Majelis Buhuts Al Islamiyah HTI Kalsel; Begini Hukuman Penista Agama Menurut Ulama Ahlussunnah

Kasus dugaan penistaan terhadap Alquran yang membuat jutaan umat Islam berkumpul di Jakarta dalam Aksi Damai Bela Quran, Jumat (4/11) tadi, dibahas dalam majelis Buhuts al Islamiyah, mengangkat tema Aqwalul Ulama Ahlussunnah wal jamaah terkait hukum bagi penista Alquran, Minggu (6/11), di Gedung Dakwah HTI Kalsel di Jln Trikora, Banjarbaru.


BANUASYARIAH.COM, BANJARBARU - Kasus dugaan penistaan terhadap Alquran yang membuat jutaan umat Islam berkumpul di Jakarta dalam Aksi Damai Bela Quran, Jumat (4/11) tadi, dibahas dalam majelis Buhuts al Islamiyah, mengangkat tema Aqwalul Ulama Ahlussunnah wal jamaah terkait hukum bagi penista Alquran, Minggu (6/11), di Gedung Dakwah HTI Kalsel di Jln Trikora, Banjarbaru.

Hadir dalam majelis tersebut, ulama, ustadz dan tokoh umat dari Banjarmasin, Banjarbaru, Pelaihari dan Martapura. Sedangkan pembicara adalah Ustadz M Taufik NT MSi, Ketua Lajnah Tsaqafiyah HTI Kalsel dan DR Mispansyah SH MH, pakar hukum pidana dari Universitas Lambung Mangkurat.

Menurut Taufik, dalam Islam sanksi bagi penista Alquran sangatlah berat. Ia pun menyebut pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini. "Kesimpulannya, bagi seorang muslim yang menghina Alquran hukumnya adalah Murtad dan sanksinya adalah hukuman mati,” ujarnya.

Jika dia non-Muslim Ahli Dzimmah (warga negara), maka dia harus dikenai ta’zir yang sangat berat, bisa dicabut dzimmahnya, hingga sanksi hukuman mati. Sedangkan bagi non-Muslim non-Ahli Dzimmah, maka Khilafah akan membuat perhitungan dengan negaranya, bahkan bisa dijadikan alasan Khalifah untuk memerangi negaranya, dengan alasan menjaga kehormatan dan kepentingan Islam dan kaum Muslim," terangnya.

Mengomentasi kasus dugaan penistaan terhadap surah Al Maidah ayat 51 oleh Gubernur Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (BTP), menurutnya ini hanyalah efek dari tidak adanya pemimpin yang menjadi penjaga umat. "Seperti helm, banyak orang tidak pakai helm kalau tidak ada polisi yang merazia," ujarnya.

Mengomentari sebagian umat Islam yang berpendapat bahwa Rasulullah saja biasa dihina, beliau tidak marah dan sabar. Taufik menjelaskan, Rasulullah juga marah ketika Islam dan hukumnya di hina. Ia menceritakan, ketika ada seorang wanita mencuri dari kalangan orang terpandang. Lalu meminta bantuan sahabat dekat Rasulullah, Usamah bin Zaid untuk meminta keringanan atas hukum Alquran bagi pencuri, yakni dipotong tangannya.

"Maka Rasulullah pun marah dan menyatakan, apakah engkau mau minta keringanan atas hukum Allah. Sesungguhnya hancurnya suatu bangsa, bila orang mulia mencuri tidak dihukum. Tapi bila rakyat jelata dihukum. Demi Allah seandainya Fatimah anak Muhammad mencuri, maka akan kupotong tangannya," ujar Taufik mengutip sebuah hadist.

Sementara itu, DR Mispansyah SH MH menyampaikan analisis hukumnya terkait kasus ini. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh BTP sudah masuk dalam ranah pidana, sesuai pasal 156a KUHP yang isinya Dipidana dengan pidana penjara maksimal 5 tahun, barang siapa dengan sengaja mengeluarkan perasaan atau melakukan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan, terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

"Jadi meskipun dia mengaku tidak berniat untuk menistakan, tapi berdasarkan ilmu pengetahuan, kalimat yang diucapkan itulah yang dikonstruksikan dalam hukum pidana. Karena itu, kita sudah menjadi kesadaran umum, bahwa harus berhati-hati dalam berkata, apalagi bagi seorang pemimpin di depan umum," ujar Mispansyah.

Usai pemaparan materi dan diskusi, acara pun dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap Ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah bersama Hizbut Tahrir Indonesia pada Majelis Buhust al Islamiyah Kalsel oleh Ustadz Abdul Hafizd. Dilanjutkan dengan penandatanganan oleh para peserta. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ketua DPD HTI Kalsel Ust Baihaki. (*)


Kasus dugaan penistaan terhadap Alquran yang membuat jutaan umat Islam berkumpul di Jakarta dalam Aksi Damai Bela Quran, Jumat (4/11) tadi, dibahas dalam majelis Buhuts al Islamiyah, mengangkat tema Aqwalul Ulama Ahlussunnah wal jamaah terkait hukum bagi penista Alquran, Minggu (6/11), di Gedung Dakwah HTI Kalsel di Jln Trikora, Banjarbaru.

Kasus dugaan penistaan terhadap Alquran yang membuat jutaan umat Islam berkumpul di Jakarta dalam Aksi Damai Bela Quran, Jumat (4/11) tadi, dibahas dalam majelis Buhuts al Islamiyah, mengangkat tema Aqwalul Ulama Ahlussunnah wal jamaah terkait hukum bagi penista Alquran, Minggu (6/11), di Gedung Dakwah HTI Kalsel di Jln Trikora, Banjarbaru.

Kasus dugaan penistaan terhadap Alquran yang membuat jutaan umat Islam berkumpul di Jakarta dalam Aksi Damai Bela Quran, Jumat (4/11) tadi, dibahas dalam majelis Buhuts al Islamiyah, mengangkat tema Aqwalul Ulama Ahlussunnah wal jamaah terkait hukum bagi penista Alquran, Minggu (6/11), di Gedung Dakwah HTI Kalsel di Jln Trikora, Banjarbaru.

Kasus dugaan penistaan terhadap Alquran yang membuat jutaan umat Islam berkumpul di Jakarta dalam Aksi Damai Bela Quran, Jumat (4/11) tadi, dibahas dalam majelis Buhuts al Islamiyah, mengangkat tema Aqwalul Ulama Ahlussunnah wal jamaah terkait hukum bagi penista Alquran, Minggu (6/11), di Gedung Dakwah HTI Kalsel di Jln Trikora, Banjarbaru.

Majelis Buhuts Al Islamiyah HTI Kalsel; Begini Hukuman Penista Agama Menurut Ulama Ahlussunnah Majelis Buhuts Al Islamiyah HTI Kalsel; Begini Hukuman Penista Agama Menurut Ulama Ahlussunnah Reviewed by Banua Syariah on 9:17:00 AM Rating: 5