Membangun Kekuatan dalam Perjuangan

Menjelang serangan AS terhadap Irak, banyak tokoh menyerukan agar tidak mengirimkan laskar, karena apabila peperangan tersebut terjadi, maka akan melibatkan banyak senjata berat.

Anggapan tersebut seolah-olah ingin menggambarkan kekuatan materi (dalam hal ini persenjataan) adalah segala-galanya dalam perang.

Pernyataan  ini memang bukan yang pertama.  Sebelumnya para tokoh Islam negeri ini telah pula berkomentar demikian.  Pengiriman sukarelawan jihad ke Palestina senantiasa dimentahkan dengan alasan ini.  Tatkala kaum muslimin Bosnia dibantai oleh Serbia, muslimin Cechnya diburu Rusia, bahkan ketika AS menggempur habis Afghanistan alasan ini kembali muncul.  Memangnya senjata modern mau dilawan dengan bambu runcing dan ketapel ?  Kira-kira demikian pendapat mereka.

Memang benar bahwa kekuatan materi berupa persenjataan canggih maupun personel tempur terlatih sangat diperlukan bagi tugas pengamanan sebuah negara, apalagi jika negara tersebut tengah berada dalam ancaman serbuan musuh.  Sekalipun demikian,  kekuatan materi bukanlah segala-galanya.

Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islami menyebutkan, setidaknya terdapat tiga kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, yakni :

Pertama, kekuatan materi (al quwwah al maadiyah).  

Seseorang yang mengandalkan kekuatan materi akan melakukan suatu perbuatan berdasarkan ukuran materi yang dimilikinya.

Sebagai contoh, ketika akan memerangi musuhnya, manusia tentu akan mempertimbangkan kekuatan fisik  berupa persenjataan yang canggih dan kuantitas personel.  Jika ia merasa telah memiliki kekuatan yang cukup untuk berperang melawan musuhnya maka berangkatlah ia ke medan perang.  Jika tidak, mundurlah ia ke belakang.

Seandainya pun mereka telah memiliki kekuatan materi tersebut, tetapi pengaruhnya dapat sirna manakala ada rasa kekhawatiran, takut, dan sebagainya yang menghinggapi mereka.  Dengan demikian, secara faktual pengaruh kekuatan  materi dibandingkan kekuatan lainnya adalah paling rendah.

Kedua, kekuatan moral (al quwwah al manawiyah).

Kekuatan ini timbul dari dalam jiwa.  Jika kekuatan ini muncul, terkadang melampaui batas-batas normal kekuatan riil yang dimilikinya.

Seseorang yang ingin bebas dari cengkeraman penjajahan dapat mengusir penjajah sekalipun persenjataan yang mereka miliki sangat seadanya.  Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah, atau semboyan Merdeka atau mati, telah mampu memberikan semangat juang yang tinggi dalam diri pejuang negeri ini, untuk melawan dan terus melawan dari aksi penjajahan.  Terbukti, bambu runcing dapat mengalahkan tank-tank baja. Sehingga tidak mengherankan kalau negara-negara di dunia senantiasa membekali prajuritnya dengan kekuatan moral  seperti isu nasionalisme  di samping mempercanggih kekuatan materi (mesin perang).

Ketiga, kekuatan ruhiyah (al quwwah al ruhiyah.  

Kekuatan ini lahir dari kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah SWT sebagai Pencipta segala sesuatu, termasuk Pencipta segala kekuatan.

Kekuatan ini memiliki dampak yang paling besar dibanding dua kekuatan lainnya. Kekuatan ini menghasilkan dorongan untuk melakukan perbuatan sesuai dengan apa yang dituntut oleh Allah SWT, dan tidak ada yang lain!

Dengan kekuatan ruhiyah, pertimbangan materi dan moral tidaklah terlalu merisaukan.  Oleh karena itu, setiap muslim wajib menjadikan kekuatan ruhiyah sebagai harta simpanan yang takkan sirna dan rahasia mencapai keberhasilan dan kemenangan.

Sekalipun demikian, Islam tidaklah menafikan adanya tiga kekuatan tersebut. Allah SWT berfirman : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang kalian tambatkan untuk berperang (yang dengan kekuatan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya sedangkan Allah mengetahuinya.  (TQS. Al Anfal : 60).

Ayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya kekuatan materi dalam rangka menggentarkan musuh.

Berkenaan dengan kekuatan moral Allah SWT menyatakan bahwa umat Islam adalah umat terbaik : Kalian adalah umat terbaik ... (TQS. Ali Imran : 110).  Namun, karena keduanya merupakan seruan dari Allah SWT maka nuansa kekuatan ruhiyahnya terasa lebih kental.

Pelajaran Historis

Pada Perang Badar  Jumat, 17 Ramadhan tahun kedua hijriah -- Nabi SAW bersama para sahabatnya keluar dari Madinah. Rombongan terebut hanya berjumlah 305 orang.  70 orang berkendaraan unta yang ditunggangi secara bergiliran.  Seekor unta kadang digilir dua, tiga, atau empat orang, dan sisanya berjalan kaki.

Sementara, dari hasil intelijen yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Saad bin Abi Waqash diketahui jumlah pasukan kafir Quraisy antara 700 sampai 1.000 orang dipimpin oleh seluruh pembesar Quraisy.

Jika diukur dari kekuatan materi, sungguh jumlah ini  sangat tidak seimbang.  Namun, nuansa kekuatan ruhiyah dapat mengalahkan kekhawatiran akan jumlah musuh yang berlipat.

