Astaghfirullah..! Bocah 8 Tahun di Banjarmasin Dipalu, Disiram Air Panas Ibunya, Begini Kronologis dan Kisah Lengkapnya

Wajah bocah 8 tahun itu terlihat sayu. Matanya nanar saat memandang petugas yang tengah merayu dengan snack di sampingnya. Namun, pandangan itu hanya sesaat, ia kembali tertunduk sambil perlahan merih bungkusan snack yang sedari tadi didekatkan ke kedua tangannya.  Siapapun yang memandangnya, pastilah sudah bisa menebak, ia tengah menahan rasa sakit yang berkepanjangan.  Rambutnya tampak pitak bekas luka robek akibat hantaman benda tumpul.  Sebagian kulitnya terlihat seperti bekas luka bakar yang sudah lama mengering.  Tak ada yang mengira, jika semua luka dan rasa sakit itu adalah akibat kekejaman sang ibu angkat.

BANUASYARIAH.COM, BANJARMASIN - Wajah bocah 8 tahun itu terlihat sayu. Matanya nanar saat memandang petugas yang tengah merayu dengan snack di sampingnya. Namun, pandangan itu hanya sesaat, ia kembali tertunduk sambil perlahan merih bungkusan snack yang sedari tadi didekatkan ke kedua tangannya.

Siapapun yang memandangnya, pastilah sudah bisa menebak, ia tengah menahan rasa sakit yang berkepanjangan.  Rambutnya tampak pitak bekas luka robek akibat hantaman benda tumpul.  Sebagian kulitnya terlihat seperti bekas luka bakar yang sudah lama mengering.  Tak ada yang mengira, jika semua luka dan rasa sakit itu adalah akibat kekejaman sang ibu angkat.

Ya, apa yang dilakukan Fitria Rahayu (31) kepada anak tirinya sungguh sudah di luar perbuatan seorang manusia. Anak tirinya dihantam pakai palu, dipukul serta disiram air panas. Yang menyedihkan lagi, perbuatan yang tak seharusnya dilakukan seorang ibu ini, telah dilakukannya selama dua tahun terakhir ini.

DA, bocah berusia 8 tahun ini harus menyandang semua kekejian ini selama bertahun-tahun dan tak seorang pun yang mengetahuinya, di rumah kontrakan keluarga itu di jalan Padat Karya Komplek Purnama II, Banjarmasin Utara.

Aksi keji ibu angkat tersebut baru diketahui Rabu 16 November 2016 sekitar pukul 11.00 siang. Saat itu korban melintas di kawasan kompleks, tanpa sengaja bertemu dengan Hidayati (60) tante korban, saudara dari almarhum ibunya, di depan rumahnya.

Hidayati pun langsung memanggil dan memeluk serta terheran melihat wajah dan kepala korban yang terlihat banyak luka. “Iya, Ma (sebutan kepada Hidayati, Red) ini saya,” cerita Hidayati sambil meneteskan air mata menirukan apa yang diucapkan DA seperti dikutip dari laman kalsel.prokal.co.

“Saya kenapa wajahnya seperti itu, tapi dia tidak menjawab. Lalu saya elus kepalanya dia meringis kesakitan. Nah saya panik langsung saya bawa masuk ke dalam rumah,” jelasnya.

Di dalam rumah, Hidayati langsung memeriksa seluruh badan DA. Hidayati tambah kaget setelah mengetahui sekujur badan dan kepalanya mengalami bekas luka melepuh dan memar-memar.

“Saya tanya lagi dia sebabnya tak menjawab dan memilih diam. Lalu dia memilih ingin pulang kerumah,lalu diantar suami saya. Nah setelah diantar pulang dia minta turunkan di depan jalur rumahnya, DA malah kembali dan berlari menuju ke arah suami saya dan dia jadi ketakutan,” ujar Hidayati.

Dari sana, lalu suami Hidayati memutuskan membawa DA ke Kantor Kelurahan dan bersama aparat, disana dia diajak komunikasi. DA akhirnya menceritakan segalanya.

Hidayati mengaku, baru tahu korban tinggal bersama ibu angkatnya meski mereka satu kompleks. Beberapa kali Hidayati bertamu untuk menitip bekal untuk DA, tetapi ibu tirinya selalu mengatakan korban sedang belajar di dalam kamar atau istrahat. Hidayati hanya bisa sampai di luar rumah.

“Bahkan beberapa kali kerumahnya, pemberian saya ditolak. Dia bilang dia dan suaminya sanggup saja membiayai DA dan ini sudah tanggung jawab dia,” tuturnya.

Hidayati mengutuk berat perbuatan pelaku, ia tak terima keponakanya diperlakukan seperti itu. “Dia anak yatim piatu, almarhum mamanya adik bungsu saya. Dia sejak berusia sekitar 3 tahun ditinggalkan kedua orang tuanya,” katanya.

Menurutnya kejadian ini membuat dirinya terpukul. Menyesal, dirinya dan keluarga besarnya memberikan hak asuh di keluarga tersebut.

