Cinta di Atas Garis

Kalau bagi sebagian orang cinta adalah sesuatu yang abstrak, maka tidak begitu dengan cinta di atas garis. Ia nyata, konkrit. Ia begitu mudah dilihat. Ia begitu tampak. Cinta di atas garis bukan sekadar luapan hati yang menggebu-gebu tak jelas, melainkan diwujudkan dalam amal nyata yang benar dan ikhlas. Cinta di atas garis adalah; cinta yang taat, menggerakkan, penuh kepedulian, dan menyelamatkan.

Cinta yang Taat

Ya Rasulullah, seandainya engkau perintahkan kami pergi ke ujung bumi, pasti akan kami tempuhi, seandainya engkau perintahkan kami untuk membelah samudera, niscaya akan kami arungi.

Begitulah yang diucapkan Saad bin Ubadah sebagai wujud cintanya kepada Rasulullah. Baginya, cinta adalah ketaatan. Mencintai Rasulullah, berarti menaati segala yang diperintahnya, meskipun berat.

Dan bukankah memang demikian sikap orang yang mencinta? Cinta menghajatkan ketaatan pada yang dicinta. Sayangnya, banyak di antara muda-mudi Muslim yang keliru dalam menyerahkan ketaatannya. Mereka taat pada kekasih yang justru mengajak pada dosa, sebaliknya mereka enggan taat pada Allah dan Rasul-Nya yang mengajak ke surga.

Cinta yang Menggerakkan

Siapa di antara kalian, yang mau menyusup ke perkemahan Abu Sufyan dan pulang kembali untuk mengabarkan apa yang didengarnya, aku berdoa pada Allah agar ia menjadi karibku di surga. Sabda sang Nabi.

Hening. Tidak ada satupun yang menyahut tawaran indah berupa perkariban di surga dengan sang Nabi. Bukan tak mau, tapi malam terlalu dingin, badan terlalu letih, dan perut terlalu lapar.

Mana Huzaifah? Sang Rasul menyebut sebuah nama setelah tiga kali tawarannya tidak disambut. Saya yaa Rasulullah. Jawab nama yang dimaksud.

Kamu pergilah ke perkemahan Abu Sufyan, dengarkan apa yang mereka rencanakan, dan pulanglah untuk mengabarkannya kepadaku. Rasulullah memberi perintah.

Maka bergeraklah Huzaifah. Dalam gelap malam, dingin yang menusuk tulang, lelah yang meremukkan badan, dan lapar yang menyiksa. Sejatinya, ia enggan untuk pergi ke sana. Namun cintanya pada Allah dan Rasul-Nya, mengalahkan semua itu, dan ia bergerak. Sebab ia adalah para penggenggam cinta di atas garis, cinta yang taat, cinta yang menggerakkan.

Cinta yang Peduli

Bagi para pengemban cinta di atas garis, kepedulian itu meluas. Mereka tidak disibukkan oleh cinta yang remeh. Kepedulian mereka tumbuh besar kepada saudara-saudara seiman. Mereka peduli pada kesusahan hidup keluarganya, tetangganya, masyarakat di sekitarnya, bahkan lebih luas lagi, mereka mulai sibuk memikirkan nasib saudara seiman mereka di negeri-negeri Muslim yang terjajah. Mereka bangun pagi, lalu mendoakan keselamatan bagi saudara mereka di Palestina, Kashmir, Xinjiang, Uzbekistan, Rohingnya, dan di tempat lainnya di mana Muslim dianiaya.

Para pengemban cinta di atas garis percaya bahwa kaum Muslimin laksana satu tubuh. Manakala satu bagian tubuh terluka, maka bagian lain ikut merasakan sakitnya. Sebab itulah mereka peduli pada saudara seiman di berbagai belahan dunia. Dan kepedulian mereka diwujudkan dengan gerak nyata agar kaum Muslimin tak lagi menderita.

Cinta yang menyelamatkan

Sejatinya, cinta itu menginginkan keselamatan bagi yang dicinta. Sebagaimana ayah yang selalu inginkan keselamatan untuk anaknya, dan memang begitulah sejatinya cinta; menyelamatkan.

Seperti dijelaskan sebelumnya, cinta melahirkan kepedulian, dan kepedulian diwujudkan dalam gerak nyata untuk menyelamatkan mereka dari derita. Mereka terluka melihat Indonesia dijarah kekayaan alamnya. Mereka menangis melihat para pemuda Indonesia terjerumus dalam pergaulan bebas dan penyimpangan seksual lainnya.

Para pengemban cinta di atas garis akan siap mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan para pemuda Indonesia dari kehancuran. Mereka siap berkumpul bersama pemuda Muslim lainnya yang peduli. Mereka akan siap berjuang, menguras pikiran dan tenaga demi menyelamatkan saudara-saudara mereka tercinta.

Mengapa? Karena mereka adalah pengembann cinta, CINTA DI ATAS GARIS.

-------------------------------------------------------------------

Penulis : Syarbaini Abu Hamzah.  Dimuat di tabloid Media Umat, di rubrik media gaul, halaman 13, edisi 167, 26 rabiul akhir-9 jumadil awal 1437 H/ 5-18 Februari 2016
Cinta di Atas Garis Cinta di Atas Garis Reviewed by Ahmad Maghfur on 2:52:00 PM Rating: 5