Lady Gaga dan Potret Belenggu Kapitalisme

Opini Ustadz Gusti Orrin
(Repost Tulisan Lama)

Fenomena Lady Gaga terus menyeruak di tengah carut-marut kasus korupsi, politik, kemisikinan, dan isu-isu sentral lainnya di beberapa bulan lalu.  Bahkan, kini Lady Gaga justru menjadi isu sentral tersebut. Lady Gaga memang fenomenal.  Penyanyi yang kerap berpenampilan seronok dan banyak lantunan lagunya yang bernuasa porno memang tengah menjadi ikon baru di jagat hiburan.  Sekalipun konsernya banyak ditolak, tetapi Lady Gaga seakan tak goyah.  The show must go on.

Dengan gaya yang tergolong erotis dan mengumbar sensualitas itu, Lady Gaga pun menuai pro-kontra.  Banyak pihak yang mencekal konsernya di beberapa negara. Di Indonesia pun, konser yang akan diadakan pada 3 Juni 2012 menuai protes keras. Ulama dan berbagai ormas Islam telah memperingatkannya. “Kami menghimbau ormas, lembaga Islam dan seluruh komponen umat Islam untuk bersatu padu tolak liberalisasi budaya termasuk menolak pornografi yang sengaja dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan negara untuk merusak moral dan akhlak warga bangsa khususnya generasi muda,” ujar Ketua PW Muhammadiyah DKI Jakarta Agus Radika, Kamis (24/5) sore di Kantor Pusat Muhammadiyah, Jakarta.  "Oleh karena itu rencana konser itu harus dihentikan, bukan dibiarkan apalagi didukung," ujar Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, saat melakukan orasi di Bundaran HI, Kamis (24/5) (http://www.republika.co.id/berita/ nasional/umum/12/05/24/m4j8hp-hti-ikut-tolak-lady-gaga)

Namun Lady Gaga tetap keras kepala.  Dia lebih memilih membatalkan konser daripada harus mematuhi peraturan sensor dan tekanan kelompok agama.  Hal ini ditegaskan manajer Lady Gaga, Troy Carter, di tengah kontroversi konser penyanyi pop Amerika Serikat tersebut di Asia. Carter mengatakan bila dipaksa menggelar konser secara ‘lebih sopan’ Lady Gaga akan membatalkan jadwal konser.  “Kami akan menggelar konser seperti rencana semula. Ini konser khusus dengan penonton yang sangat khusus pula,” kata Carter dalam keterangan pers di Singapura, Kamis (24/5), seperti dikutip kantor berita AFP. Sebelumnya saat konser Lady Gaga di Filipina, dia juga bersikap keras kepala. Lady Gaga melanggar larangan yang dikeluarkan pemerintah setempat. Pertunjukan Lady Gaga menuai protes dari kalangan Kristen karena menyanyikan lagu ‘Judas’ dan ‘Born This Way’ yang disebut sebagai lagu bagi kalangan gay.  Tapi apa kata Lady Gaga : “Aku bukan makhluk pemerintah Anda di Manila,” kata Lady Gaga, seperti dikutip detikcom dari ABS-CBNnews.com, Selasa (22/5/2012).

Meski mendapat kecaman, namun tak sedikit pula yang medukung.  Pro-kontra semakin menjadi manakala dikaitkan ke wilayah ideologis.  Nampak sekali dukungan kaum liberalis terhadap konser Lady Gaga ini.

Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso memberi dukungan terhadap acara tersebut.   "Kalau dari saya, silahkan, appeal saja," ujar Priyo usai bertemu dengan promotor konser Lady Gaga di kantornya, gedung Nusantara III, komplek DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (21/5) (http://artis.inilah.com/read/detail/1863377/dpr-beri-dukungan-konser-lady-gaga).

Partai Demokrat menilai pelarangan konser Lady Gaga terlalu berlebihan.  "Sangat disayangkan jika konser Lady Gaga batal digelar. Konser itu diharapkan dapat menjadi ajang promosi Indonesia. Kalau promosi Indonesia berhasil, maka investasi sektor pariwisata akan memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat," kata Didi Irawadi Syamsudin, Ketua DPP Partai Demokrat (http://entertainment.kompas.com/read/ 2012/05/18/1038215/Demokrat.Pelarangan.Konser.Lady.Gaga.Berlebihan)

Berkenaan dengan pelarangan ini, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan, kasus kekerasan yang mengatasnamakan kebebasan merupakan bentuk kegagalan reformasi. "Karena, kebebasan kemudian menimbulkan kebebasan bertindak yang bernaung di bawah agama itu," ujar Said dalam gelaran kegiatan seni dan budaya wayang bertajuk "Ruwatan untuk Negeri", di Kampus UI Depok, Jumat (18/5/2012) malam. "Kebebasan itu untuk membangun nilai persaudaraan. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Maka, saya harap polisi tegas. Tidak boleh ada kelompok yang main hakim sendiri, apalagi atas nama agama, itu mencoreng agama itu sendiri," tutur Said. (http://entertainment.kompas.com/read/2012/05/19/02504517/Said.Aqil.Lady.Gaga.Takkan.Goyahkan.Iman.Orang.NU.)