Hal ini nampak dari pernyataan Amru bin Miqdad tatkala Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya  bermusyawarah : Ya Rasulullah, berjalanlah untuk suatu (tujuan) yang diperlihatkan Allah kepadamu.  Kami bersamamu.  Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti yang pernah dikatakan Bani Israil kepada Musa : Berangkatlah kamu dengan Tuhanmu (hai Musa), kalian berdua berperanglah sendiri.  Sementara kami disini duduk-duduk (menantimu).  Akan tetapi, kami akan mengatakan (kepadamu) : Berangkatlah kamu bersama Tuhanmu (hai Muhammad).  Sesungguhnya kami bersamamu berdua untuk berperang. Demi Zat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau mengajak kami berjalan melintasi lembah-lembah berair pasti kami menyertaimu hingga engkau sampai di tujuan.

Pernyataan yang hampir senada juga diungkapkan oleh Saad bin Muadz, pemegang bendera Anshor.

Terbukti. Kekuatan materi  jumlah besar dan persenjataan yang lebih canggih pasukan Quraisy tak mampu menandingi kekuatan ruhiyah kaum muslimin.  Kaum muslimin pun kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan dan kemuliaan.

Demikian pula pada Perang Badar kedua. Abu Sufyan akhirnya membawa pulang pasukannya sebelum sempat bertemu dengan pasukan Rasulullah SAW.  Padahal, jumlah pasukan Quraisy yang dipimpinnya sebanyak 2.000 orang.

Episode kemenangan kekuatan ruhiyah terus berlanjut.  Pada Perang Ahzab, kaum muslimin harus menghadapi kekuatan aliansi kabilah-kabilah yang hendak mengguncang stabilitas Daulah Islamiyah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW.

Hal ini dipelopori oleh tokoh Yahudi Bani Nadhir, yaitu Hayyi bin Akhthab, Salam bin Abi al Haqiq, dan Kinanah bin Abi al Haqiq. Walhasil, kabilah-kabilah Arab berkumpul dan keluar bersama-sama kafir Quraisy mendatangi kota Madinah.

Kaum Quraisy keluar di bawah pimpinan Abu Sufyan dengan kekuatan 4.000 pasukan, 300 pasukan berkuda, dan 1.500 pasukan penunggang unta.  Bani Gathfan keluar di bawah pimpinan Uyainah ibnu Hashan bin Hudzaifah beserta rombongan yang terdiri dari kaum laki-laki bersenjata lengkap dan 1.000 pasukan unta.  Asyja keluar dengan 400 orang jago perangnya di bawah pimpinan Masar bin Rakhilah.  Bani Murrah mengerahkan 400 ahli perang di bawah kendali al Harits bin Auf.  Salim dan penguasa Biru Maunah datang dengan mambawa 700 laki-laki. Mereka berkumpul, menyusul Bani Saad dan Bani Asad untuk ikut bergabung.  Secara keseluruhan pasukan gabungan ini berjumlah 10.000 orang. Semuanya bergerak menuju kota Madinah di bawah komando Abu Sufyan.

Sementara, pasukan Rasulullah SAW hanya berjumlah 3.000 orang dengan mengandalkan strategi parit yang diajukan oleh Salman al Farisi dan kelihaian diplomasi Nuaim bin Masud  seorang Yahudi Bani Quraizhah yang baru masuk Islam..  Berkat pertolongan Allah SWT, tentara ahzab (sekutu) hancur dan kemenangan kembali berpihak kepada kaum muslimin.

Dalam rangka tugas pengamanan dakwah ke negara tetangga, Rasulullah SAW menyertakan pasukan ke wilayah-wilayah kekuasaan Persia dan Romawi.

Pada bulan Jumadil Ula tahun ke-8 H, Rasulullah SAW mengirimkan 3.000 pasukan untuk memasuki wilayah Syam. Akan tetapi ketika tiba di Maan, pasukan Islam baru  menyadari bahwa Malik bin Zafilah telah mengumpulkan 100.000 tentara dari kabilah-kabilah Arab. Sementara, Hiraklius datang dengan 100.000 pasukan.

Sangat tidak seimbang.  Keraguan pun muncul.  Namun, di saat genting itu Abdullah bin Rawahah berseru lantang : Hai sekelompok kaum, demi Allah, sesungguhnya yang kalian benci justru yang kalian cari, yaitu syahid ! Kita keluar tidak untuk memerangi manusia karena jumlah pasukan (yang besar),  tidak dengan kekuatan, dan tidak juga dengan pasukan yang banyak.  Kita tidak berperang kecuali dengan agama yang Allah memuliakan kita dengannya.  Marilah kita  berangkat. Sesungguhnya di tengah kita akan ada satu di antara dua kebaikan : menang atau mati syahid !

Kata-kata ini membakar semangat pasukan Islam.  Kekuatan iman mendorong mereka untuk melanjutkan perjalanan.  Satu per satu pimpinan pasukan kaum muslimin gugur : Zaid bin Haritsah, disusul kemudian Jafar bin Abi Thalib, lantas Abdullah bin Rawahah.  Namun, sekali lagi kekuatan ruhiyah dapat  mengalahkan kekuatan materi.  Di bawah pimpinan Khalid bin Walid  yang masuk Islam pasca Perjanjian Hudaibiyah  kaum muslimin dapat mengalahkan 200.000 pasukan musuh. Sungguh luar biasa...
Membangun Kekuatan dalam Perjuangan Membangun Kekuatan dalam Perjuangan Reviewed by Ahmad Maghfur on 9:32:00 PM Rating: 5