Rencana Operasi Darat Arab Saudi dan Turki ke Suriah Salah Sasaran dan Memalukan

Aljazira.net memberitakan, Menteri Luar Negeri Turki Mouloud Jawish Davutoglu mengatakan, bahwa Sabtu ini (20/02/2016), Turki dan Arab Saudi akan melakukan operasi militer darat terhadap "ISIS" di Suriah. Ia menekankan tentang pengiriman pesawat tempur untuk membantu Arab Saudi, yang berbasis di Pangkalan Udara Turki, Incirlik.

"Ini merupakan bentuk partisipasi hasil Konferensi al Aman di Munich,  bahwa pasukan ini akan berkontribusi dalam upaya internasional untuk menghapuskan ISIS," urai Davutoglu dalam keterangan pers-nya.

Dia menyatakan, bahwa pihaknya bersama Arab Saudi, akan melakukan strategi komprehensif dan terarah, dengan meluncurkan operasi darat di Suriah Utara.

Siapa saja yang mengamati dari awal perjalanan Revolusi Suriah --yang diberkati--, bahwa apa yang dilakukan Arab Saudi dan Turki hakikatnya tidak lepas dari skenario Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, 'Adil Alajabir sendiri menyatakan, bahwa keputusan mengirim pasukan ke Suriah adalah hasil kesepakatan internasional (BBC Arabic 14/02/2016).

Bagi Arab Saudi, operasi militer --atas skenario Amerika ini-- bukan kali pertama. Beberapa waktu lalu, Arab Saudi melaksanakan perintah tuannya Amerika Serikat untuk membentuk aliansi menyerang Yaman, dengan dalih memerangi syi'ah Houthi. Dan sampai detik ini, justru tidak sedikit Suni yang terbunuh, dan Amerika pelan tapi pasti memiliki pengaruh nyata atas tatanan baru politik di Yaman.

Kacaunya, operasi militer ini malah turut didukung negara Turki.

"Karena ini adalah perjuangan kita bersama, maka Arab Saudi juga ingin mengirim pesawat dan bergabung dengan operasi udara", ujar Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, saat Arab Saudi mengirimkan pesawatnya

Rusian Today  menyebutkan bahwa sedikitnya 20 jet tempur Saudi, termasuk pesawat pembom dan jet tempur F-15, telah tiba di Incirlik. Pesawat-pesawat ini melancarkan misi di Suriah di bawah payung koalisi pimpinan Amerika Serikat.

Sejak tahun 2014, Saudi sendiri termasuk bagian dari koalisi internasional memerangi ISIS dibawah pimpinan AS. Koalisi yang dibentuk telah melancarkan ribuan serangan ke Iraq dan Suriah.

Apa yang menjadi alasan dalam memerangi terorisme ISIS adalah sebuah kebohongan. Sesungguhnya alasan yang sama  juga dilakukan Iran dan partainya di Libanon (dalam memerangi Suriah atas  instruksi AS).

Demikian pula dengan serangan udara yang dilakukan oleh Rusia. "Pemaksaan" penarikan pasukan Rusia yang dianggap gagal menumpas ISIS juga sebuah kebohongan dan kamuplase dalam menutupi niat sesungguhnya untuk menerjunkan pasukan Arab Saudi dan Turki.

Faktanya Rusia telah  menyerang rakyat Suriah. Khususnya untuk melemahkan para oposisi revolusioner dari kalangan pemuda-pemuda Suriah, yang dengan ikhlas ingin membebaskan Suriah dari dominasi AS.

Telah terdapat banyak  pernyataan dari lidah petinggi-petinggi AS sendiri, dan pejabat Turki, bahwa 90% dari serangan Rusia tidak menghancurkan ISIS, tetapi menghancurkan perlawanan rakyat Suriah.