Bahkan, sebagaimana diberitakan situs inilah.com (22/05), Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat untuk Indonesia Scott Marciel menilai penolakan konser Lady Gaga adalah bentuk pembatasan terhadap kebebasan.

Dulu pun ketika marak fenomena goyang Inul pernyataan-pernyataan bernuansa ideologis sangat kental mewarnai pro dan kontra. Diawali oleh pernyataan Gus Dur yang menganggap sikap ‘penolak’ Inul – dalam hal ini adalah Rhoma Irama – berarti membatasi kreativitas seseorang.  Menurut Gus Dur : “Siapa pun yang mencoba membatasi kebebasan berekspresi seseorang harus dilawan.”  Menurut Gus Dur pula : “Kreativitas Inul tidak ada yang melanggar hukum.  Jadi tidak boleh ada yang merintangi ... Apalagi sampai mengatasnamakan agama.”  (Radar Banjarmasin, 29/4/03).  Menyusul Gus Dur, dukungan terhadap Inul semakin membesar.  Rieke Dyah Pitaloka mewakili para seniman usai acara pembacaan sikap dukungan terhadap Inul di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tanggal 30 April 2003 menyatakan : “Pemboikotan harus kita lawan dengan boikot.  Dan jangan bawa-bawa agama. Agama untuk masing-masing.”  (Radar Banjarmasin, 1/5/03).  Rieke Dyah Pitaloka pula yang memimpin masyarakat dan massa ibu-ibu untuk berjoged ala Inul di Bundaran Hotel Indonsia pada 3 April 2003. “Ini adalah masalah hak asasi manusia.,” demikian kilah Rieke.  Acara ini juga dihadiri artis-artis lain (Radar Banjarmasin, 5/5/03). Hal ini pun diamini oleh Ulil Abshar Abdala – Kordinator JIL – yang menyatakan : “Saya sayangkan betul kenapa Rhoma Irama bawa-bawa agama dalam hal ini.”

Persoalan pun akhirnya meluas, bukan sekedar ‘perseteruan’ Inul – Rhoma lagi. Akan tetapi, telah menjadi aksi perlawanan terhadap pengekangan kebebasan berekspresi, penindasan terhadap pihak lemah, dan hak asasi manusia yang dibenturkan dengan supremasi agama. Kasus Lady Gaga ini mengulang untuk kesekian kalinya upaya penanaman faham kebebasan di benak masyarakat Indonesia yang notabene memiliki akar kuat Islam.

Nahi Munkar

Sebagai muslim, ulama dan ormas Islam telah memperlihatkan sikap yang tepat. Manakala melihat kemunkaran, seorang muslim haruslah cepat tanggap bertindak. Dan ulama dan ormas Islam menganggap konser Lady Gaga penuh dengan maksiat. Maka, bereaksilah mereka.  Dengan segala kekuatan yang dimiliki, mereka berusaha untuk mencegahnya.  Bukankah demikian yang termaktub dalam hadits Rasulullah SAW : “Barang siapa melihat kemunkaran hendaklah dia mengubahnya  dengan tangan, jika dia tidak mampu maka (ubahlah) dengan lisan, dan jika dia tidak mampu maka (ubahlah) dengan hati, dan inilah selemah-lemahnya iman.”  (HR. Muslim),

Justru sebenarnya sikap seperti inilah, yakni amar ma’ruf nahi munkar yang akan menyelamatkan kehidupan bermasyarakat dari penyakit-penyakit sosial.  Bayangkan seandainya tidak ada lagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar ? Tentulah kehidupan ini akan kacau balau dan hanya menuai laknat.  Kondisi inilah yang terjadi pada Bani Israil sebagaimana firman Allah SWT :  “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam.  Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.  Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.  Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”  (QS.  Al Maidah : 78 – 79)

Manakala manusia sudah berpaling dari peringatan dari Allah SWT dan tidak menghiraukan kemunkaran sesamanya maka azab Allah SWT tinggal menunggu waktu saja.  Allah SWT berfirman : “Tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka maka Kami selamatkan orang-orang yang mau melarang dilakukannya kejahatan dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim suatu azab yang keras sebab mereka selalu berbuat kefasikan.”  (QS. Al A’raf : 165)