“Dulu dia diasuh oleh adik saya yang lain, selanjutnya diasuh oleh saudara saya yang lain di Palangkaraya. Nah dari itu si pelaku, meminta dan menyanggupi untuk merawat korban, karena dia tak bisa mendapatkan anak,” cetusnya.

Terpisah Fahridah, istri ketua RT 60 Syaiful Anwar, menceritakan kebetulan dirinya yang mendampingi DA bersama Hidayati (60) melaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polresta Banjarmasin. Pelaku sudah hampir tiga tahun ini menjadi warganya dan rumah yang ditempatinya adalah rumah kontrakan. Sedangkan M Eldi, suaminya jarang di rumah. Dia bekerja di Sei Danau.

Dikatakan Fahridah, pelaku dikenal warga cukup ramah dan supel, bahkan setelah mendengar kejadian ini warga tak menyangka bahwa pelaku ternyata memiliki sifat keji.

“Saya saja merinding mas melihat kondisi tubuh korban, tak tega saya lihatnya. Ada ya seorang perempuan yang saya nilai baik dan ramah, tega menganiaya seorang anak, apalagi dia anak yatim piatu,”ujar Fahridah.

Ditambahkan tetangga seberang rumah korban, DA memang jarang keluar rumah. Keluar pun terkecuali berangkat sekolah dan setelah pulang berdiam didalam rumah saja.

“Saya tahu kalau DA adalah anak angkat, saya sering lihat saudara perempuan yang tua bermain bersama anak di kompleks ini dan dia juga ternyata anak tiri bawaan dari suaminya,” ujarnya yang enggan namanya dikorankan.

Diungkapkanya beberapa bulan lalu, DA pernah masuk dan opname di rumah sakit Ansari Saleh, selama sepuluh hari. “Kami warga di komplek menjenguknya kerumah sakit, pelaku bilang kalau korban mengalami kecelakaan badannya terkena air panas ketika membuat mie,” ujarnya.

Wajah bocah 8 tahun itu terlihat sayu. Matanya nanar saat memandang petugas yang tengah merayu dengan snack di sampingnya. Namun, pandangan itu hanya sesaat, ia kembali tertunduk sambil perlahan merih bungkusan snack yang sedari tadi didekatkan ke kedua tangannya.  Siapapun yang memandangnya, pastilah sudah bisa menebak, ia tengah menahan rasa sakit yang berkepanjangan.  Rambutnya tampak pitak bekas luka robek akibat hantaman benda tumpul.  Sebagian kulitnya terlihat seperti bekas luka bakar yang sudah lama mengering.  Tak ada yang mengira, jika semua luka dan rasa sakit itu adalah akibat kekejaman sang ibu angkat.

Bocah Pintar dan Pendiam

DA, bocah yang menjadi korban penganiayaan  itu ternyata dikenal cukup pintar. Hasil nilai ulangan DA di SD Sungai Andai 1, Jalan Sungai Andai RT 17, Banjarmasin Utara cukup bagus.
Bagaimana keseharian bocah berusia 8 tahun itu?  Selama di sekolah, menurut penuturan mantan wali kelas 1, Noor,   korban dikenal pendiam, tapi cukup cerdas. Nilai Pekerjaan Rumah (PR) atau ulangan pun  bagus. Sehingga wajar kalau DA selalu mendapat rangking di sekolah.
Zakiah menceritakan  selama dirinya menjadi wali kelas di kelas 1,  dia memang sempat menaruh curiga melihat kondisi bocah itu. Bahkan bukan hanya dirinya, tapi guru-guru dan orang tua murid pun sering bertanya-tanya ketika melihat korban berjalan seperti orang kesakitan. Tapi ketika ditanyai, dia selalu memberikan berbagai alasan.  
“Kejadiannya sudah lama, sekitar tahun 2015-2016. Waktu ditanya dia menjawab terkena air panas saat merebus mie, sedangkan lebam di tangan lantaran terjatuh. Saya tidak sampai memeriksa ke seluruh bagian tubuhnya,” tutur Zakia.
Zakiah menuturkan, dulu pernah salah seorang guru di sekolah mengobati luka dibagian kepala DA, tapi korban saat ditanya juga tidak mau mengaku penyebabnya. Dirinya tidak menduga kalau luka itu lantaran bekas penganiayaan ibu angkatnya. Karena selama menjadi wali kelas 1 pada saat itu, hanya satu kali bertemu dengan ibu korban.
“Sekarang korban sudah kelas 2, jadi saya jarang bertemu,” terangnya. Dia baru mengetahui setelah ada pihak kepolisian yang datang ke sekolah dan menanyai guru-guru di sekolah.

