Dakwah Islam: Perubahan Pemikiran Tanpa Kekerasan


Catatan Hasil Halqah Islam dan Peradaban (HIP) Kabupaten Tabalong Edisi 16: Islam Tanpa Teror, Jalan Penegakkan Syari'ah dan Khilafah

Oleh Ustadz H. Luthfi Hidayat

بسم الله الرحمن الرحيم

• Pengertian Dakwah
Secara bahasa dakwah adalah seruan. Firman Allah SWT;

(وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
[Surat Fussilat 33]

Sedangkan menurut istilah syara' dakwah adalah seruan kepada orang lain agar melakukan kemakrufan (yang baik yakni Al Islam) dan mencegah daripada kemungkaran.

Demikian juga ada yang mendefinisikan bahwa dakwah adalah usaha untuk mengubah keadaan --masyarakat-- yang rusak, yang tidak Islamiy, menjadi --masyarakat yang-- baik dan sesuai dengan Islam. Pengertian tersebut terambil dari Firman Allah SWT;

(وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."
[Surat Aal-E-Imran 104]

Demikian pula dari Hadits Rasul saw;

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ 

"Dari Hudzaifah bin Al Yaman dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do'a kalian tidak lagi dikabulkan." (HR. At Tirmidzi).

• Dakwah adalah Perubahan Cara Berfikir

Dalam sebuah komunitas atau masyarakat, dakwah adalah menyeru manusia, bukan yang lain. Yakni mengubah yang ada pada diri manusia dari yang tidak baik menjadi baik dan bermartabat. Tidak ada hal lain jika kita ingin mengubah yang ada pada manusia  kecuali dengan melakukan perubahan pemikiran manusia.  Karena perubahan perilaku, perubahan akhlak pada manusia berawal dari perubahan pemikiran manusia.

Demikian pula berbicara dakwah adalah berbicara tentang kebangkitan. Yakni, perubahan masyarakat yang rendah menjadi masyarakat yang bermartabat, terhormat, dan berjaya.

Dan kunci dari bangkitnya manusia itu berasal dari bangkit dan meningkatnya cara berfikirnya. Syekh taqiyuddin An Nabhaniy  --rahimahullah-- dalam awal kitab Nizham Islam menguraikan hakikat kebangkitan dan perubahan pemikiran pada manusia.

ينهض الإنسان بما عنده من فمرٍ عن الحياة و الكون و الإنسان، و عن علاقتِها جميعِها بما قبل الحياة الدنيا و ما بعدها. فكان لا بد  من تغيير فكر الإنسان الحاضر تغييرا أساسيا شاملا، و إيجاد فكر آخر له حتى ينهض.

"Bahwa bangkitnya manusia berawal dari sebuah --bangkitnya-- pemikiran, tentang kehidupan, alam semesta dan manusia. Dan hubungan semuanya terhadap sebelum dan sesudah kehidupan manusia. Oleh sebab itu, --jika ingin melakukan perubahan dan kebangkitan-- haruslah dengan melakukan perubahan atas pemikiran manusia saat ini dengan perubahan yang mendasar dan menyeluruh, dan --kemudian-- mewujudkan pemikiran yang lain --yang membangkitkan, yakni pemikiran yang ideologis-- sehingga manusia itu akan bangkit."

Demikian pula, bahwa sikap, perilaku, dan tindakan manusia atas segala realitas yang berbeda bersumber pada kesamaan atau perbedaan sudut pandang atau cara berfikir. Jadi mengubah sikap, perilaku manusia --tidak bisa dengan kekerasan fisik-- haruslah dengan perubahan pemikiran.

• Kerusakan Masyarakat adalah Kerusakan Pemikiran.

Masyarakat saat ini rusak dan sakit. Ibarat tubuh orang yang sakit, maka masyarakat saat ini memiliki berbagai kelemahan. Umat saat ini memiliki persoalan dan kelemahan di ekonomi, sosial, budaya, dan sisi kehidupan lain.

