Ini Penyebab Mengapa Gafatar Tumbuh di Indonesia dan Solusinya

Ustadz Wahyudi Ibnu Yusuf
Beberapa pekan terakhir kita dihebohkan dengan Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Menurut hasil penelusuran dan kajian PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat), Gafatar dinyatakan menyimpang karena tiga alasan:

1. Gafatar menggabungkan Islam dan agama lain menjadi satu kepercayaan dan menyebarkannya pada masyarakat.
2. Gafatar merupakan ‘ganti kulit’ dari Komunitas Millah Abraham (Komar). Komar ini pun juga hasil ‘ganti kulit’ dari organisasi al-Qiyadah al-Islamiyyah yang dinyatakan sesat oleh Jaksa Agung pada tahun 2007.
3. Gafatar meyakini bahwa Ahmad Musadeq sebagai al-Masih al –Maw’ud (Juru selamat yang menggantikan Nabi SAW)

Tumbuh Subur di Alam Demokrasi

Mantan Ketum Gafatar mengklain jumlah anggotanya mencapai 50 ribu orang. Mengapa aliran seperti Gafatar ini tumbur subur di negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini? setidaknya hal ini mengerucut pada tiga sebab:

1. Lemahnya pemahaman Islam. Padahal sudah sangat jelas bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad saw. Keyakinan ini bagian dari pokok/rukun iman yakni iman pada Nabi dan Rasul. Hal ini dijelaskan dengan sangan tegas dalam dalil yang bersifat qath’I baik tsubut (sumber) dan dalalah (penunjukkan). Jika diingkari maka dapat menjatuhkan pada kekafiran (murtad). Allah berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad bukanlah ayah dari salah satu laki-laki di antara kalian. Akan tetapi Beliau adalah utusan Allah dan penutup para Nabi (QS. Al Ahzab [33]: 40)

Lemahnya pemahaman ini semakin diperparah dengan marasuknya paham pluralisme yang ‘mengharamkan’ klaim kebenaran satu agama dan menganggap semua agama sama. Ditambah paham kebebasan sebagai ‘anak kandung’ sistem demokrasi yang menghalalkan segala hal termasuk mencampuradukkan agama, jadilah agama ‘gado-gado’ ala Gafatar.

2. Faktor kemiskinan. Iming-iming rumah, lahan dan sebagainya di tengah beratnya himpitan ekonomi bagaimanapun masih sangat efektif untuk ‘menukar’ agama seseorang. Terlebih setiap tahun jumlah orang miskin terus meningkat, bahkan menurut Bank Dunia mencapai ratusan juta jiwa. Tidak hanya miskin secara kultural tapi juga struktural. Dimiskinkan secara terstruktur dengan sistem kapitalisme yang hanya berpihak pada orang bermodal.

3. Faktor ketegasan Negara. MUI menyebutkan saat ini ada 300 aliran sesat di Indonesia, peringkat teratas diduduki oleh Ahmadiyah. Pertanyaannya adalah apa sikap pemerintah terhadap aliran-aliran sesat ini? Bukankah Ahmadiyah masih diperbolehkan menyebarkan paham sesatnya?

Akar Masalah dan Solusi

Akar dari masalah dan semua masalah di negeri ini adalah tidak diterapkannya syariat Allah yang termaktub dalam kitabullah dan sunnah nabi-Nya. Tidak cukupkah kita berpegang dengan pesan Nabi saw?

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka, tidak akan tersesat jika kalian berpegang pada keduanya. Dua pusaka itu adalah kitabullah dan Sunnah nabi-Nya (HR. Imam Malik, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majjah).

Dengan diterapkannya Islam setiap diri diminta menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka. Caranya dengan menjadikan diri kita faqih fiddien (memahami agama kita dengan benar) dan mengajarkannya pada anggota keluarga kita. Negara juga menerapkan sistem pendidikan yang bertujuan mengokohkan akidah rakyatnya dengan kurikulum yang berbasis akidah Islam.

Dengan diterapkanya syariat Islam di bidang ekonomi maka rakyat akan disejahterakan. Karena ukuran sejerahtera dalam ekonomi Islam adalah terpenuhinya kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan) bagi setiap warga Negara. Bagaimana caranya? Di antaranya adalah dengan pengelolaan SDA sesuai dengan syariat. Yakni dikelola oleh Negara, bukan diserahkan pada swasta apalagi swasta Asing, karena haram hukumnya.

Setelah dididik dengan pendidikan Islam, setelah disejahterakan dengan ekonomi Islam yang adil. Namun tetap mengikuti dan menyebarkan faham sesat maka mereka harus dikembalikan ke jalan yang lurus (shirathal mustaqiim). Caranya dengan penerapan hukum hudud yakni hukum bunuh, setelah sebelumnya diajak berdialog dan diminta bertaubat.

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَرَّقَ قَوْمًا فَبَلَغَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحَرِّقْهُمْ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Dari Ikrimah bahwa Ali bin Abi Thalib telah membakar satu kaum (Ibnu Hajar menjelaskan maksudnya adalah kaum Sabi’ah, pengikut Abdullah bin Saba’ yang menganggap bahwa Ali adalah tuhan mereka). Kabar peristiwa tersebut sampai pada Abdullah bin ‘Abbas. Kemudian beliau berkata: Kalau saya tidak akan membakar mereka, karena Nabi saw bersabda ‘Janganlah kalian menghukum dengan hukuman Allah (membakar)’. Sungguh aku akan membunuh mereka. Sebagaimana Sabda Nabi ‘Siapa saja yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia’. (HR. Bukhari)

Penutup

Hanya dengan Islam kaffah diri dan keluarga kita akan terjaga dari beragam aliran sesat termasuk faham sesat seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme termasuk turunannya seperti demokrasi. Semua itu adalah jerat-jerat syaitan untuk menyesatkan anak cucu Adam. Cara paling praktis untuk menangkalnya adalah dengan menerapkan Islam secara kaffah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian pada Islam secar totalitas dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian (QS. Al-Baqarah [2]: 108)

Alalak, 29 Januari 2016
Ini Penyebab Mengapa Gafatar Tumbuh di Indonesia dan Solusinya Ini Penyebab Mengapa Gafatar Tumbuh di Indonesia dan Solusinya Reviewed by Ahmad Maghfur on 11:44:00 AM Rating: 5