Pengakuan Tersangka, si Ibu Kejam
Kesadisan Fitria terhadap anak angkatnya DA memang di luar batas kewajaran. Nalurinya sebagai ibu angkat maupun sebagai perempuan tak mampu membendung amarahnya. Mengapa Fitria tega hingga kalap hati menyiksa DA yang namanya berganti setelah diadopsi Fitria?
Radar Banjarmasin mendapat kesempatan melakukan wawancara langsung dengan Fitria. Ada pengakuan mengejutkan dari Fitria saat ditanya mengapa ia sampai hati menyiram DA dengan air panas.
“Ulun (saya) sering dipukuli suami. Terkadang saya melampiaskan emosi pada DA,” kata Fitria sambil menahan tangis mengingat perlakuan suaminya yang sering menyakitinya. Sebelum menikah dengan suaminya yang sekarang, Fitria mengaku juga sering mendapat perlakuan kasar dari suami pertamanya. “Saya menikah di bawah tangah dengan suami pertama dan yang sekarang ini. Saya sering dipukul suami saya yang dulu dan sekarang,” katanya.
Meski sering disakiti, Fitria mengaku masih sangat sayang dengan suaminya. Rasa sayang itulah yang membuatnya sanggup bertahan meski sering dipukul dan disiksa suaminya. “Ulun sayang karena laki ulun mau menerima keadaan ulun yang tak bisa punya anak,” ujar Fitria.
Ia pun menceritakan, 6 bulan sejak mengadopsi DA, bocah tersebut mulai berubah sikap dan sering membuatnya marah. Fitria yang mengaku memiliki emosi yang tak bisa ditahan mulai memukul dan mencubit DA. “Kalau emosi sering saya cubit dan pukul. Tapi orangnya jarang menangis,” katanya.
Dari mencubit dan memukul, lama kelamaan Fitria mulai menyiksa DA dengan cara yang lebih sadis. Penyiksaan yang dialami DA pun bertubi-tubi. Mulai dipukul dengan palu, disiram air panas, sampai dipelintir hingga tangan kirinya patah.
Suatu hari pernah DA ngompol saat menonton TV. Spontan emosi Fitria meledak dan langsung menarik DA lalu memukul kemaluannya dengan palu. Pukulan itu mengakibatkan bagian luar kemaluan DA membiru dan memar dan robek hingga bagian dalam.
Tak hanya itu, Fitria pernah menyiramkan mi rebus yang sedang mendidih ke bagian belakang tubuh DA hingga melepuh. “Waktu itu saya kesal melihatnya sering keluar masuk dapur,” kata Fitria. Kesadisan lainnya Fitria pernah memukul kepala DA dengan palu hingga darah mengucur deras.
Fitria mengaku seperti hilang kesadaran saat melakukan semua penyiksaan itu. “Saya tak sadar. Emosi saya tak bisa ditahan lagi,” aku Fitria. Penyiksaan yang dilakukan Fitria memang tak pernah terungkap, karena ia mengancam DA untuk tidak menceritakan pada siapapun.
“Saya ancam jangan ceritakan pada keluarganya. Saya bilang kalau menceritakan akan saya tambahi lagi,” ujar Fitria. Menariknya, menurut pengakuan Fitria, DA tak pernah menangis setiap kali dipukul. “Ia hanya sekali pernah minta ampun waktu saya pukul pakai palu di kepala,” cerita Fitria.
Penyiksaan yang dialami DA memang sungguh mengerikan. Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin AKP Arief Prasetya mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan visum luar yang dilakukan di RS Hoegeng Iman Santoso Banjarmasin, terungkap ada 28 luka akibat kekerasan yang dialami DA.
Diantaranya kepala belakang mengalami penonjolan jaringan ikat kulit. Kemudian terjadi pembengkakan kepala sebelah kiri sekitar 4 cm. Kelopak mata kiri atas luka memar disertai pembengkakan menyeluruh.
Selaput bola mata kiri mengalami pendarahan, kelopak mata kiri bawah mengalami memar (merah kebiruan). Pipi kanan dan pipi kiri luka memar dan biru kehitaman. Bahu kanan luka memar kebiruan. Leher, lengan atas, dada, dan perut mengalami sikatrik (relief kulit yang tak normal akibat jaringan yang tak utuh lagi).
Kemudian timbul kumpulan jaringan ikat baru dengan bentuk cekung dan meninggi. Lengan kanan atas mengalami pembengkakan dan penonjolan tulang sekitar 4 cm. Siku kanan atas mengalami penonjolan tulang sekitar 2 cm. “Saat ini Unit PPA terus berusaha mengembalikan kondisi kejiwaan DA yang secara berangsung mulai ceria dan sudah bisa tersenyum kembali,” jelas Arief.
Rencananya DA akan dibawa ke dokter spesialis untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut memastikan kondisi kesehatannya. “Ada luka memar di kemaluannya. Kami akan lakukan pemeriksaan lebih dalam ke dokter spesialis untuk memastikan kondisinya,” kata Arief. (*)
Astaghfirullah..! Bocah 8 Tahun di Banjarmasin Dipalu, Disiram Air Panas Ibunya, Begini Kronologis dan Kisah Lengkapnya Astaghfirullah..! Bocah 8 Tahun di Banjarmasin Dipalu, Disiram Air Panas Ibunya, Begini Kronologis dan Kisah Lengkapnya Reviewed by Banua Syariah on 6:12:00 PM Rating: 5