Ekonomi bangsa ini dijajah oleh asing dan aseng. Utang yang begitu deras dengan alasan investasi, tenaga kerja yang membanjiri, impor berbagai barang dan jasa, semuanya adalah bentuk kelemahan dan keterjajahan ekonomi. Hal ini berawal ketika negeri ini, baik secara sadar maupun tidak, langsung maupun tidak langsung menerapkan sistem ekonomi Kapitalis, yang meniscayakan berbagai persoalan ekonomi tadi. Penerapan dan adopsi sistem Kapitalis ini adalah bersumber dari persoalan pemikiran dan pemahaman.

Umat ini juga dibelenggu dan dijajah dengan pemikiran-pemikiran HAM  (Hak Asasi Manusia). Kebebasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, kebebasan seks di kalangan remaja, menyeruaknya kampaye LGBT, semua  dengan alasan HAM. HAM hakikatnya adalah penjajahan pemikiran.

Demikian pula maraknya kepala Daerah yang terjerat kasus hukum, lebih dari separoh kepala Daerah Kabupaten dan Kota di Indonesia terindikasi korupsi. Jika kita telisik, salah satu persoalannya adalah biaya kampanye yang sangat tinggi. Suara rakyat harus dibeli. Yang banyak uang lah yang akan menang. Ini adalah keniscayaan dalam sistem politik demokrasi. Ini adalah bukti persoalan dan penjajahan dalam pemikiran pemerintahan.

Jadi, hakikatnya sakitnya masyarakat semua bersumber dari persoalan pemikiran.  Di ekonomi kita terbelenggu dengan pemikiran Ekonomi Liberal Kapitalis, di sosial, budaya dan kemasyarakatan, kita sakit karena menjadikan HAM sebagai alasan berbagai persoalan sosial, budaya dan kemasyarakatan. Di bidang Politik kita terjebak dan sakit karena memakai pemikiran sistem Demokrasi. Semua berakar dari persoalan pemikiran. Sehingga solusi yang difokuskan adalah solusi dalam persoalan pemikiran.

• Metode Penegakan Syari'ah dan Khilafah

Dakwah adalah aktifitas mulia, kata-kata yang terbaik, dan bagian dari ibadah kepada Allah. Sehingga, selain yang didakwahkan adalah kebaikan --yakni Islam-- cara yang ditempuh juga harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Agar ibadah ini diterima Allah swt.

Artinya metode dakwah, yakni jalan yang ditempuh untuk melakukan perubahan dari keadaan yang rusak menjadi lebih baik, harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Firman Allah SWT;

(ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ القابِ)

"Dan apa saja yang Rasul bawa kepada kalian, maka ambillah, dan apa yang beliau larang, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat pedih".
[Surat Al-Hashr 7]

Ciri yang teramat jelas dari keseluruhan tahapan dari metode dakwah Rasulullah saw adalah pemikiran dan tidak mencerminkan adanya kekerasan. Ada tiga tahapan dakwah Rasulullah saw.

Tahap Pertama, Rasul saw. melakukan pembinaan (tatsqif). Pembinaan ini merupakan usaha untuk mengubah kepribadian seseorang menjadi berkepribadian Islam. Dengan cara mengubah cara berfikir dan cara bersikap berdasarkan aqidah Islam.

Pembinaan secara intensif ini dilakukan Rasulullah secara rahasia di Rumah Sahabat Arqam bin Abil Arqam.  Beliau membina orang tidak membeda-bedakan umur, kedudukan, dan posisi di masyarakat. Ada muda, tua, miskin, dan golongan kaya. Semuanya menyatu dalam seorang insan yang berkeperibadian Islam.

Pembinaan intensif ini jelas sekali berfokus pada perubahan dan pembinaan pemikiran. Ayat-ayat al Qur'an yang dibacakan Rasul adalah ayat ayat --yang kita kenal dengan ayat Makiyyah-- yang berfokus pada perubahan cara berfikir. Cara berfikir ini pada akhirnya akan menancapkan keyakinan mereka terhadap Islam. Ini dilakukan Rasul saw selama 3 tahun.

