Tabligh Akbar Masirah Panji Rasulullah, HTI Kalsel Teringat Guru Sekumpul

abligh akbar Masirah Panji Rasulullah yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia Kalimantan Selatan di Hotel Golden Tulip Banjarmasin, Minggu (16/4) berjalan lancar. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan hadir pada perhelatan akbar tersebut. Menariknya, salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir, Ustadz H Lutfi Hidayat ternyata keturunan ulama besar Kalimantan Selatan Syeikh Arsyad Al Banjary. Ia memaparkan secara gamblang bagaimana Liberal mencengkram Indonesia dan kenangannya teringat Guru Sekumpul.


BANUASYARIAH.COM, BANJARMASIN – Tabligh akbar Masirah Panji Rasulullah yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia Kalimantan Selatan di Hotel Golden Tulip Banjarmasin, Minggu (16/4) berjalan lancar. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan hadir pada perhelatan akbar tersebut. Menariknya, salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir, Ustadz H Lutfi Hidayat ternyata keturunan ulama besar Kalimantan Selatan Syeikh Arsyad Al Banjary. Ia memaparkan secara gamblang bagaimana Liberal mencengkram Indonesia dan kenangannya teringat Guru Sekumpul.

Dalam paparannya, Ustadz Lutfi mengatakan Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Sumber energy dunia ada di Indonesia, sumber material di dunia ada di Indonesia hingga negeri ini pun digelari Zamrud Khatulistiwa.

Negeri kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa, termasuk Kalimantan. Akan tetapi kekayaan yang begitu melimpah ruah belum dinikmati masyarakat kita secara merata. Karena kekayaan itu dikuasai segelintir orang. Mengapa itu bisa terjadi? Mengapa rakyatnya tak jua sejahtera, hidup tidak aman? Karena Indonesia dicengkram Neo Liberalisme dan Neo Imperialisme.

Neo artinya baru, sedangkan Liberalisme artinya Liberal atau bebas. Sederhananya, neo Liberalisme adalah paham ekonomi yang membebaskan orang mengambil harta, tak kenal aturan. Prinsipnya, Neo Liberalisme sesungguhnya adalah prinsip ekonomi yang dikembangkan untuk menjajah negeri yang penduduknya mayoritas Islam.

Prinsip ekonomi Neo Liberalisme ini menginginkan agar negara tidak banyak berperan dalam ekonomi, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan publik. Bahkan ekonomi Neo Liberal ini menghendaki Negara tidak ikut campur mengurusi hajat hidup orang banyak, semua harus diserahkan kepada swasta. Sehingga jika rakyat menginginkan apapun, harus membayarnya.

Contohnya beber ustadz Luthfi adalah listrik kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat. Dalam Neo Liberalisme, negara hanya memiliki sedikit peran dalam pengelolaan listrik, sehingga tarif listrik pun dibuat sebagaimana hukum ekonomi, negara tidak boleh rugi, harus untung, tidak lagi berfikir bahwa memenuhi kebutuhan rakyat itu adalah tugas negara. Padahal produk listrik itu dijual kepada rakyatnya sendiri. 


Tabligh akbar Masirah Panji Rasulullah yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia Kalimantan Selatan di Hotel Golden Tulip Banjarmasin, Minggu (16/4) berjalan lancar. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan hadir pada perhelatan akbar tersebut. Menariknya, salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir, Ustadz H Lutfi Hidayat ternyata keturunan ulama besar Kalimantan Selatan Syeikh Arsyad Al Banjary. Ia memaparkan secara gamblang bagaimana Liberal mencengkram Indonesia dan kenangannya teringat Guru Sekumpul.

Oleh sebab itu, Neo Liberalisme ini kemudian melahirkan argumentasi bahwa subsidi pendidikan, subsidi listrik, subsidi BBM, subsidi pupuk untuk petani, seolah akan membuat ambruk negara, negara akan rugi jika banyak mensubsidi rakyat. Padahal yang mensubsidi itu sebenarnya juga rakyat. Karena 80 persen pendapatan negara itu diperoleh dari pajak.