Demikian pula dikabarkan, serangan udara Rusia di Suriah nyatanya telah merusak atau menghancurkan setidaknya 19 masjid. Ini merupakan bagian dari kampanye serangan bumi hangus lewat udara, yang tampaknya menargetkan warga sipil serta para pejuang. (usatoday.com, 11/02/2016)

Dari awal, Amerika Serikat memang tidak langsung menggunakan kekuaan fisik di Suriah. Awal revolusi Suriah yang digalakkan Amerika, telah secara fisik dilakukan melalui negara koalisinya, seperti China, Iran, Francis, Inggris, dan terakhir Rusia. Koalisi Amerika Serikat dari negeri-negeri Muslim seperti Arab Saudi, Turki, dan Libanon, difungsikan Amerika untuk menelikung mujahid ke meja perundingan. Hal tersebut dilakukan jika dirasa kekuatan oposisi mujahidin melemah. Bukti peran penguasa Islam tersebut terekam jelas mulai dari konferensi Wina, konferensi Riyadh, dan terakhir di Jeneva 3.

Namun, perang non fisik yang dilakukan oleh negeri muslim ini dirasa Amerika kurang "afdhol". Beberapa kali Obama menyatakan tentang arti pentingnya peran Muslim Suni dalam memerangi "ISIS".

"Amerika Serikat tidak dapat menyingkirkan "ISIS" tanpa partisipasi dari kaum Sunni Irak dan Suriah," kata Obama dalam sebuah wawancara televisi dengan Channel CBS AS.

Apa yang dilakukan oleh penguasa Arab Saudi dan Turki dalam mengerahkan pasukannya, sesungguhnya merupakan serangan yang salah arah. Seharunya apa yang dilakukan oleh Turki dan Arab Saudi adalah menyerang orang-orang Yahudi dari tanah Palestina--yang diberkahi--. Pesawat Arab Saudi tersebut seharusnya membom musuh Islam yang menyerang Muslim di Burma.  Atau langsung diarahkan kepada teoris terbesar dunia, Amerika Serikat.

Sungguh ini merupakan tindakan hina yang sangat memalukan. Turki, yang merupakan ibukota kekhalifahan Islam selama berabad-abad, dan Arab Saudi, penjaga Haramain (Dua Masjid Suci), nyatanya mengarahkan pasukan mereka--atas arahan Amerika Serikat-- ke Syam, akar sejarah Negara Islam. Dan jangan lupa, segala biaya perang --dalam melumpuhkan koalisi mujahidin-- adalah 100 persen ditanggung oleh Arab Saudi dan Turki.

Bagi Arab Saudi, tindakan ikut berperang dalam proyek-proyek perang Amerika, adalah konsekuensi keanggotaan negara ini dalam "Umam Mutahaddidah" (PBB/Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tanggal 24 Oktober 1945.  Hal ini menjadikan Arab Saudi harus "berperan aktif" dalam berbagai proyek Amerika, termasuk perang atas negeri-negeri kaum muslimin. Demikian pula Turki, posisi sebagai anggota NATO juga menyebabkan Turki tidak boleh diam.  "Prestasi" terhebat Arab Saudi dan Turki atas negara-negara yang menyerang umat Islam tersebut adalah sekedar "kecaman dengan mulut".

Kaum muslimin...

Semua ini adalah bukti kesekian kalinya bahwa penguasa Arab Saudi, Turki, dan negeri-negeri  Islam lainnya tidak lebih dari sekedar alat untuk mencapai kepentingan politik Barat.

Ini juga bukti bahwa penguasa negeri-negeri muslim saat ini adalah pengkhianat, yang memiliki ketergantungan yang teramat sangat terhadap Barat, sehingga mereka rela memerangi Islam dan kaum muslimin sendiri.

Semua kehinaan dan tindakan memalukan penguasa negeri-negeri ini, segera akan berakhir saat kaum muslimin melepaskan loyalitas mereka kepada para penguasa pengkhianat. Semua akan terwujud dengan terbitnya fajar Khilafah Islamiyah 'ala Minhaj Nubuwwah. []
Rencana Operasi Darat Arab Saudi dan Turki ke Suriah Salah Sasaran dan Memalukan Rencana Operasi Darat Arab Saudi dan Turki ke Suriah Salah Sasaran dan Memalukan Reviewed by Ahmad Maghfur on 5:09:00 PM Rating: 5