Diambang Keruntuhan Kapitalisme

Oleh : Ustadz Gusti Orri

Dulu, tatkala risalah Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW di  kota Makkah, Islam belumlah memiliki pengaruh apa-apa dalam percaturan politik internasional.  Peta wilayah dan kekuatan di zaman itu berada di bawah pengaruh dan kekuasaan dua negara adidaya, yaitu Persia (di sebelah timur) dan Romawi (di sebelah barat).

Persia menguasai wilayah yang luasnya meliputi dataran Syam di barat dan bagian utara, Jazirah Arabia di sebelah selatan (Yaman) bahkan sampai ke pesisir selat Bosphorus (Turki) walaupun kemudian dipukul mundur hingga kembali ke batas sungai Eufrat (Irak).

Adapun Romawi, mereka telah menguasai negeri Syam, Mesir, dan seluruh pesisir Afrika Utara serta negeri-negeri Anatolia di Turki, dan daerah kawasan lain.

Sekalipun wilayah kekuasaan Persia dan Romawi terus meluas melalui ekspansi-ekspansi yang mereka lakukan, namun tak sedikit pun mereka berambisi untuk menguasai Jazirah Arab (tepatnya Makkah). Penyebabnya adalah minusnya hasil bumi dan situasi medan yang sulit dijangkau. Hanya satu kali saja tercatat dalam sejarah adanya penyerangan Makkah, yaitu oleh tentara Abrahah dari Yaman yang merupakan kaki tangan Persia.  Setelah itu, praktis Makkah tidak tersentuh pengaruh hegemoni Persia ataupun Romawi.

Setelah Rasulullah SAW berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah, beliau mulai melakukan upaya penerapan Islam di tengah masyarakat negara Madinah dan melakukan penyebaran risalah Islam ke berbagai wilayah lain, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasai Persia dan Romawi.  Rasulullah SAW mengirim surat kepada Hiraklius yang dibawa oleh utusan beliau bernama Dihyah bin Khalifah al Kalbiy, kepada Kisra dibawa oleh Abdullah bin Hadzaqah al Sahmiy, Muqauqis dibawa oleh Hathib bin Abi Balta’ah, al Harits al Ghasaniy (Raja Himyar) diberikan kepada Syuja’ bin Wahab al Makhzumi, Najasyi (Raja Habsyah) dibawa oleh ‘Amru bin Umayyah al Dhamiri, Raja Amman dibawa oleh ‘Amru bin ‘Ash al Sahmi, Raja Yamamah diberikan kepada Salith bin ‘Amru, Raja Bahrain dibawa oleh al ‘Alla’ bin al Hadhrami (Taqiyuddin an Nabhani, Daulah Islam : 136).  Surat-surat tersebut berisi ajakan untuk memeluk Islam atau tunduk kepada aturan Islam. Dengan penuh keyakinan Rasulullah SAW mengatakan kepada dua orang utusan Bazan dari Yaman atas perintah Kisra Persia  : “Sesungguhnya agamaku dan kekuasaanku akan sampai ke negeri-negeri yang dikuasai Kisra, bahkan lebih dari itu, akan sampai ke ujung dunia.”  (Ibnu Katsir, Bidayah wa al Nihayah : IV/300).  Ketika Kaisar Romawi menerima surat dari Rasulullah SAW, ia mengkhawatirkan kekuasaannya (setelah merasakan kebenaran kenabian Rasulullah SAW) dan dia berkata kepada Abu Sufyan : “Seandainya apa yang engkau katakan itu benar niscaya dia akan menguasai kerajaanku ini.”  (Bidayah wa al Nihayah : IV/294).  Inilah awal pertarungan dan perbenturan peradaban antara Islam dan kekafiran.

