darul Arqom ‘hanya’ melakukan aktivitas yang bersifat fikriyah berupa perang pemikiran (ghozwul fikri)dengan membongkar kebobrokan sistem yang kehidupan yang ada pada saat itu.  Beliau menjelaskan rusaknya kepercayaan yang dianut masyarakat, seperti tak berdayanya berhala-berhala yang mereka sembah (QS. An Nahl : 75-76, Al Furqon : 55, Al An’am : 191, Fathir : 40, dll), penamaan malaikat dengan nama-nama perempuan (QS. An Najm : 27), mengikuti persangkaan dalam beriman (QS. Al Jatsiyah : 32, Yunus : 66, 68), dan lain-lain.  Beliau juga menjelaskan kerusakan perilaku masyarakat seperti membunuh bayi-bayi perempuan, mengurangi timbangan, dan lain-lain.  Bahkan beliau juga melaknat tokoh-tokoh kafir seperti Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil Arwa binti Harb (QS. Al Lahab : 1-5), Walid bin Mughiroh (QS. Al Mudatsir : 18-25), An Nadhar bin Al Harits (QS. Luqman : 6). Beliau juga melaknat mereka dengan sabdanya :

“Ya Allah, binasakanlah Abu Jahal, Uthbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Utbah, Umayyah bin Khallaf, Uqbah bin Abi Mu’ith, (dan menyebut yang ketujuh tetapi perawi tidak menghafalnya.” (HR. Bukhari).

Beliau juga menentukan frame (bingkai/kerangka) perjuangan seperti menolak kompromi politik yang ditawarkan orang-orang Quraisy untuk pada saat tertentu melakukan aktivitas da’wah sementara pada saat lain tidak, menolak bergabung dengan sistem kufur yang ada, menolak menyembah tuhan-tuhan mereka secara bergantian (QS. Al Kafirun : 1-6), dan lain-lain.

Dengan demikian, sekarang pun aktivitas yang harus dijalani oleh gerakan da’wah manapun adalah membongkar pemikiran-pemikiran yang tidak berasal dari Islam seperti sekulerisme, demokrasi, sosialisme, politik pasar bebas, HAM, dan lain-lain disertai mengungkap keculasan para pengusungnya.  Jelaskan kerusakannya dan berilah gambaran sistem yang baik (Islam) yang merupakan sistem kehidupan yang diridhoi oleh Allah SWT Pencipta alam semesta.  Bukan dengan teror dan kekerasan.

Wallahu a’lam !

*Oleh Ustadz Gusti Orin
Islam Tanpa Teror, Jalan Penegakan Khilafah Islam Tanpa Teror, Jalan Penegakan Khilafah Reviewed by Ahmad Maghfur on 10:39:00 PM Rating: 5