Rasulullah SAW bersabda : “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan- Nya ! Anjurkan kebaikan dan cegahlah kemunkaran atau (kalau tidak kamu lakukan) maka pasti Allah akan menurunkan siksa kepadamu sehingga kamu berdo’a kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan.”  (HR. Tirmidzi)

Permasalahannya, apakah benar konser Lady Gaga itu maksiat ?  Jawabannya tergantung anda  menggunakan standar apa ?  Jika anda penganut kebebasan, sudah pasti jawabannya konser Lady Gaga bukanlah maksiatnya karena siapa pun boleh melakukan apa pun.  Jika anda seniman lemah iman,  sangat mungkin anda akan mengatakan penampilan Lady Gaga adalah sebuah seni tanpa tanding. Namun, jika anda seorang muslim yang menyadari keterikatannya  dengan aturan-aturan Allah SWT tentulah jawabannya bersangkut-paut dengan halal dan haram. Jika kaitannya menyangkut halal – haram tentulah harus ada dalil syara’ yang melandasinya.

Islam – sejak 14 abad yang silam – telah menentukan batasan kesusilaan.  Pria maupun wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan (QS. An Nur : 30 – 31). Seorang wanita tidaklah patut memperlihatkan perhiasannya kecuali kepada para mahromnya (QS. An Nur : 31).  Menutup aurat bagi  pria maupun wanita adalah perkara yang wajib sekalipun terdapat perbedaan batasan aurat antara keduanya. Bagi wanita menutup aurat adalah dengan mempergunakan kerudung  atau khimar yang menutupi sampai ke dadanya (QS. An Nur : 31), jubah lebar atau jilbab (QS. Al Ahzab : 59) yang dipakai di luar pakaian keseharian atau al tsaub/al mihnah  (QS. An Nur : 60).  Islam pun menghindarkan manusia dari pelanggaran kesusilaan dengan memberikan aturan seperti larangan bagi wanita menebarkan aroma wewangian di hadapan pria (Al Hadits), larangan mendekati zina (QS. Al Isra : 32), percampur-bauran pria – wanita (ikhthilath), berdua-duaan antara pria dan wanita yang bukan muhrim (khalwat), dan lain-lain.

Sekarang, tengoklah Lady Gaga, pakaiannya ketat menampilkan lekuk tubuh terkadang juga sangat ‘hemat bahan’, goyangnya erotis, lirik lagunya penuh ajakan kemaksiatan, pria dan wanita bercampur-baur menyaksikan konsernya, dan lain-lain.  Berapa banyak kemaksiatan yang nampak ?  Dan ini tidak hanya terjadi pada Lady Gaga, namun semua.

Sekali lagi, sikap ulama dan ormas Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkarnya adalah sikap yang tepat.  Konser Lady Gaga memang penuh maksiat.  Karena banyak pelanggaran atas aturan Allah SWT yang terjadi.  Dan maksiat harus dicegah.  Kalau tidak, kerusakan akan terjadi di mana-mana (QS. Ar Rum : 41).  Tidak perlu debat berkepanjangan jika standar yang digunakan adalah Islam.

Belenggu Kapitalisme

Nampaknya, fenomena Lady Gaga – sekali lagi – dimanfaatkan betul oleh aktivis kebebasan (liberalisme) untuk menanamkan ide-idenya di tengah masyarakat.  Atas nama kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia mereka ramai-ramai menggugat penolak Lady Gaga dan siapa saja yang bersikap seperti mereka.  Bagi mereka, kebebasan individu adalah nomor satu dan itu tidak bisa diganggu gugat.  Pendapat ini murni berasal dari ideologi Kapitalisme.

Kapitalisme merupakan ideologi yang dilandasi Sekulerisme yang berusaha memisahkan agama dari pengaturan kehidupan.  Wilayah agama adalah wilayah privat/individu.  Sementara, wilayah publik urusan manusia.  Karena penekanan yang sangat kuat terhadap subyek manusia tanpa menyertakan Al Khalik maka ideologi ini berusaha untuk menyerukan jaminan kebebasan bagi individu.  Kebebasan tersebut adalah kebebasan beraqidah/beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan hak milik, dan kebebasan bertingkah laku.  Empat kebebasan inilah yang merupakan asas HAM, sekaligus biang keladi segala kebobrokan yang terjadi di tubuh masyarakat Kapitalis.