Benar saja.  Satu demi satu wilayah yang berada di bawah pengaruh Persia dan Romawi beralih ke blok Islam.  Benturan fisik dengan Persia dan Romawi pun tak terelakkan.  Perlawanan Romawi dapat diakhiri pada Perang Mu’tah dan Perang Tabuk. Sementara kedigjayaan Persia dikalahkan pada Perang Qadisiyah. Semenjak itu, runtuhlah dua kekuatan adidaya tersebut.  Muncullah Islam sebagai adidaya baru.  Dunia Islam membentang dari Pantai Barat Afrika sampai dataran Cina, dari Pegunungan Pirenia di Prancis sampai Lautan Hindia.  Hal ini bertahan sampai Khilafah Islamiyah yang berpusat di Turki diruntuhkan pada tahun 1924 melalui konspirasi Inggris dan Musthafa Kemal Attaturk seorang keturunan Yahudi Dunamah.

Kegamangan Kapitalisme

Nampaknya sudah menjadi sunatullah bahwa kejayaan dan keterpurukan senantiasa berputar.  Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya : “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”  (TQS. Ali Imran : 140).

Sebagai akibat pengabaian kekayaan sumber daya pemikiran (intelectual resources) Islam yang diikuti dengan pengadopsian pemikiran-pemikiran Barat yang saat itu mulai menampakkan geliat kebangkitan pasca revolusi Prancis maka semakin lemah dan terpuruklah kondisi kaum muslimin.  Banyak problem yang tidak bisa diselesaikan dengan cara Islam yang khas dan unik.  Pada tahun 1857 M/1275 H diadopsi Qanun al Jazaa al Utsmani (UU Pidana Pemerintahan Utsmaniah), Qanun al Huquq wa al Tijarah (UU Keuangan dan Perdagangan) pada tahun 1858 M/1276 H, pembagian Mahkamah Syari’ah (Pengadilan Agama) dan Mahkamah Nizhamiyah (Pengadilan Sipil) pada tahun 1870 M/1288 H yang kemudian dibuat undang-undangnya, peraturan tentang pembentukan badan dan struktur Mahkamah Sipil pada tahun 1877 M/1295 H, dan pada tahun 1878 M/1296 H dibuat UU mengenai tata cara pengadilan yang menyangkut hak-hak (keuangan) dan hukum pidana.  Semua UU tersebut merupakan hasil adopsi dari pemikiran-pemikiran Barat. Keadaan ini berpangkal dari lemahnya kemampuan ijtihad shahih. Padahal, kebangkitan suatu umat atau bangsa sangat ditentukan oleh – meminjam istilah Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Hadits al Shiyam – ketinggian taraf berfikirnya (al irtifa’u al fikr) sehingga mereka mampu menyelesaikan problem-problem yang dihadapi berdasarkan keyakinan (aqidah) yang diyakininya. Dalam Islam, ketinggian taraf berfikir ini tercermin dari kemampuan melakukan ijtihad shahih atau setidak-tidaknya berfikir secara syar’i.  Dan kaum muslimin pada abad ke 18 berada pada titik nadir keterpurukan pemikiran sementara negara-negara Barat penganut Kapitalisme – terutama Inggris dan Prancis – tengah mengalami ketinggian pemikiran. Puncaknya, tatkala Khilafah Islamiyah runtuh.  Sirnalah kekuatan Islam sebagai adidaya yang pernah mengayomi dunia selama sekitar 13 abad.  Lantas, muncullah Kapitalisme sebagai adidaya baru.

