Hizbut Tahrir Banjarbaru Kalsel Gelar Aksi Tuntut Penista Al-Quran yakni Ahok Dihukum



BANUASYARIAH.COM, BANJARBARU - Desakan untuk menghukum penghina Al-Quran juga datang dari Pulau Kalimantan. DPD II Kota Banjarbaru Hizbut Tahrir Indonesia bahkan sempat menggelar aksi tiga hari berturut-turut. Dalam aksinya, mereka menuntut agar penghina Al-Quran yakni Ahok dihukum.

Hari pertama digelar HTI Banjarbaru dengan membentang poster di sejumlah titik di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Banjarbaru. Mereka memajang poster bertuliskan, "Ahok minta maaf? Penghina Al-Quran tetap harus dihukum."

Aksi ini kemudian dilanjutkan di hari ketiga di alun-alun Lapangan Murjani Kota Banjarbaru. Di pusat kota tempat warga berkumpul ini pengurus dan aktifis HTI Banjarbaru juga membentangkan spanduk dengan isi pesan yang sama sambil membagi-bagikan selebaran sikap tegas bagi penghina Al-Quran.

Korlap aksi, Ustadz Mukhlis mengatakan, aksi ini merupakan reaksi ummat muslim dan bentuk keimanan terhadap kitab suci Al-Quran.

Al-Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Setiap Muslim wajib memuliakan dan mensucikan al-Quran. Hal ini telah disepakati oleh para ulama.

"Karena itu siapa saja yang berani menghina al-Quran berarti telah melakukan dosa besar! Jika pelakunya Muslim, dia dihukumi murtad dari Islam. Allah SWT berfirman: Jika kamu bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sungguh, kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kalian selalu menistakan? Kalian tidak perlu meminta maaf karena kalian telah kafir setelah beriman.” ungkapnya mengutip QS at-Taubah [9]: 65-66.

Menurutnya, pelaku yang menistakan Al-Quran juga harus ditindak tegas. "Allah berfirman : Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)-nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, perangilah para pemimpin kaum kafir itu," ungkapnya mengutip QS at-Taubah [9]: 12.

Dalam ayat yang mulia ini, katanya Allah SWT menyebut orang kafir yang mencerca dan melecehkan agama Islam sebagai gembong kafir, alias bukan sekadar kafir biasa. Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas kewajiban untuk memerangi setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir (Lihat: al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 8/84,red).

Karena itu segala bentuk penistaan terhadap Islam dan syiar-syiarnya sama saja dengan ajakan berperang. Pelakunya akan ditindak tegas oleh Khilafah. Seorang Muslim yang melakukan penistaan dihukumi murtad dan dia akan dihukum mati. Jika pelakunya kafir ahludz-dzimmah, dia bisa dikenai ta’ziryang sangat berat; bisa sampai dihukum mati. Jika pelakunya kafir yang tinggal di negara kufur seperti AS, Eropa dan sebagainya, maka Khilafah akan memaklumkan perang terhadap mereka untuk menindak dan membungkam mereka. Dengan begitu, siapapun tidak akan berani melakukan penodaan terhadap kesucian Islam.

Rasulullah saw. sebagai kepala Negara Islam juga pernah memaklumkan perang terhadap Yahudi Bani Qainuqa’—karena telah menodai kehormatan seorang Muslimah—dan mengusir mereka dari Madinah, karena dianggap menodai perjanjian mereka dengan negara. Khalifah al-Mu’tashim pun pernah mengerahkan puluhan ribu pasukan Muslim untuk menindak tegas orang Kristen Romawi yang telah menodai seorang Muslimah. Mereka diperangi hingga sekitar 30 ribu pasukan Kristen tewas dan 30 ribu lainnya berhasil ditawan. Selain itu, wilayah Amuriyah yang sebelumnya dikuasai Romawi jatuh ke tangan kaum Muslim. Tindakan tegas juga ditunjukkan oleh Khilafah Utsmani saat merespon penghinaan kepada Nabi saw. oleh seniman Inggris. Saat itu Khilafah Utsmani mengancam Inggris dengan perang jihad. Akhirnya, mereka pun tak berani berbuat lancang.

Alhasil, keberadaan Khilafah untuk melindungi kesucian dan kehormatan Islam, termasuk kitab suci dan Nabinya, mutlak diperlukan. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd.

Karena itu jika saat ini umat Islam tidak memiliki Khilafah, sementara para penguasa mereka saat ini tidak melakukan tugas dan tanggung jawab untuk membela agama Allah SWT, bahkan berlomba memerangi Allah dan Rasul-Nya demi kerelaan kaum kafir, maka kewajiban umat Islam saat ini adalah menegakkan kembali Khilafah dengan membaiat seorang khalifah. Khilafahlah yang akan menerapkan al-Quran dan as-Sunnah, menegakkan syariah sekaligus menjaga kekayaan, kehormatan dan kemuliaan umat Islam sehingga mereka tidak akan pernah dihinakan lagi. 


"Rasul saw. bersabda: Imam (Khalifah) adalah perisai; rakyat akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya," ujarnya mengutip HR Muslim.

Tanpa Khilafah, al-Quran tidak ada yang melindungi. Penistaan terhadap kitab suci itu akan terus berulang, bahkan di negeri kaum Muslim sendiri, sebagaimana terjadi saat ini. Andai saja Khilafah ada, niscaya penistaan demi penistaan seperti ini tidak akan terjadi. Karena itu sejatinya kita segera bergerak untuk secara bersama-sama mewujudkan kembali perisai/pelindung Islam dan kaum Muslim, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.  (*)

Desakan untuk menghukum penghina Al-Quran juga datang dari Pulau Kalimantan. DPD II Kota Banjarbaru Hizbut Tahrir Indonesia bahkan sempat menggelar aksi tiga hari berturut-turut. Dalam aksinya, mereka menuntut agar penghina Al-Quran yakni Ahok dihukum.

Desakan untuk menghukum penghina Al-Quran juga datang dari Pulau Kalimantan. DPD II Kota Banjarbaru Hizbut Tahrir Indonesia bahkan sempat menggelar aksi tiga hari berturut-turut. Dalam aksinya, mereka menuntut agar penghina Al-Quran yakni Ahok dihukum.


Desakan untuk menghukum penghina Al-Quran juga datang dari Pulau Kalimantan. DPD II Kota Banjarbaru Hizbut Tahrir Indonesia bahkan sempat menggelar aksi tiga hari berturut-turut. Dalam aksinya, mereka menuntut agar penghina Al-Quran yakni Ahok dihukum.

Hizbut Tahrir Banjarbaru Kalsel Gelar Aksi Tuntut Penista Al-Quran yakni Ahok Dihukum Hizbut Tahrir Banjarbaru Kalsel Gelar Aksi Tuntut Penista Al-Quran yakni Ahok Dihukum Reviewed by Admin Admin on 3:40:00 PM Rating: 5