“Memang benar yang bayar pajak itu orang kaya. Tapi, anda membeli shampo, sabun ada pajaknya, anda membeli mie instan ada pajaknya, membeli snack ada pajaknya,” beber Ustadz Luthfi

Inilah paham Neo Liberalisme yang ditanamkan negara Barat Amerika ke negeri Islam dengan cara maksakan lewat Undang-undang. Sehingga banyak Undang-undang di negeri ini diubah agar lebih berpihak pada swasta. Negara Barat menjajah negara yang penduduknya mayoritas muslim tidak lagi seperti dahulu lewat penjajahan fisik, namun lewat serangkaian manipulasi peraturan perundang-undangan dan membenarkan paham ekonomi liberal.

“Sekarang dengan peraturan yang sudah diubah itu semakin memudahkan asing menguasai perusahaan-perusahaan BUMN yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Undang-undang (UU) mineral dan batubara, UU Listrik sudah diubah agar asing bisa menguasai dan membangun perusahaan di Indonesia, kekayaan alam pun dikeruk. Contoh, dampak perubahan UU Sumber Daya Air, di Jawa Barat ada Gunung Ciremai dengan deposit 60 triliun, dan sekarang dijual kepada asing.

“Dengan UU itu, kita sering minum Aqua, Danone mereknya. Sekarang Aqua bukan milik Indonesia, milik perusahaan asing, meskipun airnya punya Indonesia,” imbuhnya. “Teh Botol 100 persen milik Unilever perusahaan asing, Indosat, Telkomsel 35 persen dikuasai Singapura,” timpalnya.

Tabligh akbar Masirah Panji Rasulullah yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia Kalimantan Selatan di Hotel Golden Tulip Banjarmasin, Minggu (16/4) berjalan lancar. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan hadir pada perhelatan akbar tersebut. Menariknya, salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir, Ustadz H Lutfi Hidayat ternyata keturunan ulama besar Kalimantan Selatan Syeikh Arsyad Al Banjary. Ia memaparkan secara gamblang bagaimana Liberal mencengkram Indonesia dan kenangannya teringat Guru Sekumpul.

Dampak buruk Neo Liberal ini sangat dirasakan. Pertama, lewat lembaga keuangan dunia seperti WTO, IMF yang memberi pinjaman berbunga (riba) kepada Indonesia. Tahun ini utang Indonesia sudah Rp3. 549 triliun lebih, dan bunganya saja yang harus dibayar sebesar Rp350 triliun per tahun.

Kondisi ini diperparah dengan banyak berpindahnya perusahaan Indonesia. Kekayaan Indonesia pun pindah ke negeri asing dengan swastanisasi. Semua ini sukses dilakukan lewat UU penanaman modal yang pro asing.

Sementara rakyat Indonesia banyak yang miskin, kesenjangan ekonomi semakin terasa, kaya semakin kaya, miskin semakin miskin, maksiat dimana-mana, anak-anak terjerat narkoba, permasalahan semakin komplek. Semua itu tidak akan bisa diselesaikan jika negara semakin mengurangi perannya dalam mengelola hajat hidup orang banyak. Semua itu harus dikelola dengan aturan yang sempurna, dari Dzat yang Maha Sempurna, yakni aturan Islam.

Dalam Islam, kepemilikan diatur antara kepemilikan individu dan umum. Mana yang boleh dimiliki individu dan mana yang tidak boleh. Jika itu berhubungan dengan kebutuhan orang banyak, maka Negara yang harus mengelolanya, bukan Individu atau korporasi asing.

Dalam Islam, kebutuhan hajat hidup orang banyak tidak boleh dikelola secara bebas, harus negara yang mengelolanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Itulah aturan Islam dalam bahasa kitabnya syariat Islam. Aturan ini hanya bisa diterapkan oleh negara dalam wadah Khilafah.

“Saya teringat Guru Sekumpul, kekacauan dunia, persoalan dunia hanya satu penyebabnya, karena tidak memakai aturan yang punya dunia yakni aturan Allah SWT syariat Islam,” pungkasnya. (abah ismail)
Tabligh Akbar Masirah Panji Rasulullah, HTI Kalsel Teringat Guru Sekumpul Tabligh Akbar Masirah Panji Rasulullah, HTI Kalsel Teringat Guru Sekumpul Reviewed by Banua Syariah on 4:52:00 PM Rating: 5