Namun, Kapitalisme – setelah sekitar 2 abad – terbukti gagal membawa umat manusia  ke kehidupan aman dan sejahtera yang didambakan.  Bersama Kapitalisme, keamanan justru tidak pernah didapatkan. Tingkat kriminalitas yang tinggi, peperangan yang tiada henti, kekacauan dan kerusuhan tak pernah sepi merupakan buah karya Kapitalisme.  Lembaga pengadilan yang diharapkan menjadi tempat bagi pencari keadilan justru berubah menjadi makelar yang memperjualbelikan keadilan.  Kesenjangan ekonomi yang semakin dalam adalah prestasi terbaik Kapitalisme.  Cuplikan lagu “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” sangat tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut.  Politik Machiavelis (menghalalkan segala cara) membuat para politisi sibuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya sehingga upaya pemeliharaan dan pengelolaan kepentingan publik menjadi terabaikan. Budaya hidup hedonis  (serba materi) dan permisif (serba boleh) sebagai perwujudan kebebasan bertingkah laku yang dijunjung tinggi telah membawa umat manusia ke kehidupan yang tidak pernah ditemui di dunia binatang sekalipun. Homoseksual dan lesbianisme adalah sedikit contohnya. Sekarang tanyalah : pernahkah anda mendengar ada kambing homoseks ? Atau ada anjing lesbian ?  Kalau tidak ada, berarti kehidupan manusia jauh lebih  hina dari kehidupan binatang.  Pendek kata, kehidupan semakin terasa tidak nyaman. Kondisi tersebut membuat banyak orang merasa muak dengan Kapitalisme.  Semua ini menjadi katalisator keruntuhannya. Dan hal itu sudah disadari oleh para pemikir Kapitalisme.  Laurence Gould meramalkan kehancuran dan keruntuhan peradaban AS – pemimpin Kapitalisme abad ini – tidak akan lama lagi sejalan dengan hancurnya kehormatan dan  nilai-nilai moral yang kian ambruk di kalangan masyarakat. Seorang pakar analis politik AS, Arthur Krock, mengatakan : “Saya dihantui rasa takut yang sangat bahwa masa kejayaan AS dan keunggulannya sebagai adidaya yang tak tertandingi di dunia akan menjadi suatu masa yang paling singkat di dunia.” Jenderal veteran AS, Hamilton Howze, dalam bukunya The Tragic Descent America in 2020 melalui pengamatannya terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial masyarakat AS yang kian porak poranda, meramalkan secara ilmiah bahwa pada tahun 2020 AS akan sampai pada titik kulminasi terburuk yang menuju kehancurannya.

Kapitalisme memang harus mundur dari panggung penataan kehidupan ini.  Ada ungkapan kata hikmah : “Ketika seseorang mendaki gunung dan telah sampai puncaknya, maka tidak ada pilihan lain kecuali turun.” Sebagaimana berakhirnya kejayaan Islam yang diawali lemahnya pemikiran Islam di satu sisi dan munculnya pemikiran baru yang mulai menampakkan ketinggiannya di sisi lain,  kini pun kondisi itu terjadi pada Kapitalisme.  Kegamangan Kapitalisme di satu sisi dibarengi dengan semakin menguatnya pemikiran Islam di sisi lain.  Tuntutan penerapan Islam dalam kehidupan justru semakin nyaring diteriakkan untuk menggantikan Kapitalisme yang telah terbukti gagal mengayomi dunia.  Sebuah tuntutan yang didasarkan pada keyakinan ideologis

Penutup

Kegamangan dan kezaliman Kapitalisme sudah kian telanjang.  Dimana-mana orang sudah sangat  faham bahwa Kapitalisme biang segala kerusakan.  Hanya saja, bagaimana pun Kapitalisme tetaplah sebuah sistem kehidupan.  Sekalipun buruk.  Tanpa ada sistem kehidupan alternatif yang ditawarkan niscaya Kapitalisme akan tetap bertahan.  Dari sinilah upaya segenap kalangan untuk menawarkan Islam sebagai alternatif (wajib) sistem kehidupan harus kian digencarkan.  Sehingga masyarakat dapat melihat gambaran sistem kehidupan baru di bawah naungan Islam.  Wallahu a’lam !
Diambang Keruntuhan Kapitalisme Diambang Keruntuhan Kapitalisme Reviewed by Ahmad Maghfur on 11:22:00 AM Rating: 5