Tahap Kedua, Rasul dan sahabat melakukan interaksi (tafa'ul ma'al ummah). Jika pada tahap tatsqif Rasul melakukan dakwah dan pembinaan secara rahasia, pada tahapan kedua ini Rasul dengan terang-terangan menjelaskan kerusakan msyarakat yang ada di Mekkah.

Dengan tegas dan jelas Rasul dan para shahabat menjelaskan kebobrokan pemikiran sosial, sistem ekonomi, budaya dan perilaku mereka. Hal ini dilakukan Rasul setelah turun ayat Al Qur'an Surat Al Hijr (15) ayat 94-96

(فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ.  إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ.  الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ)

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)."

Dalam tahapan ini, Rasul dan sahabat mengalami perlawanan yang luar biasa dari kafir quraisy, baik secara fisik maupun non fisik. Secara umum Rasul mengalami tiga perlawanan yakni penganiayaan (ta'dzib), propaganda negatif (di'awah), dan yang terakhir adalah embargo (muqatha'ah).

Adalah keluarga Yasir, mendapat penyiksaan yang teramat sangat oleh Kafir Quraiys. Namun Rasul saw tidak melakukan pembalasan atau perlawanan secara fisik.

Sewaktu Rasul menyaksikan keluarga Yasir disiksa, Rasul menyatakan: "Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada Kalian adalah Surga. Sesungguhnya aku tidak memiliki apa pun dari Allah untuk kalian." Atas sabda Rasulullah saw tersebut, Sumayyah (istri Yasir) dengan tersenyum menjawab: "Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas wahai Rasul". Jadilah Sumayyah seorang wanita pertama yang menjadi shahidah.

Sementara propaganda orang-orang Quraiys terhadap Muhammad SAW. adalah menuduh beliau sebagai tukang sihir. Sama seperti propaganda musuh-musuh Islam saat ini yang mengindentikkan isu terorisme dengan Islam. Ini adalah sebuah propaganda. Perang pemikiran terhadap umat Islam, harus dilawan dengan pemikiran juga.

Sedangkan muqatha'ah atau embargo. Kafir Quraiys membuat perjanjian tertulis memboykot Bani Hasyim dan Bani Muthallib secara total. Quraiys tidak akan melakukan pernikahan dan melakukan perdagangan dengan Bani Hasyim dan bani Muthallib. Semua tindakan fisik ini tidak dibalas oleh Rasul dengan tindakan fisik. Ini menunjukan dengan teramat jelas bahwa dakwah Rasul berfokus pada pemikiran dan tidak dengan tindakan fisik atau kekerasan.

Tahap yang ketiga dalah Penerapan hukum-hukum Allah, dengan adanya bai'at Aqabah ke-2. Yakni penyerahan kekuasaan dari Suku Aus dan Khajraj di Madinah. Ini terjadi pada tahun ke 12 kenabian (622 M) dan dilakukan Rasulullah tanpa dengan kekerasan senjata. Mereka terdiri dari 75 kaum muslim, 73 laki-laki dan 2 orang wanita. Inilah peristiwa yang menjadi cikal bakal Negara Islam di Madinah.

• Khatimah

Jalan penegakan Syari'ah dan Khilafah --sebagai pembawa rahmat-- tidak bisa dan haram diperjuangkan dengan cara-cara kekerasan dan teror. Jalan ini tidak sesuai dengan jalan yang dicontohkan Rasul saw dan kenyataannya banyak merugikan perjuangan Islam itu sendiri.[]
Dakwah Islam: Perubahan Pemikiran Tanpa Kekerasan  Dakwah Islam: Perubahan Pemikiran Tanpa Kekerasan Reviewed by Ahmad Maghfur on 10:35:00 PM Rating: 5