BNPT Memposisikan Diri Melawan Allah, Rasulullah dan Kaum Muslimin

Oleh : Ustadz Luthfi Hidayat

04 Februari 2016 M
25 Rabiul Akhir 1437 H

بسم الله الرحمن الريم

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan ada 19 pondok pesantren yang terindikasi sarat dengan aktivitas radikalisme di Indonesia.

Kepala BNPT Saud Usman menuturkan, pondok pesantren tersebut tersebar mulai dari Lampung, Serang, Jakarta, Ciamis, Cilacap, Magetan, Lamongan, Cilacap, Solo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Makassar, hingga Poso.

"Ini yang kami profiling banyak berlangganan dengan aktifitas radikalisme," ujar Saud usai Menjadi pembicara dalam Acara Diskusi di kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Pusat, Selasa (2016/02/02).

Pernyataan sepihak kepala BNPT ini sangat tendensius terhadap umat Islam dan salah sasaran. Seharunya BNPT mengurusi bentrok fisik gerakan Radikal Kepemudaan Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) di Medan beberapa hari yang lalu.

Kenapa BNPT tidak menyebut basis pemahaman ormas Pemuda tersebut dengan gerakan yang penuh dengan radikalisme. Padahal jelas-jelas bentrok fisik tersebut menyebabkan dua pemuda tewas, puluhan terluka, dan membuat kota Medan mencekam.  BNPT tidak menyebut bahwa ormas Pemuda Pancasila yang membunuh secara sadis dua orang pemuda IKP itu sebagai organisasi Pemuda Pancasila Radikal (PPR).

Tudingan BNPT tersebut jelas melukai hati umat Islam. Omongan  Saud Usman Nasution itu menyakiti hati para tokoh Islam, para kiyai, alumi pesantren, santri-santri yang ada di negeri ini, dan seluruh kaum muslimin.

Ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin mengatakan bahwa pesantren itu mengajarkan tentang akhlak mulia. “Saya masih ragu, di mana pesantren yang mengajarkan kekerasan itu?” ujarnya. (03/02/2016) di Gedung MUI, Jakarta Pusat.

Kyai Ma’ruf memandang aneh jika pesantren mengajarkan kekerasan. “Saat ini pesantren itu mengajarkan akhlak mulia, apalagi akhlak kepada orang tua, kepada guru. Akhlaq mulia kok dibilang kekerasan,” tegasnya.

BNPT seolah buta dan tuli atas jasa-jasa lembaga Pesantren di negeri ini. Sejarah Indonesia sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari peran dan pejuangan ulama yang dihasilkan dari pesantren yang tersebar di negeri ini.

Sejarah mencatat, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial, budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia.

Sejak masa awal kedatangan Islam, hingga masa penjajahan Belanda, masa kemerdekaan hingga kini, pesantren telah menyumbang sejuta jasa yang tak ternilai harganya bagi Indonesia.

Di  kurun awal tahun 1900-an,  muncul nama-nama besar seperti KH Wahab Hasbullah, M. Natsir, KH Wahid Hasyim, Buya Hamka, KH Saifuddin Zuhri,  KH Hasyim Asyari (Pendiri NU), H Oemar Said Cokroaminoto (pendiri Sarekat Islam), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan lain sebagainya. Mereka semua adalah alumnus sebuah Pesantren.
 
Terusirnya penjajah dari negeri ini adalah hasil dari jerih payah dan tetesan darah para syuhada yang terlahir dari rahim Pesantren.

Jihad yang selama ini disalahartikan adalah kalimat menggelegar  yang sangat ditakuti oleh penjajah.   Efektif dalam mengusir penjajah.

Bung Tomo, adalah salah satu aktor pengobar semangat Jihad para pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya kala itu.  Pemuda bernama asli Sutomo ini sukses membakar semangat rakyat Surabaya untuk melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda, yang ingin kembali menduduki negeri ini  setelah kekalahan Jepang.

Adalah Ustadz Jenderal Sudirman memiliki moto perjuangan; “Hidup mulia atau mati syahid”.  Ayat-ayat Quran selalu meluncur deras dan tegas dari bibir sang Jenderal untuk membakar semangat prajurit. Kata “Jihad” dalam Al Quran selalu menjadi idola untuk diucapkannya. Gema takbir pun hadir dari bibir Jenderal besar ini ketika akan memimpin peperangan, ‘Allahu Akbar!”

Kaum muslimin tidak boleh tinggal diam atas penghinaan BNPT ini.  Pasalnya, tuduhan Kepala BNPT Saud Usman Nasution entah secara sadar atau tidak, merupakan upaya untuk memberangus tempat-tempat yang menghasilkan tunas-tunas Islam untuk jangka panjang. “Jadi ini Islam yang sedang diserang. Ini bentuk-bentuk kebodohan dia,” kata Abdurrahim (juru bicara Jama'ah Ansharu Syari'ah, 03/02/2016).

Pendiskreditan BNPT terhadap umat Islam bukan kali yang pertama, beberapa waktu yang lalu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah memblokir 22 situs/website radikal atas aduan BNPT.

Kaum muslimin...

Tuduhan tidak berdasar BNPT atas 19 pesantren jelas-jelas memposisikan BNPT menyerang Islam.

BNPT memposisikan diri berhadapan dengan agama mayoritas anak bangsa yang jelas-jelas berjasa dalam mengusir penjajah dari negeri ini.  Lembaga Pesantren yang dituduh buruk oleh BNPT adalah lembaga yang mengkaji dan memperdalam ayat-ayat Allah, Al Qur'an dan As Sunnah.  Jadi sikap BNPT ini  hakikatnya adalah wujud nyata permusuhan dan perlawanan BNPT terhadap Allah, Rasulullah, dan kaum muslimin. []
BNPT Memposisikan Diri Melawan Allah, Rasulullah dan Kaum Muslimin BNPT Memposisikan Diri Melawan Allah, Rasulullah dan Kaum Muslimin Reviewed by Ahmad Maghfur on 8:51:00 PM Rating: 5