Berkenaan dengan kebebasan bertingkah laku termasuk kebebasan berekspresi, Kapitalisme memberikan hak bagi setiap orang menjalani kehidupan pribadinya sekehendaknya asalkan tidak mengganggu kehidupan pribadi orang lain.  Berdasarkan hal ini, seorang pria berhak menikah atau cukup kumpul kebo dengan wanita selama tidak ada yang terganggu dengan perilaku ini.  Siapa pun boleh mengenakan busana model bagaimana pun selama tidak merugikan orang lain.  Dan Lady Gaga pun tidak bisa dilarang untuk bergoyang dalam konsernya karena itu adalah hak asasinya, apalagi banyak yang menggemarinya.

Menurut Kapitalisme, dalam kebebasan bertingkah laku tidak ada tempat bagi halal – haram untuk mengatur perilaku manusia. Karena memang Kapitalisme menafikan peran agama.  Yang penting, dia dianggap sah melakukan suatu perbuatan menurut undang-undang  yang  notabene buatan manusia sehingga wajar jika banyak dijumpai kekurangan.  Di sinilah korelasi ungkapan-ungkapan yang dilontarkan oleh para pendukung di  atas menemukan benang merah dengan Kapitalisme.

Padahal, secara faktual kebebasan ini menimbulkan kerusakan hebat yang mengerikan.  Siapa yang bisa melarang beredarnya majalah dan film porno, jasa telepon seks, klub-klub nudis, kaum homoseksual dan lesbian, kaum hippies yang hidup liar dan bebas ?  Dengan berlindung di balik ide kebebasan ini penampilan Lady Gaga, foto-foto erotis Madam de Syuga , goyang ‘ngebor Inul, goyang ‘ngecor’ Uut Permatasari, goyang ‘patah-patah’ Annisa Bahar, goyang ‘nguleg’ Denada, dan goyang-goyang lainnya dianggap seni dan kreativitas.  Dan bagi manajer, produser, stasiun TV, dan lain-lain yang berfikir Kapitalis sudah pasti Lady Gaga adalah ladang uang.  Terjadilah eksploitasi untuk mengejar profit.  Di tengah perjuangan menempatkan kaum wanita pada posisi mulia, hal ini adalah sebuah ironi.

Islam tidak mengenal konsep kebebasan. Segala aktivitas manusia dibatasi oleh aturan-aturan yang berasal dari Allah SWT. Salah satu hal yang patut kita syukuri adalah adanya aturan tentang amar ma’ruf nahi munkar.  Tanpa amar ma’ruf nahi munkar tenggelamlah bahtera masyarakat. Kondisi inilah yang digambarkan Rasulullah SAW dengan sangat indah pada 14 abad silam dalam sabdanya : “Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang berbagi dalam sebuah kapal.  Sebagian mendapatkan bagian di atas dan sebagian yang lain berada di bawah.  Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya.  Maka berkatalah orang-orang yang berada di bawah : ‘andai saja kami melubangi (dinding kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kami.’  Jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas, niscaya binasalah seluruhnya.  Dan jika mereka dicegah melakukan hal itu, maka ia akan selamat dan selamatlah semuanya.”  (HR. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi)

Penutup

Lady Gaga – dan mungkin juga kita -- hanyalah salah satu dari sekian banyak korban  eksploitasi dan belenggu Kapitalisme.  Masih banyak lagi yang lain. Semua ini akan terus berjalan kecuali sistem kehidupan Islam diterapkan.  Suara keresahan melihat goyang Lady Gaga tetap akan terdengar.  Selama itu pula akan terus terjadi proses demoralisasi anak bangsa yang akan melahirkan generasi bobrok. Bersama Kapitalisme – seandainya Lady Gaga yang satu ini tobat – akan mucul Lady Gaga-Lady Gaga yang lain dengan goyangan yang bisa jadi lebih dahsyat dari sekarang. Apalagi dengan dukungan ide kebebasan dari cendekiawan muslim yang terbaratkan.

Sekalipun konser Lady Gaga telah dibatalkan, namun ‘reaksi kimia’ Lady Gaga telah dan akan terus memberikan perubahan ‘senyawa baru’ di masyarakat. Terbukti. Permasalahan utamanya bukanlah sekedar Lady Gaga tetapi Kapitalisme lah sumber segala masalah ini. Maka, tidak ada usaha lain : mari kita goyang Kapitalisme !  Wallahu a’lam !
Lady Gaga dan Potret Belenggu Kapitalisme Lady Gaga dan Potret Belenggu Kapitalisme Reviewed by Ahmad Maghfur on 1:27:00 PM Rating: 5